Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan?

Curaçao memang kalah. Tidak ada cara untuk menghindari kenyataan bahwa perbedaan kualitas antara kedua tim masih sangat besar. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Mereka juga merupakan pembawa budaya profesional, pengalaman kompetitif, dan pengetahuan sepak bola modern yang dapat ditransfer kepada pemain lain. Kehadiran mereka dapat mempercepat proses pembelajaran dalam sebuah tim nasional.

Dalam konteks ini, pemain diaspora bukan tujuan akhir. Mereka adalah jembatan menuju peningkatan kualitas yang lebih luas. Tanpa strategi jangka panjang, manfaat tersebut akan sulit dirasakan secara berkelanjutan.

Curaçao tampaknya memahami hal tersebut dengan cukup baik. Mereka tidak hanya mengumpulkan pemain yang memiliki hubungan darah. Mereka juga membangun tim yang mampu mengintegrasikan berbagai latar belakang menjadi identitas bersama yang kuat.

Indonesia memiliki peluang melakukan hal yang sama. Bahkan peluang tersebut bisa lebih besar mengingat jumlah penduduk, sumber daya ekonomi, dan basis pendukung yang jauh lebih besar. Potensi tersebut menjadi modal yang sangat berharga jika dikelola dengan visi yang jelas.

Di sinilah muncul pertanyaan menarik. Mengapa negara dengan populasi kecil dapat mencapai Piala Dunia lebih dahulu dibandingkan negara besar seperti Indonesia. Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana, tetapi sangat penting untuk dipahami.

Sepak bola modern tidak terutama ditentukan oleh jumlah penduduk. Sepak bola modern ditentukan oleh kualitas sistem. Sistem yang baik mampu mengubah potensi menjadi prestasi yang nyata.

Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap populasi besar sebagai jaminan keberhasilan olahraga. Logika tersebut terlihat masuk akal karena semakin banyak penduduk berarti semakin besar kumpulan bakat yang tersedia. 

Namun kenyataan menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu berlaku.
India memiliki populasi lebih dari satu miliar jiwa, tetapi belum menjadi kekuatan sepak bola dunia. 

Sebaliknya, Kroasia dengan populasi yang jauh lebih kecil mampu mencapai final Piala Dunia. Uruguay yang jumlah penduduknya relatif sedikit juga mampu menghasilkan sejarah yang jauh lebih besar dibandingkan banyak negara besar lainnya.

Curaçao menambah daftar contoh tersebut. Mereka tidak memiliki populasi besar dan tidak memiliki sumber daya melimpah. Namun mereka memiliki arah yang jelas dalam pengembangan sepak bola.

Jerman memberikan pelajaran yang sama dalam skala berbeda. Rekor 239 gol yang kini mereka miliki bukan hasil keberuntungan sesaat. Rekor tersebut merupakan hasil dari puluhan tahun investasi dalam pembinaan pemain muda, pendidikan pelatih, pengembangan kompetisi, dan penguatan budaya sepak bola.

Dengan kata lain, Jerman dan Curaçao sebenarnya mengajarkan pelajaran yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran sumber daya yang mereka miliki. Keduanya menunjukkan bahwa kualitas sistem merupakan faktor yang paling menentukan.

Jerman menunjukkan apa yang dapat dicapai sistem yang kuat ketika didukung sumber daya besar. Curaçao menunjukkan apa yang dapat dicapai sistem yang terarah meskipun sumber dayanya terbatas. Dua contoh ini memberikan perspektif yang sama-sama berharga bagi negara berkembang.

Indonesia berada di antara keduanya. Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan Curaçao. Namun Indonesia belum memiliki tingkat konsistensi sistem seperti yang dimiliki Jerman.

Karena itu, pelajaran dari pertandingan ini menjadi sangat relevan. Kita sering terjebak pada obsesi terhadap hasil jangka pendek. Ketika tim nasional menang, muncul optimisme berlebihan, dan ketika tim nasional kalah, muncul pesimisme yang sama besarnya.

Padahal pembangunan sepak bola tidak berlangsung dalam hitungan minggu atau bulan. Pembangunan sepak bola berlangsung dalam hitungan tahun, bahkan dekade. Kesabaran menjadi salah satu elemen yang paling penting dalam proses tersebut.

Jepang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai posisi mereka saat ini. Korea Selatan juga melewati proses serupa dengan investasi berkelanjutan pada pembinaan dan kompetisi. 

Maroko memerlukan puluhan tahun sebelum mampu mencapai semifinal Piala Dunia 2022 dan mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika.

Curaçao mungkin sedang memulai perjalanan yang sama. Skor 1-7 memang akan tercatat dalam arsip statistik. Namun sejarah kemungkinan akan mengingat pertandingan tersebut sebagai malam ketika dunia mulai mengenal Curaçao.

Gol Livano Comenencia ke gawang Manuel Neuer menjadi simbol dari perubahan tersebut. Gol itu tidak mengubah hasil pertandingan dan tidak menghentikan dominasi Jerman

Namun gol tersebut memberi pesan bahwa negara kecil pun dapat meninggalkan jejak di panggung terbesar dunia.

Dalam olahraga, simbol sering kali memiliki kekuatan yang lebih besar daripada angka. Statistik dapat dilupakan seiring berjalannya waktu. Namun simbol mampu menginspirasi generasi berikutnya untuk bermimpi lebih tinggi.

Anak-anak di Curaçao kini memiliki referensi baru. Mereka dapat melihat bahwa pemain dari negara mereka mampu mencetak gol di Piala Dunia. Mereka juga dapat membayangkan diri mereka mengikuti jejak yang sama suatu hari nanti.

Efek psikologis seperti ini sering kali menjadi fondasi awal bagi perkembangan olahraga dalam jangka panjang. Kepercayaan diri kolektif dapat menjadi energi yang mendorong kemajuan generasi berikutnya. Banyak kisah sukses olahraga dunia berawal dari momen simbolik seperti ini.

Indonesia juga membutuhkan simbol-simbol semacam itu. Bukan hanya kemenangan sesaat, tetapi momen yang mampu mengubah cara generasi muda memandang kemungkinan. Momen yang membuat mereka percaya bahwa tampil di panggung dunia bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Pada akhirnya, pertandingan antara Jerman dan Curaçao bukan hanya tentang rekor. Pertandingan tersebut juga bukan hanya tentang tujuh gol. Laga itu adalah kisah tentang dua titik berbeda dalam perjalanan sepak bola dunia.

Di satu sisi terdapat Jerman yang mewakili hasil akhir dari pembangunan sistem yang matang. Di sisi lain terdapat Curaçao yang mewakili harapan, kemungkinan, dan perjalanan yang masih panjang. Kedua kisah tersebut sama-sama penting untuk dipahami.

Jerman menunjukkan ke mana arah yang ingin dituju. Curaçao menunjukkan bahwa perjalanan menuju arah tersebut tetap mungkin dilakukan oleh siapa pun yang memiliki visi dan keberanian. Kombinasi keduanya menghasilkan pelajaran yang sangat berharga.

Bagi Indonesia, mungkin inilah insight terbesar yang dapat diambil dari pertandingan tersebut. Masa depan sepak bola tidak hanya ditentukan oleh negara yang sudah kuat. 

Masa depan sepak bola juga dibentuk oleh negara-negara yang berani mempercayai bahwa mereka memiliki tempat di panggung yang sama.

Curaçao telah membuktikan bahwa pintu menuju panggung dunia tidak lagi tertutup rapat bagi negara kecil. Kini pertanyaannya bukan apakah Indonesia memiliki potensi untuk menyusul. 

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu membangun sistem yang cukup kuat untuk mengubah potensi tersebut menjadi kenyataan.

Jika negara dengan populasi yang jauh lebih kecil mampu mencapai Piala Dunia dan mencetak sejarah, maka alasan untuk meragukan masa depan sepak bola Indonesia menjadi semakin sedikit. Yang dibutuhkan bukan lagi mimpi yang lebih besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun fondasi yang membuat mimpi itu benar-benar dapat diwujudkan. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved