Senin, 15 Juni 2026

Opini

Opini: Jadilah Manusia!

Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Kekuasaan politik kini tidak lagi hanya berada di tangan negara, tetapi  telah berpindah ke tangan aktor-aktir swasta transnasional yang memiliki infrastruktur data. 

Hal ini tentu menciptakan risiko teknofasisme terselubung, di mana kontrol sosial dilakukan bukan melalu kekerasan fisik, melainkan manipulasi algoritma dan pengawasan yang tak terlihat (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 102).

Kekuasaan telah menjadi milik pribadi, transnasional, buram, dan ditopang oleh infrastruktur, data, serta algoritma yang sangat sedikit orang pahami dan bahkan lebih sedikit lagi yang mengontrolnya. 

Grondin menegaskan bahwa “kita adalah makhluk yang memiliki kesadaran (sentient)… Apa yang kita rasakan adalah makna (sense) dari segala hal (atau ketiadaannya), “kebajikan” (goodness), keindahan, serta intelegensinya (di mana beberapa manifestasi privatnya adalah kejahatan dan kebebalan.

Bagaimana mungkin kita dapat membicarakan hal tersebut jika kebajikan dan intelegensi tidak diandaikan terlebih dahulu?)… 

Keselarasan antara Ada (being) dan intelek ─secara singkat, kebenaran─ merupakan suatu ciri dari Ada itu sendiri, sebelum ia bertransformasi menjadi suatu ciri dari pemahaman kita pada saat kita berupaya keras untuk memahami makna dari segala hal secara memadai… 

Pemikiran e sensu rerum (dari rasa atau pengindraan atas segala hal) di sini digantikan oleh argumen e intelligentia rerum (dari inteligensi atau kecerdasan segal hal)”. (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 45).

Media sosial, yang sering kali menjadi “media sial” karena kemampuannya menyebarkan disinformasi dan polarisasi sosial, telah menghancurkan kemampuan manusia memberika perhatian murni. 

Kebenaran bukan sekadar informasi yang benar secara faktual, melainkan sebuah kebutuhan jiwa yang paling kudus. Weil menegaskan bahwa, “Kebutuhan akan kebenaran adalah yang paling kudus dari semuanya. 

Namun, hal itu tidak pernah dibicarakan. Ketika seseorang menyadari jumlah dan besarnya kepalsuan material yang dipaparkan tanpa rasa malu bahkan dalam buku buntut penulis paling terkemuka, membaca pun menjadi menakutkan. ” (Simone Weil, Echar raíces, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 48).

Dalam konteks AI, Paus Leo XIV melihat kebenaran adalah “kebaikan bersama”. Demokrasi terancam ketika warga negara tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan fiksi karena manipulasi algoritmik. 

Teknofasisme muncul ketika kebenaran dianggap sebagai terotorium yang harus dikuasai untuk kepentingan kekuasaan politik, bukan sebagai pijar cahaya yang memerdekakkan.

Grondin menambahkan dimensi hermeneutis dalam pencarian kebenaran ini. Bagi Grondin, kebenaran adalah adquetio (kesesuaian) antara intelek dan realitas benda. 

AI hanya dapat mensimulasikan kecerdasan, tetapi tidak dapat memiliki “intuisi” atau “bau” (odor) akan kebenaran, karena ia tidak memiliki raga dan pengalaman hidup.

Grondin menulis, “pengetahuan yang mengaku benar ‘mengarahkan diri’ menuju realitas, kedalamannya, dan berupaya keras untuk mencapainya” (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 152).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved