Opini
Opini: Jadilah Manusia!
Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati.
Dan untuk melawan budaya kekuasaan yang opresif, Paus Leo XIV mempromosikan “peradaban kasih”.
Peradaban ini dibangun di atas fondasi keadilan sosial, di mana teknologi digunakan untuk melayani mereka yang paling rentan, bukan untuk menciptakan “budaya pembuangan” atau penghancuran bagi yang lain.
Dalam kaitan dengan persoalan kebenaran yang diproduksi dan direkayasa oleh AI dan media sosial ini, Paus Leo XIV menyerukan untuk “melucuti” kecerdasan buatan.
Paus Leo XIV menyatakan, “melucuti AI berarti menariknya keluar dari logika kompetisi persenjataan, yang saat ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan kognitif” (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no.110).
Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan melepaskan dari logika kompetisi persenjataan, baik militer, ekonomi, maupun kognitf. AI tidak boleh menjadi instrumen dominasi dan kematian.
Melucuti AI merupakan konsekuensi dari pertanyaan eksistensial terkait dengan keberadaan manusia.
Bagi Weil, tujuan tunggal keberadaan manusia adalah “pengorbanan” sebagai bentuk bentuk ketaatan tertinggi kepada Tuhan (Simone Weil, Intuiciones precristianas, Madrid: Editorial Trotta, 2004, hlm. 189).
Kita berada di sini untuk belajar melepaskan ego kita agar cahaya Tuhan dapat menembus dunia melalui diri kita. Tujuan hidup kita adalah bagi sesama, terutama mereka yang menderita.
Menurut, Byung-Chul Han, kita berada di sini untuk “menemukan kembali yang lain” yang telah diusir dari kecenderungan digital yang narsistik.
Tujuan kita adalah melampaui diri menuju “Wajah Sesama” yang memberikan pada hidup kita: Han menulis, “Smartphone mewakili devosi digital.
Saat kita menekan ‘Like’, kita menundukkan diri pada tatanan dominasi” (Byung-Chul Han, Psychopolitics: Neoliberalism and Technologies of Power, London: Verso, 2017, hlm. 13).
Di tengah kebisingan media sosial, keheningan menjadi perlawanan spiritual yang paling efektif.
Weil memandang keheningan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai kehadiran Allah yang paling murni. Sabda Allah, menurut Weil, adalah keheningan itu sendiri.
Hanya dalam keheningan manusia dapat melakukan disermen yang sejati. Weil menulis dengan penuh mistik, “Sabda Allah adalah keheningan.
Sabda rahasia dari kasih Allah tidak dapat berupa apa pun selain keheningan. Kristus adalah keheningan Allah.” (Simone Weil, Pensamientos desordenados, Madrid: Editorial Trotta, 1995, hlm. 89).
Opini Pos Kupang
Melki Deni
Paus Leo XIV
Paus Leo
Magnifica Humanitas
ensiklik
kecerdasan buatan
etika kecerdasan buatan
Artificial Intelligence
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
| Opini - Kemiskinan di NTT sebagai Tantangan Pastoral: Perspektif Teologi Kontekstual |
|
|---|
| Opini: Rajin Olahraga tetapi Kena Diabetes? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)