Kamis, 7 Mei 2026

NTT Terkini

Anita Gah Gusar Ribuan Sekolah di NTT Tak Punya Kepsek 

Anita merasa kecewa karena sering menyampaikan berbagai kebutuhan di NTT, namun realitas lapangan justru tidak didukung

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Anggota Komisi X DPR RI Anita Gah ketika memberikan materi dalam Rapat Koordinasi Implementasi Program Kemendikdasmen dan Sinkronisasi Kebijakan Daerah. Senin, (4/5/2026) di Hotel Aston Kupang. 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi X DPR RI Anita Gah gusar lantaran ribuan sekolah di NTT tidak memiliki kepala sekolah (kepsek) defenitif maupun pelaksana tugas (plt)
  • Politikus Demokrat mengatakan, peran kepsek sangat penting. Terutama mendukung pembangunan seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun revitalisasi. Ia sedih dengan kondisi itu

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Anggota Komisi X DPR RI Anita Gah gusar lantaran ribuan sekolah di NTT tidak memiliki kepala sekolah (kepsek) defenitif maupun pelaksana tugas (plt). 

"Ada rasa prihatin dengan apa yang dipaparkan tadi. Masih ada, kita kekurangan kebutuhan guru, tetapi kita juga masih kekurangan Kepala Sekolah. Ini menjadi PR bagi bapak gubernur, dan bapak/ibu bupati," ujarnya, Senin (4/5/2026) di Hotel Aston Kupang dalam Rapat Koordinasi bersama Menteri Dikdasmen RI Abdul Mu'ti dan para Kepala Daerah di NTT. 

Politikus Demokrat mengatakan, peran kepsek sangat penting. Terutama mendukung pembangunan seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun revitalisasi. Ia sedih dengan kondisi itu. 

Anita merasa kecewa karena sering menyampaikan berbagai kebutuhan di NTT, namun realitas lapangan justru tidak didukung dengan keberadaan kepsek sebagai pilar pendukung agar dukungan anggaran APBN bisa masuk ke NTT. 

"Saya boleh kencang disana, anggaran boleh besar, tetapi kalau bapak gubernur dan semua bapak kepala daerah diam, gak bisa juga itu terserap dengan baik. Ini masalah kecil, kepala sekolah, apakah ini tidak penting. Ini berdampak besar," ujarnya. 

Dengan kekosongan itu, maka data sekolah akan buruk. Sementara semua program yang masuk, memerlukan data yang cukup, peran kepsek sangat sentral. 

Ribuan sekolah yang tidak memiliki pemimpin itu, menurut dia, berimplikasi tidak baik. Misalnya, satu sekolah dengan dukungan anggaran APBN Rp 1 miliar, maka NTT kehilangan cukup banyak dukungan anggaran. 

Padahal, Kemendikdasmen dan Komisi X DPR RI selalu beritikad baik untuk Provinsi NTT. Anita mengaku sangat kecewa dengan keadaan tersebut. 

"Pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Karena itu, saya berharap, pertemuan ini tidak sekadar seremonial biasanya. Tetapi bisa menyentuh hati kepala daerah di NTT," ujarnya. 

Baca juga: Anita Gah Sebut Empat Pilar Kebangsaan jadi Fondasi Karakter, Harus Dimulai dari Keluarga

Anita juga meminta agar guru tidak sebatas memiliki sertifikasi. Perlu diikuti dengan kualitas. Apalagi, pada era digital seperti ini guru tidak saja menyampaikan materi pelajaran. Tetapi, guru perlu menguasai teknologi literasi digital. 

Guru, ujar dia, pun harus membimbing anak-anak ditengah arus teknologi. Pelajar membutuhkan pendampingan moral dan keteladanan serta arah yang jelas. Profesional guru harus sejalan dengan kebijakan nyata. 

"Jangan sampai guru dibebani dengan berbagai tuntutan, tetapi tidak memadai. Jangan sampai kita menuntut guru mutu tinggi, sementara fasilitas masih jauh dari harapan," katanya. 

Dia bersyukur karena ada lebih dari 5 ratus sekolah di tahun 2025 dan 800 sekolah di tahun 2026 akan mendapat program revitalisasi. Itu bukan anggaran yang sedikit. Anita ingin Kepala Daerah memperhatikan serius hal itu. 

"Masih ada kok guru yang menangis datang ke saya. Karena dipindahkan dari swasta ke negeri. Padahal, boleh sekarang. Makanya penting pimpinan daerah tahu aturan pendidikan seperti apa," katanya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved