Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Petisi 

Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala.  Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN META AI
ILUSTRASI 

Oleh: JB Kleden*

POS-KUPANG.COM - Petisi itu kini bukan lagi milik para penandatangannya.  Ia telah menjelma menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikhianati oleh sejarah. 

Aku berdiri di bawah langit kelabu, sebagai saksi dari suara-suara yang memilih untuk tidak diam. Dalam senyap, aku mendengar semuanya itu. 

Mendung menyelimuti kota bagaikan bidadari menangis di batas cakrawala.  Air matanya jatuh berupa bayang-bayang hitam menutupi lanskap kota. 

Angin bulan Agustus menggesek dinding-dinding tembok yang mengelupas dimakan waktu. 

Dinginnya menggigilkan tubuh. Namun dahiku yang licin mengkilat malah berkeringat. 

Mereka membersamaiku dengan petisi sebagai hadiah bulan kemerdekaan. Dan sialnya petisi itu dengan cepat menjalar seperti api disuluti bensin. 

Ini membuatku marah. Benar-benar marah. Aku menatap setiap sudut dengan kepala terbakar. Petisi telah mengancam reputasiku. Ini sudah seperti terror. 

“Peace through strength” terror harus dilawan dengan pembungkaman melalui penciptaaan ketakutan. 

“Betul saudara ikut petisi?”  aku bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.  Yang ditanya malah balik menatapku tajam menyapu seluruh diriku.  Aku bergidik juga.

“Betul!” jawabnya. 

“Saudara mengerti?” 

“Tidak!” jawabnya ketus

Aku terkejut. “Bagaimana saudara menandatangani sesuatu yang bahkan tidak saudari pahami sendiri?”

“Soalnya aku langsung setuju. Tidak bacapun sudah ingin petisi” 

“Koq bisa begitu?”  

“Ya, karena aku selalu ingin mengingat bos. Dan untuk terus mengingat, harus ada petisi dulu. Tanpa petisi bos akan dilupakan, menjadi bayangan, mengambang di antara waktu yang panjang. Satu lagi, yang terpenting karena aku rindu pada versi diriku sendiri yang percaya bahwa satu tanda tangan bisa mengubah dunia.” 

“Mengubah dunia? Itu mimpi. Jika saudara mendengar sesuatu, jangan percaya begitu saja.” 

“Mungkin hanya mimpi. Tapi jerit orang yang diperlakukan tidak adil biasaya lebih keras membentur langit. Suara kami bisa bos bungkam, tapi gemanya tak bisa bos hentikan. Bos tak perlu cemas. Kami adalah angin yang tahu arah pulang. Petisi cuma interupsi yang membersamai keberadaan kita. Tidak membawa dendam. Petisi hanya membawa suara. Dan suara tidak punya musuh, hanya pendengar dan penyangkal. Bos mau mendengar silahkan. Menyangkal itu juga kemerdekaan!” 

Suaranya retak namun nyaring.  Lalu senyap. 

Senyap adalah bahasa pertama yang diciptakan angin.  Aku merasakan mata-mata yang ada dis ekelilingku itu tidak menatapku, tapi melewatiku begitu saja, seolah aku sudah menjadi sesuatu yang dikenang, bukan sesuatu yang ada untuk dilihat. 

Kemana perginya mata yang dulu melihatku dengan senyum penuh harap itu? 

Siluet senja yang jatuh dari celah-celah mendung, membentuk garis lurus seperti menaburkan kembang cahaya dari angkasa, runtuh seperti emas-emas jatuh. 

Tapi tak sampai di hatiku.  Angin  dingin yang berhembus dari pulau membasuh jiwa, terasa menusuk ubun-ubunku seperti duri yang tersembunyi. 

“Bos tak perlu cemas. Petisi hanya interupsi yang membersamai keberadaan kita. Kami tidak membawa dendam. Kami membawa suara. Dan suara tidak punya musuh, hanya pendengar dan penyangkal.”  

Kata-kata ini seperti membuka kotak pandora dalam jiwaku,  memaksaku melihat bagian diri yang sudah lama kuabaikan. 

Aku mencoba menutup telinga, tapi ternyata suara itu tidak berasal dari luar. Ia menghantam dari dalam, seperti denyut yang tak terkendali. 

Entah itu rasa takut, atau kekecewaan terhadap kenyataan; aku tak bisa menebaknya secara pasti. Dadaku sesak. 

Aku ingin membela diri, tapi apa yang bisa kukatakan? Mungkin perlu juga mendengar suara mereka. 

Bukankah dalam Bumi Manusia, Pram telah menulis “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana”. 

Dan orang-orang waras itu seperti mengejekku. “Kami telah melawan dengan cara kami sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” 

Kenapa aku terlalu naif sekaligus bodoh untuk bisa memahami hal sesederhana itu? 

AKU menghela napas panjang, menatap cakrawala senja yang menjahit luka di jantung langit. 

Warnanya remang, seperti rahasia yang tak pernah terucap. Halaman tengah tempat kami suka bercengkerama berbagi hal-hal kecil tentang pemimpin sebelumnya, kini tampak lengang.  Sebuah kesunyian tanpa bintang. Kesedihan tanpa bulan.

Batang-batang  Angsono masih berjejer kaku seperti penjaga yang begitu setia. Hanya ranting-rantingnya bergoyang pelan, melambai seperti tangan-tangan yang mengejek, mengingatkan pada kata-kataku sendiri yang terus mengadiliku. 

“Kaulah yang memicu gelombang petisi ini dan kau sendirilah yang harus mengakhirinya. Bukankah dulu kau datang dengan janji untuk tidak mengulangi sejarah yang kelam?” 

Suara itu seperti membawa bayangan-bayangan buram yang berdesak-desakan  menyeruak  benakku. 

Berjejal-jejal memenuhi rongga dada hingga terasa sesak.  Kesedihan menggenangi ruang hatiku. Pedih terasa menekan. 

Petisi itu kini bukan lagi milik para penandatangannya.  Petisi itu telah menjelma menjadi milik siapa pun yang pernah merasa dikhianati oleh sejarah. 
Karena ia memiliki sesuatu yang langka: keberanian untuk tidak memaafkan kesewenangan. Dan tak bisa dibungkam kekuasaan. 

Gerimis tiba-tiba menyapa tipis, sebentar saja lalu raib,  seolah langit tak sepenuhnya ingin menangis, tetapi juga tak ingin terlalu bahagia. 

Sekali lagi aku memandang hamparan halaman tengah dengan tatapan kosong. Daun-daun  Angsono berguguran. Berserakan. 

Mungkin daun itu tak pernah ingin jatuh. Mungkin ia cuma ingin lebih lama menatap langit. 

Aku ingat temanku, seorang wartawan foto, yang suka sekali memotret daun-daun yang berguguran. Sebelumnya ia seorang fotografer istana, namun beralih menjadi pengasuh rubrik sastra. 

“Seperti daun-daun hidup yang hanya sibuk berfotosintesis, banyak pemimpin yang hanya ingin tampak memimpin, bukan benar-benar memimpin,” ia memberi alasan berhenti dari jabatan yang diincar banyak wartawan foto.

Suara adzan mengagetkan lamunanku.  Aku mengambil termos kopi dalam tas lalu menuangkan isinya pada tutupan termos. Kopi tanpa gula. 

Aku meminum kopi tanpa gula sebagai gaya hidup. Namun sore ini, aku merasa gula hanya memperhalus pahit yang sebenarnya perlu diterima utuh. 

Matahari sudah mencium batas cakrawala ketika rasa pahit terakhir kuteguk. Malam akan benar-benar turun. 

Tak ada yang bisa memastikan akankah besok matahari akan kembali. Tapi aku masih punya rasa rindu, setidaknya untuk bisa bertemu tanpa henti... (*)

*) JB Kleden, Dosen IAKN Kupang, penikmat sastra.

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News


       

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved