Opini
Opini: Mimbar Digital
Ruang digital seperti kebun. Kalau semua buang sampah, ya bau. Tapi kalau tiap orang tanam satu bunga, lama-lama jadi taman yang asri.
Mimbar Digital kita jadi penting karena siapa yang bicara di situ, dia yang bentuk cara pikir banyak orang.
Ada yang sempat bilang begini: saya ada kalau saya selalu selancar di media digital. Saya tidak ada kalau tidak pernah main di situ. Tidak keren!
Mimbar Ini Punya Siapa Saja
Dulu, mimbar identik dengan tokoh: pejabat, guru, pemuka agama. Sekarang tidak lagi.
Penjual ikan di pasar bisa live jualan sambil kasih motivasi. Anak SMA bisa bikin konten edukasi dan ditonton ribuan orang.
Ibu rumah tangga bisa tulis cerita dan menguatkan sesama ibu di seluruh Indonesia. Dan seorang bocil bisa live tentang MBG.
Baca juga: Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru
Artinya, kita semua punya mimbar. Masalahnya: mau dipakai untuk apa? Mimbar bisa dipakai untuk bagi resep masak. Resep hidup sehat.
Bisa untuk jualan, bisa juga untuk menolong. Bisa untuk pamer, bisa juga untuk menginspirasi. Pilihan ada di jempol kita masing-masing.
Tiga Aturan Main di Mimbar Digital
Supaya mimbar ini sehat, ada tiga hal sederhana yang bisa kita pegang:
1. Benar dulu, baru cepat
Kecepatan di medsos sering gesit mengalahkan kebenaran. Padahal satu info salah bisa bakar banyak kepala. Maka, cek dulu sebelum share. Ini fakta atau fiktif. Apalagi hoaks.
2. Bangun, bukan serang
Kritik boleh, tapi tujuannya membangun, bukan menjatuhkan. Di balik akun itu ada manusia yang bisa luka. Komentar kita bisa jadi berkat atau pisau kutukan.
3. Kecil tapi konsisten
Dunia yang perlu kecepatan. Tidak harus ceramah panjang. Satu kalimat yang jujur, satu tips yang membantu, satu cerita yang menguatkan, itu sudah cukup. Yang penting rutin. Kebaikan yang kecil kalau terus-menerus, dampaknya besar.
Mimbar Digital, Tanggung Jawab Kita
Kita sering komplain: “Medsos sekarang isinya sampah.” Tapi lupa tanya: “Jangan-jangan saya juga punya kontribusi membuang sampah itu. Saya sudah buang apa di sana hari ini?”
Ruang digital itu seperti kebun. Kalau semua buang sampah, ya bau. Tapi kalau tiap orang tanam satu bunga, lama-lama jadi taman yang asri. Melihat bunga, serasa hidup ini begitu indah.
Tidak perlu menunggu jadi influencer. Cukup jadi warga digital yang bertanggung jawab. Share ilmu yang kita tahu.
Angkat cerita baik di sekitar. Luruskan hoaks di grup keluarga dengan santun. Apresiasi kerja orang lain dengan tulus.
Wilfrid Babun
Pater Wilfrid Babun
Mimbar Digital
Opini Pos Kupang
edukasi media sosial
Status Media Sosial
bijak bermedia sosial
Meaningful
| Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan |
|
|---|
| Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas |
|
|---|
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)