Breaking News
Kamis, 7 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana Sering Ditelepon Presiden Prabowo 

Dadan Hindayana mengungkapkan gaya komunikasi langsung Presiden RI Prabowo Subianto

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Alfons Nedabang
Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden
MAKAN BERGIZI GRATIS - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2025). 

Berikut petikan wawancara bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dengan Tribunnews.com;

Tanya: Ini juga ditunggu-tunggu, apakah bakal ada penambahan satuan lagi untuk melakukan penngawasan, benar-benar mengawasi atau seperti apa?

Jawab: Alhamdulillah sampai sekarang, kemarin waktu rapat sidang Kabinet, saya melaporkan 12.508 SPPG. Hari ini sudah 12.639, jadi 131 lebih banyak  lagi. Nanti kalau malam sudah pasti nambah lagi. Dan alhamdulillah sudah melayani, dapat melayani kurang lebih 3,68 sampai 3,69 juta penerima manfaat. Ini artinya kan baru 40 persen dari total penerima manfaat yang kita targetkan. 

Jadi kita akan terus tambah kecepatan kita, di mana setiap hari kita akan menambah kurang lebih antara 150 sampai 200 satuan penyelenggara gizi. Artinya antara 400 sampai 600 ribu penerima manfaat setiap hari ditambah, agar target kita 82,9 juta dapat dicapai akhir tahun ini atau selambat-lambatnya Februari. 

Sehingga semua target penerima manfaat bisa kita berikan haknya. Karena ini penting sekali untuk menciptakan generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan seriah. 

Berarti kalau ribut-ribut anggaran seperti apa pak? Ini untuk menenangkan masyarakat, karena sepertinya soal anggaran ini menuju akhir tahun justru semakin panas?

Enggak, santai saja. Karena gini, sebetulnya Badan Gizi tahun 2025 secara undang-undang APBN itu kan sudah ditetapkan 71 triliun. Nah, itu sebetulnya yang akan kita gunakan itu.  Di awal tahun itu saya katakan ke Pak Presiden, "Pak, mohon tidak ditambah dulu, karena ada tiga kunci makan bergizi. 

Satu anggaran, yang kedua SDM, yang ketiga infrastruktur." Terus Pak Presiden tanya, "Kapan kamu bisa terima tambahan anggaran?" Saya bilang, "Kalau Agustus siap, Pak." "Kenapa?" "Ya, karena SDM-nya sudah siap. SDM kita ini kan baru selesai 33 ribu itu di 12 Juli 2025, sehingga Agustus kita sudah bisa mempercepat program, sehingga anggaran tambahan itu bisa kita terima." "Terus berapa butuhnya anggaran tambahannya? Biar kita siapkan." 

Kalau saya bilang percepatannya dilakukan dari September, maka akan butuh 100 triliun. Tapi kalau percepatan baru bisa dilakukan di Oktober, maka butuh 75 triliun. 

Kalau percepatan dilakukan November, maka butuhnya 50 triliun. Tapi kalau Desember, ya hanya 25 triliun. Karena dengarnya ada maksimal di 100 triliun, kemudian Bapak alokasikan lah tambahan 100 triliun dan dana itu masih ada di BUN atau di rekeningnya Pak Presiden, belum diberikan. Tapi Pak Presiden sudah siapkan dana itu dan beliau mengerahkan ini kan dari hasil efisiensi. Dan dana itu belum digunakan. 

Setelah berjalan nih, kita bisa prediksi Badan Gizi ini akan menghabiskan yang 71 triliun ditambah dengan percepatan-percepatan, dan kemungkinan besar maksimal kita akan membutuhkan tambahan 28 triliun. Sehingga saya mengatakan, "Pak, yang 70 triliun mungkin tidak kami gunakan." Dan oleh sebab itu, "Oh, kalau gitu bagus, artinya saya masih punya uang." Kemudian tiba-tiba dalam sebuah rapat mengucapkan, "Saya ucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Gizi Nasional karena anggarannya." 

Saya kaget kan, "Bapak kenapa ucapkan terima kasih, itu kan uang yang masih ada di rekening Presiden." "Enggak, kan saya sudah niatkan dialokasikan untuk Badan Gizi. Jadi saya ucapkan terima kasih." Jadi saking concern-nya dengan makan bergizi, jadi uang itu betul-betul disiapkan dan dalam pikirannya mungkin akan digunakan. 

Tapi saya lihat kan tidak mungkin kita bisa menyerap anggaran sebanyak itu. Dan saya tidak ingin melakukan hal lain kecuali intervensi. Dan penyerapan anggaran di Badan Gizi ini sangat mudah dilihat, karena indikatornya adalah jumlah penerima manfaat. 

Jadi kalau jumlah penerima manfaat sekian, bisa kita hitung, anggaran itu akan sekian. Dan itu dicerminkan dengan adanya SPPG. Karena setiap satu SPPG berdiri, maka akan menyerap anggaran antara 900 juta sampai, tergantung daerahnya, sampai 1 M lebih lah. Tergantung, kalau di Papua itu kan 1 bulan bisa 2 M. 

Jadi satu SPPG itu akan menyerap rata-rata lah, itu sekitar 900 juta. Jadi nanti orang bisa ngitung, kalau sekarang ada katakanlah 12.639, dana yang akan terserap satu bulan itu tidak akan lebih dari kurang lebih 12 triliun itu. Jadi saya sudah hitung bahwa sekarang kita akhir bulan mungkin akan mencapai sekitar 14.000. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved