Opini
Opini: Jadilah Manusia!
Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati.
Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya keheningan agar dapat mengenal suara Allah di antara jutaan teriakan digital.
Disermen digital memerlukan kemampuan untuk berhenti sejenak, dan melihat dengan mata hati, melampai kecepatan data yang membuat jiwa lelah.
Untuk dapat mengenal Sabda Allah, sangat dibutuhkan sikap mendengarkan yang radikal. Paus Leo XIV mengajak untuk memandang Maria sebagai model pendengar Sabda yang belajar melihat sejarah dari bawah, dari sudut pandang mereka yang menderita, dan yang membutuh uluran rahmat dari Allah.
Mendengarkan Sabda di era digital berarti memiliki kemampuan untuk membaca kembali tanda-tanda zaman dengan mata iman (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 22).
Weil mengaitkan mendengarkan dengan konsep “perhatian” (attention). Baginya, perhatian adalah bentuk tertinggi dari doa dan satu-satunya cara mengenal kebenaran yang tidak dapat diproduksi oleh kecerdasan buatan.
Weil mengatakan, “Doa berasal dari perhatian. Doa adalah orientasi kepada Tuhan dari seluruh perhatian yang mampu dilakukan oleh jiwa.” (Simone Weil, A la espera de Dios, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 67).
Doa sebetulnya sesungguhnya merupakan sekolah mendengarkan dan tempat melatih perhatian.
Tanpa kemampuan mendengarkan dan etika perhatian, pemeluk agama tidak dapat mendengarkan suara Tuhan, membaca Kitab Suci, merenungkan, dan memberikan testimoni atau kesaksian iman. Itulah keindahan iman.
Iman adalah rahmat Allah yang berasal dari kerja sama antara disposisi batin, mendengarkan, dan perhatian.
Agama tidak mengajarkan agar semua ajaran, dokrin, dan dogma diterima begitu saja tanpa mempelajarinya atau mengkritiknya. Mempelajari agama dan metafisika, bagi Grondin, adalah upaya untuk “membaca kembali” kehidupan dengan penuh perhatian.
Menurut Grondin, “agama lahir dari sebuah ‘pembacaan kembali’ yang saksama dan reflektif terhadap hal-hal ilahi, sebagaimana yang terjadi dalam elegere (memilih), diligere (memperhatikan, mengasihi), dan intellegere (memahami)” (Jean Grondin, La filosofía de la religión, Barcelona: Herder Editorial, 2010, hlm. 95).
Dengan perspektif tersebut, Grondin menggarisbawahi, “dalam kerajaan binatang, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri (transcendence), yang dapat menetapkan cita-cita bagi dirinya sendiri, atau dengan kata lain, yang mampu mengakui adanya suatu makna (sense) dalam eksistensinya.
Dan makna ini tidak lain adalah kemampuan untuk menjalani hidupnya seolah-olah hidup tersebut harus diadili, seolah-seolah kehidupan harus menanggapi suatu panggilan, suatu tuntutan, suatu harapan yang melampaui bestialitas (animality) manusia dan yang mendasari kemanusiaannya─yang kita artikan sebagai kapasitasnya untuk menadi sesuatu yang berbedari sekadar binatang jalang (bestia).
Menjalani hidup seolah-olah ia harus diapresiasi berarti berkomitmen pada makna Kebajikan (the Good), serta mengakui transendensi Kebajikan tersebut dalam kaitannya dengan seluruh konvensi, seluruh kode moral, dan segala bentuk aplikasinya.” (Jean Grondin, Del sentido de la vida, Barcelona, Herder Editorial, 2005, hlm. 23).
Kedagingan manusia, dengan segala kerapuhan, penuaan dan penderitaannya, adalah tempat inkarnasi Allah, tempat Allah menyatakan diri-Nya.
AI tidak bisa menderita, dan karena itu ia tidak bisa mendengarkan, memberikan perhatian, dan mengasihi secara tulus.
Hidup manusia memiliki makna yang melampaui kalkulasi materialistik dan perintah algoritma.
Memahami makna berarti menyadari bahwa kita adalah bagian dari tatanan yang lebih besar yang digerakkan oleh kasih dan perhatian.
Manusia sejati selalu mencari Allah, dan mengenal Fiman-Nya. Di era di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur akibat narasi besar transhumanisme dan posthumanisme, kita dipanggil untuk mengukuhkan kembali martabat kemanusian yang agung.
Paus Leo XIV, di Plaza de Lima di Madrid, menganjurkan lima jalan menuju pengenalan akan Allah: Pertama, kemampuan untuk melakukan disermen: apakah yang berbicara itu sejatinya adalah Allah atau yang lain, seperti gangguan atau penghalang lain.
Jangan sampai kita langsung memutuskan bahwa inilah suara Allah, padahal suara yang kita sendiri ciptakan, imajinasikan, dan hayalkan.
Jangan sampai kita memaksa orang lain agar mengimani suara kita sendiri, bukan suara Allah.
Dalam kaitan dengan ini, Paus Leo XIX “menggarisbawahi signifikasi dari pencarian kebenaran, karena banyak suara dan banyak hal di jejaring sosial yang mengecoh kita serta menyampaikan kebohongan.
Carilah selalu kebenaran! Allah adalah kebenaran! Jika sesuatu menjauhkan Anda dari Allah, maka itu bukanlah kebenaran!”
Kedua, keyakinan bahwa Allah mengenali dengan baik suara kita: Allah mendengarkan kita, dan akan menjawab kita. Paus Leo XIV meminta agar “janganlah takut untuk mengekspresikan apa yang Anda rasakan di dalam hati.
Ada sebuah Mazmur yang menyatakan; ‘Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar?’ (Mzm 94:9)”.
Yesus sendiri berkata: “jika engkau berdoa, masuklah dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mt, 6:6).
Berdoa tidak hanya berarti berbicara dan mengeluh banyak kepada Bapa di surga, tetapi juga melatih diri untuk menciptakan keheningan, mengosongkan diri, memberikan perhatian, mendengarkan Allah. Etika berdoa ini mesti berdampak sosial.
Ketiga, membina sikap mendengarkan. Paus Leo XIV mengatakan bahwa “untuk dapat mengenali Firman Allah, sangatlah esensial untuk mendengarkan Sabda. Sabda Tuhan itu hidup, karena Ia adalah Kristus, yang Sabda-Nya terus bergema di dalam Gereja yang merupakan Tubuh-Nya.
Ia menggenapi seluruh Kitab Suci, teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dianugerahkan kepada umat manusia sebagai keselamatan.” Ini menuntut sikap pelayanan sebagai murid Yesus, karena tak seorang pun manusia dilahirkan sebagai guru.
Iman bukan hanya urusan pribadi dengan Allah, melainkan ada-bersama, tinggal, hidup, dan berkomunikasi dengan yang lain.
Keempat, merdeka di dalam Kristus. Paus Leo XIV mengungkapkan bagaimana “Kristus telah membebaskan kita dengan kasih-Nya. Berkat kasih ini, kita senantiasa merdeka di hadapan segala bentuk koersi, dan muslihat.
Kita merdeka dari tren-tren zaman, karena kita adalah murid-murid dari kebenaran; kita terbuka terhadap masa depan, karena kita tahu bahwa bukanlah kematian yang menanti kita.
Sebaliknya, makna dari sejarah berpuncak pada komuni kehidupan kekal yang dipersiapkan Allah bagi semua orang.”
Kelima, jadi manusia. Paus Leo XIV menekankan agar kita semua melampaui perintah algoritma dan AI, yakni menjadi manusia “laki-laki dan perempuan yang berdaging dan berdarah. Bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan wajah-wajah yang terpercaya.
Pribadi-pribadi yang mengupayakan keadilan karena lapar akan keadilan tersebut seperti roti sehari-hari.
Pribadi-pribadi yang mendambakan suckacita melakukan kepada orang lain apa yang mereka inginkan orang lain kakukan kepada mereka.
Jadilah manusia sebagaimana Kristus, sungguh manusia (Homo Perfectus), Ia yang bangkit dan mengambil bagian dalam sejarah bersama kita di sepanjang masa.”
Menurut Grondin, “hidup yang dirasakan ini, hidup yang bijaksana, yang memiliki rasa dan makna, adalah harapan luhur dari homo sapiens” (Jean Grondin, Ensayo sobre el sentido de la vida, hlm. 157).
Menjadi manusia yang berdaging dan berdarah berarti mengakui kesakralan dalam setiap individu, suatu kesakralan yang menuntuk rasa hormat tanpa syarat, kasih tanpa kepentingan pribadi, dan perhatian tanpa kriteria.
Kemanusiaan sejati ditemukan dalam kemampuan untuk menderita bersama sesama, dan memandang dunia sebagai cermin keindahan Ilahi (bdk. Roma 12: 9-21). Menjadi murid Kristus di era algoritma berarti memilih ketaatan pada kebenaran di atas kenyamanan arus informasi.
Kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk memilih apa pun tanpa batas, melainkan kemampuan untuk menaati hukum kasih Tuhan.
Ketataan pada Tuhan adalah satu-satunya hal yang membebaskan manusia dari ketaatan buta pada AI. Pemazmur berseru: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan dating pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm 121:1-2).
Bersama Rasul Paulus, kita bertekuk lutut dan menengadahkan kepala kepada Allah Bapa yang telah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus yang “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp, 2:7-8), “… yang dari pada-Nya semua turunan yang ada di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” (Ef 3:14-15).
Nama pertolongan kita adalah Yesus Kristus, “itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam segala nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristusadalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp, 2:9-11).
Tindakan Kristus yang dengan sukarela mengosongkan dan merendahkan diriNya, dan menjadi manusia demi menyelamatkan manusia ini dapat disebut sebagai teologi pengosongan diri (Kenosis).
Tindakan perendahan diri Yesus ini mesti ditanggapi oleh manusia dengan teologi bertekuk lutut sebagai tindakan pengosongan egor agar rahmat Allah bisa bekerja di dalam diri manusia, mengakui bahwa Allah adalah kedaulatan tertinggi, dan karena itu manusia harus bersujud di hadapan misteriIlahi.
AI tidak membutuh keselamatan, dan tidak mempunyai kerinduan eksistensial akan keselamatan abadi. AI mungkin bisa memberikan jawaban teknis, tetapi tidak bisa bergulat dengan pertanyaan eksistensial.
Manusia adalah tempat di mana pertanyaan tentang makna hidup diajukan, dianalisis, dibicarakan, dan diperjuangkan.
Menjadi manusia sejati berarti menyadari ontologi-antropologisnya dengan segala misterinya: bahwa ia berasal dari Allah, tinggal di dalam bumi yang diciptakan Allah, hidup bersama dengan karya tangan Allah, dan akan kembali kepada persekutuan kasih dengan-Nya.
AI tidak mempunyai rahmat, tidak mempunyai darah untuk menyucikan dosa-dosa kita, dan seperti nenek moyang kita, AI tidak bisa membangkitkan badan. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Opini Pos Kupang
Melki Deni
Paus Leo XIV
Paus Leo
Magnifica Humanitas
ensiklik
kecerdasan buatan
etika kecerdasan buatan
Artificial Intelligence
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
| Opini - Kemiskinan di NTT sebagai Tantangan Pastoral: Perspektif Teologi Kontekstual |
|
|---|
| Opini: Rajin Olahraga tetapi Kena Diabetes? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)