Senin, 15 Juni 2026

Opini

Opini: Jadilah Manusia!

Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Sekitar setengah juta lebih orang dari berbagai keuskupan berjalan menuju Paseo de la Castellana di Madrid, Spanyol, untuk “berjaga-jaga” ( vigilia) dengan Paus Leo XIV pada Sabtu, 6 Juni 2026. 

Beberapa teman dan saya dalam satu grup Serikat Sabda Allah (SVD) keluar dari Taman Isabel II sekitar jam 4 sore menuju Paseo de la Castellana, tepatnya di zona C22. 

Kami bernyanyi, dan berbincang-bincang di dalam perjalanan tanpa peduli dengan terik matahari dan udara panas musim panas Eropa yang menggerahkan. 

Di sana, kami menyaksikan konser musik rohani, teater, testimoni iman dan pengalaman rohani dari beberapa orang. Yang paling dinantikan adalah diskursus dari Paus Leo XIV, dan adorasi bersamanya. 

Paus Leo XIV, di bawah moto “Alza la mirada” (Tengadakanlah pandanganmu!) dari Yohanes 4:35, berbicara tentang darurat martabat manusia di tengah kemajuan teknologi, krisis keadilan, dan masalah peperangan.

Baca juga: Opini: Membumikan Ensiklik Magnifica Humanitas di Tengah Badai Penipuan AI di NTT

Dunia kita sedang mengalami guncangan fundamental tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga struktur terdalam eksistensi manusia. 

Kondisi ini menyebabkan kita berada di persimpangan antara pembangunan martabat sejati atau penghancuran diri melalui teknologi (autoekploitasi). 

Kita saat ini sibuk menundukkan kepala bukan untuk berdoa, atau berpikir, melainkan melihat dunia yang diperkecilkan pada layar ponsel pintar. 

Kita sedang kehilangan kemampuan bertekuk lutut, menciptakan keheningan, menengadahkan kepala (bersujud menyembah), menerima rahmat demi rahmat dari Allah.

Di tengah hiruk-pikuk algoritma dan determinisme digital, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali kepada hakikat kemanusian sejati. 

Dengan melakukan sintesis pemikiran Paus Leo XV tentang etika digital, filsafat perhatian Simone Weil (1909–1943), dan hermeneutika makna Jean Grondin (1955-), kita dapat memetakan navigasi moral bagi manusia yang hidup di bawah bayang-bayang Kecerdasan Buatan (AI) dan media sosial.

Paus Leo XIV menggunakan dua citra alkitabiah untuk menggambarkan kondisi teknologi saat ini: Menara Babel (Kej 11:1-9) dan pembangunan Kembali tembok Yerusalem oleh Nehemia (Neh 1-6). 

AI dan media sosial sering kali dibangun dengan semangat Babel, sebuah ambisi otonom yang ingin “menyamai Tuhan”, namun berakhir pada kebingungan bahasa, alienasi sosial, dan eksploitasi digital (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, Kota Vatikan: Librería Editrice Vaticana, 2026, no. 7-10).

Dalam pandangan Paus Leo XIV, teknologi digital saat ini telah menciptakan “paradigma teknokratis” yang cenderung mereduksi manusia menjadi sekadar data.

Kekuasaan politik kini tidak lagi hanya berada di tangan negara, tetapi  telah berpindah ke tangan aktor-aktir swasta transnasional yang memiliki infrastruktur data. 

Hal ini tentu menciptakan risiko teknofasisme terselubung, di mana kontrol sosial dilakukan bukan melalu kekerasan fisik, melainkan manipulasi algoritma dan pengawasan yang tak terlihat (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 102).

Kekuasaan telah menjadi milik pribadi, transnasional, buram, dan ditopang oleh infrastruktur, data, serta algoritma yang sangat sedikit orang pahami dan bahkan lebih sedikit lagi yang mengontrolnya. 

Grondin menegaskan bahwa “kita adalah makhluk yang memiliki kesadaran (sentient)… Apa yang kita rasakan adalah makna (sense) dari segala hal (atau ketiadaannya), “kebajikan” (goodness), keindahan, serta intelegensinya (di mana beberapa manifestasi privatnya adalah kejahatan dan kebebalan.

Bagaimana mungkin kita dapat membicarakan hal tersebut jika kebajikan dan intelegensi tidak diandaikan terlebih dahulu?)… 

Keselarasan antara Ada (being) dan intelek ─secara singkat, kebenaran─ merupakan suatu ciri dari Ada itu sendiri, sebelum ia bertransformasi menjadi suatu ciri dari pemahaman kita pada saat kita berupaya keras untuk memahami makna dari segala hal secara memadai… 

Pemikiran e sensu rerum (dari rasa atau pengindraan atas segala hal) di sini digantikan oleh argumen e intelligentia rerum (dari inteligensi atau kecerdasan segal hal)”. (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 45).

Media sosial, yang sering kali menjadi “media sial” karena kemampuannya menyebarkan disinformasi dan polarisasi sosial, telah menghancurkan kemampuan manusia memberika perhatian murni. 

Kebenaran bukan sekadar informasi yang benar secara faktual, melainkan sebuah kebutuhan jiwa yang paling kudus. Weil menegaskan bahwa, “Kebutuhan akan kebenaran adalah yang paling kudus dari semuanya. 

Namun, hal itu tidak pernah dibicarakan. Ketika seseorang menyadari jumlah dan besarnya kepalsuan material yang dipaparkan tanpa rasa malu bahkan dalam buku buntut penulis paling terkemuka, membaca pun menjadi menakutkan. ” (Simone Weil, Echar raíces, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 48).

Dalam konteks AI, Paus Leo XIV melihat kebenaran adalah “kebaikan bersama”. Demokrasi terancam ketika warga negara tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan fiksi karena manipulasi algoritmik. 

Teknofasisme muncul ketika kebenaran dianggap sebagai terotorium yang harus dikuasai untuk kepentingan kekuasaan politik, bukan sebagai pijar cahaya yang memerdekakkan.

Grondin menambahkan dimensi hermeneutis dalam pencarian kebenaran ini. Bagi Grondin, kebenaran adalah adquetio (kesesuaian) antara intelek dan realitas benda. 

AI hanya dapat mensimulasikan kecerdasan, tetapi tidak dapat memiliki “intuisi” atau “bau” (odor) akan kebenaran, karena ia tidak memiliki raga dan pengalaman hidup.

Grondin menulis, “pengetahuan yang mengaku benar ‘mengarahkan diri’ menuju realitas, kedalamannya, dan berupaya keras untuk mencapainya” (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 152).

Dan untuk melawan budaya kekuasaan yang opresif, Paus Leo XIV mempromosikan “peradaban kasih”. 

Peradaban ini dibangun di atas fondasi keadilan sosial, di mana teknologi digunakan untuk melayani mereka yang paling rentan, bukan untuk menciptakan “budaya pembuangan” atau penghancuran bagi yang lain. 

Dalam kaitan dengan persoalan kebenaran yang diproduksi dan direkayasa oleh AI dan media sosial ini, Paus Leo XIV menyerukan untuk “melucuti” kecerdasan buatan

Paus Leo XIV menyatakan, “melucuti AI berarti menariknya keluar dari logika kompetisi persenjataan, yang saat ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan kognitif” (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no.110). 

Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan melepaskan dari logika kompetisi persenjataan, baik militer, ekonomi, maupun kognitf. AI tidak boleh menjadi instrumen dominasi dan kematian.

Melucuti AI merupakan konsekuensi dari pertanyaan eksistensial terkait dengan keberadaan manusia. 

Bagi Weil, tujuan tunggal keberadaan manusia adalah “pengorbanan” sebagai bentuk bentuk ketaatan tertinggi kepada Tuhan (Simone Weil, Intuiciones precristianas, Madrid: Editorial Trotta, 2004, hlm. 189). 

Kita berada di sini untuk belajar melepaskan ego kita agar cahaya Tuhan dapat menembus dunia melalui diri kita. Tujuan hidup kita adalah bagi sesama, terutama mereka yang menderita.

Menurut, Byung-Chul Han, kita berada di sini untuk “menemukan kembali yang lain” yang telah diusir dari kecenderungan digital yang narsistik. 

Tujuan kita adalah melampaui diri menuju “Wajah Sesama” yang memberikan pada hidup kita: Han menulis, “Smartphone mewakili devosi digital. 

Saat kita menekan ‘Like’, kita menundukkan diri pada tatanan dominasi” (Byung-Chul Han, Psychopolitics: Neoliberalism and Technologies of Power, London: Verso, 2017, hlm. 13).

Di tengah kebisingan media sosial, keheningan menjadi perlawanan spiritual yang paling efektif. 

Weil memandang keheningan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai kehadiran Allah yang paling murni. Sabda Allah, menurut Weil, adalah keheningan itu sendiri. 

Hanya dalam keheningan manusia dapat melakukan disermen yang sejati. Weil menulis dengan penuh mistik, “Sabda Allah adalah keheningan. 

Sabda rahasia dari kasih Allah tidak dapat berupa apa pun selain keheningan. Kristus adalah keheningan Allah.” (Simone Weil, Pensamientos desordenados, Madrid: Editorial Trotta, 1995, hlm. 89).

Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya keheningan agar dapat mengenal suara Allah di antara jutaan teriakan digital. 

Disermen digital memerlukan kemampuan untuk berhenti sejenak, dan melihat dengan mata hati, melampai kecepatan data yang membuat jiwa lelah. 

Untuk dapat mengenal Sabda Allah, sangat dibutuhkan sikap mendengarkan yang radikal. Paus Leo XIV mengajak untuk memandang Maria sebagai model pendengar Sabda yang belajar melihat sejarah dari bawah, dari sudut pandang mereka yang menderita, dan yang membutuh uluran rahmat dari Allah. 

Mendengarkan Sabda di era digital berarti memiliki kemampuan untuk membaca kembali tanda-tanda zaman dengan mata iman (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 22).

Weil mengaitkan mendengarkan dengan konsep “perhatian” (attention). Baginya, perhatian adalah bentuk tertinggi dari doa dan satu-satunya cara mengenal kebenaran yang tidak dapat diproduksi oleh kecerdasan buatan

Weil mengatakan, “Doa berasal dari perhatian. Doa adalah orientasi kepada Tuhan dari seluruh perhatian yang mampu dilakukan oleh jiwa.” (Simone Weil, A la espera de Dios, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 67). 

Doa sebetulnya sesungguhnya merupakan sekolah mendengarkan dan tempat melatih perhatian. 

Tanpa kemampuan mendengarkan dan etika perhatian, pemeluk agama tidak dapat mendengarkan suara Tuhan, membaca Kitab Suci, merenungkan, dan memberikan testimoni atau kesaksian iman. Itulah keindahan iman.

Iman adalah rahmat Allah yang berasal dari kerja sama antara disposisi batin, mendengarkan, dan perhatian. 

Agama tidak mengajarkan agar semua ajaran, dokrin, dan dogma diterima begitu saja tanpa mempelajarinya atau mengkritiknya. Mempelajari agama dan metafisika, bagi Grondin, adalah upaya untuk “membaca kembali” kehidupan dengan penuh perhatian. 

Menurut Grondin, “agama lahir dari sebuah ‘pembacaan kembali’ yang saksama dan reflektif terhadap hal-hal ilahi, sebagaimana yang terjadi dalam elegere (memilih), diligere (memperhatikan, mengasihi), dan intellegere (memahami)” (Jean Grondin, La filosofía de la religión, Barcelona: Herder Editorial, 2010, hlm. 95).

Dengan perspektif tersebut, Grondin menggarisbawahi, “dalam kerajaan binatang, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri (transcendence), yang dapat menetapkan cita-cita bagi dirinya sendiri, atau dengan kata lain, yang mampu mengakui adanya suatu makna (sense) dalam eksistensinya. 

Dan makna ini tidak lain adalah kemampuan untuk menjalani hidupnya seolah-olah hidup tersebut harus diadili, seolah-seolah kehidupan harus menanggapi suatu panggilan, suatu tuntutan, suatu harapan yang melampaui bestialitas (animality) manusia dan yang mendasari kemanusiaannya─yang kita artikan sebagai kapasitasnya untuk menadi sesuatu yang berbedari sekadar binatang jalang (bestia). 

Menjalani hidup seolah-olah ia harus diapresiasi berarti berkomitmen pada makna Kebajikan (the Good), serta mengakui transendensi Kebajikan tersebut dalam kaitannya dengan seluruh konvensi, seluruh kode moral, dan segala bentuk aplikasinya.” (Jean Grondin, Del sentido de la vida, Barcelona, Herder Editorial, 2005, hlm. 23).

Kedagingan manusia, dengan segala kerapuhan, penuaan dan penderitaannya, adalah tempat inkarnasi Allah, tempat Allah menyatakan diri-Nya. 

AI tidak bisa menderita, dan karena itu ia tidak bisa mendengarkan, memberikan perhatian, dan mengasihi secara tulus. 

Hidup manusia memiliki makna yang melampaui kalkulasi materialistik dan perintah algoritma. 

Memahami makna berarti menyadari bahwa kita adalah bagian dari tatanan yang lebih besar yang digerakkan oleh kasih dan perhatian.

Manusia sejati selalu mencari Allah, dan mengenal Fiman-Nya. Di era di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur akibat narasi besar transhumanisme dan posthumanisme, kita dipanggil untuk mengukuhkan kembali martabat kemanusian yang agung. 

Paus Leo XIV, di Plaza de Lima di Madrid, menganjurkan lima jalan menuju pengenalan akan Allah: Pertama, kemampuan untuk melakukan disermen: apakah yang berbicara itu sejatinya adalah Allah atau yang lain, seperti gangguan atau penghalang lain. 

Jangan sampai kita langsung memutuskan bahwa inilah suara Allah, padahal suara yang kita sendiri ciptakan, imajinasikan, dan hayalkan. 

Jangan sampai kita memaksa orang lain agar mengimani suara kita sendiri, bukan suara Allah. 

Dalam kaitan dengan ini, Paus Leo XIX “menggarisbawahi signifikasi dari pencarian kebenaran, karena banyak suara dan banyak hal di jejaring sosial yang mengecoh kita serta menyampaikan kebohongan. 

Carilah selalu kebenaran! Allah adalah kebenaran! Jika sesuatu menjauhkan Anda dari Allah, maka itu bukanlah kebenaran!”

Kedua, keyakinan bahwa Allah mengenali dengan baik suara kita: Allah mendengarkan kita, dan akan menjawab kita. Paus Leo XIV meminta agar “janganlah takut untuk mengekspresikan apa yang Anda rasakan di dalam hati. 

Ada sebuah Mazmur yang menyatakan; ‘Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar?’ (Mzm 94:9)”. 

Yesus sendiri berkata: “jika engkau berdoa, masuklah dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mt, 6:6).

Berdoa tidak hanya berarti berbicara dan mengeluh banyak kepada Bapa di surga, tetapi juga melatih diri untuk menciptakan keheningan, mengosongkan diri, memberikan perhatian, mendengarkan Allah. Etika berdoa ini mesti berdampak sosial.

Ketiga, membina sikap mendengarkan. Paus Leo XIV mengatakan bahwa “untuk dapat mengenali Firman Allah, sangatlah esensial untuk mendengarkan Sabda. Sabda Tuhan itu hidup, karena Ia adalah Kristus, yang Sabda-Nya terus bergema di dalam Gereja yang merupakan Tubuh-Nya. 

Ia menggenapi seluruh Kitab Suci, teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dianugerahkan kepada umat manusia sebagai keselamatan.” Ini menuntut sikap pelayanan sebagai murid Yesus, karena tak seorang pun manusia dilahirkan sebagai guru. 

Iman bukan hanya urusan pribadi dengan Allah, melainkan ada-bersama, tinggal, hidup, dan berkomunikasi dengan yang lain.

Keempat, merdeka di dalam Kristus. Paus Leo XIV mengungkapkan bagaimana “Kristus telah membebaskan kita dengan kasih-Nya. Berkat kasih ini, kita senantiasa merdeka di hadapan segala bentuk koersi, dan muslihat. 

Kita merdeka dari tren-tren zaman, karena kita adalah murid-murid dari kebenaran; kita terbuka terhadap masa depan, karena kita tahu bahwa bukanlah kematian yang menanti kita. 

Sebaliknya, makna dari sejarah berpuncak pada komuni kehidupan kekal yang dipersiapkan Allah bagi semua orang.”

Kelima, jadi manusia. Paus Leo XIV menekankan agar kita semua melampaui perintah algoritma dan AI, yakni menjadi manusia “laki-laki dan perempuan yang berdaging dan berdarah. Bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan wajah-wajah yang terpercaya. 

Pribadi-pribadi yang mengupayakan keadilan karena lapar akan keadilan tersebut seperti roti sehari-hari. 

Pribadi-pribadi yang mendambakan suckacita melakukan kepada orang lain apa yang mereka inginkan orang lain kakukan kepada mereka. 

Jadilah manusia sebagaimana Kristus, sungguh manusia (Homo Perfectus), Ia yang bangkit dan mengambil bagian dalam sejarah bersama kita di sepanjang masa.”

Menurut Grondin, “hidup yang dirasakan ini, hidup yang bijaksana, yang memiliki rasa dan makna, adalah harapan luhur dari homo sapiens” (Jean Grondin, Ensayo sobre el sentido de la vida, hlm. 157). 

Menjadi manusia yang berdaging dan berdarah berarti mengakui kesakralan dalam setiap individu, suatu kesakralan yang menuntuk rasa hormat tanpa syarat, kasih tanpa kepentingan pribadi, dan perhatian tanpa kriteria. 

Kemanusiaan sejati ditemukan dalam kemampuan untuk menderita bersama sesama, dan memandang dunia sebagai cermin keindahan Ilahi (bdk. Roma 12: 9-21). Menjadi murid Kristus di era algoritma berarti memilih ketaatan pada kebenaran di atas kenyamanan arus informasi.

Kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk memilih apa pun tanpa batas, melainkan kemampuan untuk menaati hukum kasih Tuhan. 

Ketataan pada Tuhan adalah satu-satunya hal yang membebaskan manusia dari ketaatan buta pada AI. Pemazmur berseru: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan dating pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm 121:1-2). 

Bersama Rasul Paulus, kita bertekuk lutut dan menengadahkan kepala kepada Allah Bapa yang telah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus yang “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp, 2:7-8), “… yang dari pada-Nya semua turunan yang ada di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” (Ef 3:14-15). 

Nama pertolongan kita adalah Yesus Kristus, “itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam segala nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristusadalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp, 2:9-11).

Tindakan Kristus yang dengan sukarela mengosongkan dan merendahkan diriNya, dan menjadi manusia demi menyelamatkan manusia ini dapat disebut sebagai teologi pengosongan diri (Kenosis). 

Tindakan perendahan diri Yesus ini mesti ditanggapi oleh manusia dengan teologi bertekuk lutut sebagai tindakan pengosongan egor agar rahmat Allah bisa bekerja di dalam diri manusia, mengakui bahwa Allah adalah kedaulatan tertinggi, dan karena itu manusia harus bersujud di hadapan misteriIlahi.

AI tidak membutuh keselamatan, dan tidak mempunyai kerinduan eksistensial akan keselamatan abadi. AI mungkin bisa memberikan jawaban teknis, tetapi tidak bisa bergulat dengan pertanyaan eksistensial. 

Manusia adalah tempat di mana pertanyaan tentang makna hidup diajukan, dianalisis, dibicarakan, dan diperjuangkan. 

Menjadi manusia sejati berarti menyadari ontologi-antropologisnya dengan segala misterinya: bahwa ia berasal dari Allah, tinggal di dalam bumi yang diciptakan Allah, hidup bersama dengan karya tangan Allah, dan akan kembali kepada persekutuan kasih dengan-Nya. 

AI tidak mempunyai rahmat, tidak mempunyai darah untuk menyucikan dosa-dosa kita, dan seperti nenek moyang kita, AI tidak bisa membangkitkan badan.  (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved