Kamis, 7 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana Sering Ditelepon Presiden Prabowo 

Dadan Hindayana mengungkapkan gaya komunikasi langsung Presiden RI Prabowo Subianto

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Alfons Nedabang
Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden
MAKAN BERGIZI GRATIS - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2025). 

Sehingga di awal November itu kita akan menyerap di 10 hari pertama itu 7 triliun. Nah, kemudian kalau tidak bertambah lagi, maka di November akan terserap 14 triliun. Kalau tidak bertambah lagi sampai Desember, itu kan artinya ada kurang lebih 28 triliun tambahan tuh. Jadi orang bisa ngitung penyerapan di Badan Gizi itu. 

Jadi tidak logis lah kalau jumlah penerima manfaat sekian, kemudian SPPG sekian, kemudian kita menyerap anggaran sampai 171 triliun tuh. Rasanya impossible gitu. Jadi saya pikir makanya kemudian saya akan menyampaikan, "Pak, kami maksimal mungkin hanya bisa menyerap 28 triliun tambahan." 

Jadi kemungkinan besar anggaran di tahun 2025 ini akan kurang lebih sekitar 99 triliun. Nah, tahun depan kita akan butuh dana besar.

Udah nabung duluan berarti pak? 

Bukan, karena dana ini kan digunakan untuk yang lain. Untuk yang tahun 2026 negara sudah siapkan anggaran lainnya, 267 triliun dengan cadangan 67 triliun, sehingga total 334 triliun.  

Tahun depan itu bagi Badan Gizi mudah sekali. Karena kalau akhir tahun ini kita katakanlah bisa melayani 70 juta penerima manfaat, maka mulai dari awal Januari ketika program ini dilaksanakan, setiap hari kita akan menyerap kurang lebih 900 miliar. Jadi mudah sekali itu menghitungnya. 

Nah, kalau kita sudah maksimalkan di 82,9 juta, maka setiap hari akan terserap 1,2 triliun. Jadi masalah penyerapan tahun depan itu bukan isu lagi bagi Badan Gizi. Mungkin yang paling cepat menyerap anggaran tahun depan adalah Badan Gizi Nasional.

Tapi kalau yang sekarang optimis juga penyerapan sampai akhir tahun?

Ya, tentu. Karena gini, penyerapan di Badan Gizi itu identik dengan jumlah penerima manfaat. Nah, itu dicerminkan dengan jumlah SPPG. 

Ada saran kalau misalnya memperdayakan kantin sekolah. Itu Bapak gimana pendapatnya, Pak?

Ya, kami sudah memperdayakan itu. (Tapi) sekolah-sekolah di pedesaan jarang sekali punya kantin. Tapi kita tentu saja terus mendengar aspirasi. Nanti kita akan sama seperti di pesantren? SPPG-nya ada di pesantren. Contohnya di Sunan Drajad, di Lamongan itu. Dia kan ada sekitar 10.000 santri. Itu SPPG-nya ada 3 di pesantren itu, di dalamnya itu. Jadi sudah biasa. 

Dan saya dengar ada sekolah Muhammadiyah yang student body-nya sampai 1.200. Nanti kita akan jadikan kantinnya, SPPG di situ. Untuk sekolah-sekolah lain yang student body-nya tidak terlalu banyak, kita sudah mengeluarkan permintaan kepada SPPG di mana ada kantin sekolah agar kantin sekolahnya dilibatkan minimal membuat satu menu yang aman. 

Semoga evaluasinya bisa direalisasikan lebih baik ya pak?

Program baru ya kan, jadi kita kan sedang melaksanakan ide, membentuk pola, dan kita akan buat sedemikian rupa supaya lebih banyak orang terlibat. Termasuk keterlibatan komite sekolah dalam pengawasan.

Terjadi perubahan tidak di dalam pola napak menjalani aktifitas, karena sekarang diidentikkan dengan makan bergizi? Tapi seperti Bapak sudah hafal, karbo, protein, dll?

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved