Opini
Opini: Jadilah Manusia!
Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati.
Kekuasaan politik kini tidak lagi hanya berada di tangan negara, tetapi telah berpindah ke tangan aktor-aktir swasta transnasional yang memiliki infrastruktur data.
Hal ini tentu menciptakan risiko teknofasisme terselubung, di mana kontrol sosial dilakukan bukan melalu kekerasan fisik, melainkan manipulasi algoritma dan pengawasan yang tak terlihat (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 102).
Kekuasaan telah menjadi milik pribadi, transnasional, buram, dan ditopang oleh infrastruktur, data, serta algoritma yang sangat sedikit orang pahami dan bahkan lebih sedikit lagi yang mengontrolnya.
Grondin menegaskan bahwa “kita adalah makhluk yang memiliki kesadaran (sentient)… Apa yang kita rasakan adalah makna (sense) dari segala hal (atau ketiadaannya), “kebajikan” (goodness), keindahan, serta intelegensinya (di mana beberapa manifestasi privatnya adalah kejahatan dan kebebalan.
Bagaimana mungkin kita dapat membicarakan hal tersebut jika kebajikan dan intelegensi tidak diandaikan terlebih dahulu?)…
Keselarasan antara Ada (being) dan intelek ─secara singkat, kebenaran─ merupakan suatu ciri dari Ada itu sendiri, sebelum ia bertransformasi menjadi suatu ciri dari pemahaman kita pada saat kita berupaya keras untuk memahami makna dari segala hal secara memadai…
Pemikiran e sensu rerum (dari rasa atau pengindraan atas segala hal) di sini digantikan oleh argumen e intelligentia rerum (dari inteligensi atau kecerdasan segal hal)”. (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 45).
Media sosial, yang sering kali menjadi “media sial” karena kemampuannya menyebarkan disinformasi dan polarisasi sosial, telah menghancurkan kemampuan manusia memberika perhatian murni.
Kebenaran bukan sekadar informasi yang benar secara faktual, melainkan sebuah kebutuhan jiwa yang paling kudus. Weil menegaskan bahwa, “Kebutuhan akan kebenaran adalah yang paling kudus dari semuanya.
Namun, hal itu tidak pernah dibicarakan. Ketika seseorang menyadari jumlah dan besarnya kepalsuan material yang dipaparkan tanpa rasa malu bahkan dalam buku buntut penulis paling terkemuka, membaca pun menjadi menakutkan. ” (Simone Weil, Echar raíces, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 48).
Dalam konteks AI, Paus Leo XIV melihat kebenaran adalah “kebaikan bersama”. Demokrasi terancam ketika warga negara tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan fiksi karena manipulasi algoritmik.
Teknofasisme muncul ketika kebenaran dianggap sebagai terotorium yang harus dikuasai untuk kepentingan kekuasaan politik, bukan sebagai pijar cahaya yang memerdekakkan.
Grondin menambahkan dimensi hermeneutis dalam pencarian kebenaran ini. Bagi Grondin, kebenaran adalah adquetio (kesesuaian) antara intelek dan realitas benda.
AI hanya dapat mensimulasikan kecerdasan, tetapi tidak dapat memiliki “intuisi” atau “bau” (odor) akan kebenaran, karena ia tidak memiliki raga dan pengalaman hidup.
Grondin menulis, “pengetahuan yang mengaku benar ‘mengarahkan diri’ menuju realitas, kedalamannya, dan berupaya keras untuk mencapainya” (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 152).
Opini Pos Kupang
Melki Deni
Paus Leo XIV
Paus Leo
Magnifica Humanitas
ensiklik
kecerdasan buatan
etika kecerdasan buatan
Artificial Intelligence
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
| Opini - Kemiskinan di NTT sebagai Tantangan Pastoral: Perspektif Teologi Kontekstual |
|
|---|
| Opini: Rajin Olahraga tetapi Kena Diabetes? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)