Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Mengapa Pendidikan Kita Terus Berubah Tapi Sulit Bertransformasi?

Pendidikan Indonesia mungkin merupakan salah satu sektor yang paling sering mengalami perubahan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS REDY P. JAYA
Petrus Redy Partus Jaya 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua hal yang bernilai dalam pendidikan dapat diterjemahkan ke dalam angka. Ironisnya, ketika sistem terlalu berfokus pada apa yang dapat diukur, perhatian terhadap aspek-aspek kemanusiaan justru semakin menyempit. 

Sebagaimana diingatkan Biesta, dalam budaya pengukuran berlaku logika sederhana: "what gets measured gets done; what doesn't get measured gets ignored." 

Apa yang dapat diukur memperoleh perhatian terbesar, sedangkan apa yang sulit diukur perlahan tersingkir dari perhatian pendidikan. Lambat laun, pendidikan berisiko berubah menjadi proyek pengelolaan capaian, bukan proses pembentukan manusia.

Mengubah Permukaan, Membiarkan Paradigma Tetap Sama

Alasan ketiga, dan mungkin yang paling mendasar, adalah bahwa sebagian besar perubahan pendidikan kita masih berlangsung pada titik ungkit (leverage point) yang relatif dangkal. 

Donella Meadows dalam Thinking in Systems (2008) menjelaskan bahwa perubahan dalam sebuah sistem dapat terjadi pada berbagai tingkat kedalaman. 

Perubahan pada level parameter biasanya menghasilkan perbaikan inkremental, seperti pergantian kurikulum, pembaruan asesmen, atau penambahan indikator mutu. 

Perubahan pada level struktur dapat melahirkan reformasi yang mengubah cara berbagai aktor berinteraksi dalam sistem pendidikan. 

Namun transformasi yang sesungguhnya hanya terjadi ketika paradigma (cara pandang dasar) yang mendasari sistem ikut berubah. 

Jika menggunakan perspektif ini, banyak perubahan pendidikan di Indonesia masih berada pada level parameter. Kita mengubah kurikulum. Kita memperbarui asesmen. Kita menambah indikator. 

Kita mengganti format pelaporan. Kita memperkenalkan istilah baru. Semua itu penting. 

Namun sebagian besar masih menyentuh apa yang tampak di permukaan.Yang jarang disentuh adalah paradigma yang mendasarinya. Paradigma adalah keyakinan terdalam yang menentukan bagaimana sebuah sistem bekerja. 

Paradigma sering tidak terlihat, tetapi justru paling berpengaruh. Jika dicermati, banyak kebijakan pendidikan selama ini dibangun di atas asumsi bahwa pendidikan adalah proses menghasilkan keluaran yang dapat diukur, dikendalikan, dan diprediksi. 

Asumsi inilah yang membuat sekolah mengejar angka. Guru sibuk dengan laporan.

Orang tua cemas terhadap nilai. Dan peserta didik sering merasa dirinya tidak lebih dari kumpulan capaian akademik. Selama paradigma ini tidak berubah, reformasi yang terjadi cenderung hanya menghasilkan versi baru dari praktik yang lama.

Dari Perubahan Menuju Transformasi

Jika diagnosis tersebut tepat, maka tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukanlah menemukan kurikulum baru, asesmen baru, atau indikator baru. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk meninjau kembali asumsi-asumsi yang selama ini dianggap wajar.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
Live
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved