Opini
Opini: Curaçao Sudah Sampai, Indonesia Kapan?
Curaçao memang kalah. Tidak ada cara untuk menghindari kenyataan bahwa perbedaan kualitas antara kedua tim masih sangat besar.
Di sinilah Indonesia memiliki titik temu dengan Curaçao. Kedua negara tidak memiliki warisan Piala Dunia yang besar. Keduanya pernah mengalami periode panjang ketika mimpi tampil di panggung dunia terasa sangat jauh untuk diwujudkan.
Indonesia dan Curaçao juga memiliki kesamaan dalam hal pencarian identitas sepak bola modern.
Keduanya menghadapi tantangan bagaimana memaksimalkan potensi yang ada sambil bersaing dengan negara yang memiliki sistem lebih mapan. Keduanya juga harus berhadapan dengan ekspektasi publik yang sering kali lebih besar daripada hasil yang dicapai.
Namun terdapat satu perbedaan penting yang layak diperhatikan. Curaçao berhasil mengubah keterbatasan menjadi kekuatan yang kompetitif. Indonesia masih terus berupaya melakukan proses yang sama melalui berbagai pembenahan di tingkat nasional.
Jika melihat lebih dalam, keberhasilan Curaçao tidak muncul secara tiba-tiba. Salah satu faktor terpenting adalah kemampuan mereka memanfaatkan hubungan historis dengan Belanda.
Sebagai wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Kerajaan Belanda, Curaçao memperoleh akses terhadap jaringan sepak bola yang jauh lebih luas dibandingkan ukuran negaranya.
Banyak pemain mereka tumbuh di akademi dan kompetisi Belanda. Mereka belajar dalam lingkungan yang menekankan disiplin, taktik, dan profesionalisme.
Ketika kemudian membela tim nasional Curaçao, mereka membawa pengalaman yang tidak tersedia di kompetisi lokal negara kecil tersebut.
Hal ini menghadirkan pelajaran penting bagi Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai memanfaatkan potensi diaspora dan pemain keturunan.
Kebijakan ini sering memunculkan perdebatan, tetapi pengalaman Curaçao menunjukkan bahwa diaspora dapat menjadi aset strategis apabila dikelola dengan benar.
Sebagian pihak melihat diaspora sebagai solusi cepat. Sebagian lain menganggap pendekatan tersebut dapat menghambat pengembangan pemain lokal.
Namun pengalaman Curaçao menunjukkan bahwa perdebatan tersebut sering berada pada level yang kurang tepat.
Pertanyaan yang lebih penting bukan apakah diaspora diperlukan atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memanfaatkan diaspora untuk mempercepat pembangunan sepak bola nasional.
Fokus utama seharusnya terletak pada transfer pengetahuan dan peningkatan standar profesional.
Pemain diaspora tidak boleh dipahami hanya sebagai tambahan kualitas di lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-03.jpg)