Opini
Opini - Di Era Self-Love, Masih Perlukah Pengakuan Dosa?
Sakramen Tobat mengingatkan satu hal yang tak kalah penting: "jadilah dirimu sebagaimana Allah menghendakimu.
Padahal, sikap semacam ini justru menunjukkan semakin menipisnya kesadaran moral dalam kehidupan beriman. Padahal, kehidupan manusia modern tidak lepas dari berbagai bentuk dosa.
Ketidakjujuran, korupsi, kekerasan verbal di media sosial, perpecahan dalam keluarga, sikap acuh terhadap penderitaan sesama, hingga eksploitasi alam yang merusak lingkungan merupakan kenyataan yang masih kita temui setiap hari.
Semua itu menunjukkan bahwa persoalan dosa tetap hadir dalam kehidupan manusia, meskipun istilahnya semakin jarang digunakan.
Dalam konteks masyarakat Nusa Tenggara Timur, nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap sesama masih menjadi bagian penting dari kehidupan bersama. Namun nilai-nilai tersebut juga menghadapi tantangan besar akibat individualisme, konsumerisme, dan pengaruh budaya digital.
Di tengah perubahan tersebut, Sakramen Tobat menjadi sarana penting untuk membangun kembali relasi yang rusak, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Lebih dari itu, Sakramen Tobat mengingatkan bahwa kasih Allah tidak pernah berhenti pada pengampunan. Allah mengampuni agar manusia berubah. Pertobatan sejati bukan hanya menyesali dosa, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk hidup lebih baik.
Pengampunan tanpa perubahan hanya akan menjadi rutinitas kosong, sedangkan perubahan tanpa pengampunan sering kali berakhir pada keputusasaan.
Karena itu, self-love dan pertobatan tidak perlu dipertentangkan. Mencintai diri sendiri secara kristiani berarti menerima diri sebagai pribadi yang dicintai Allah sekaligus menyadari bahwa kita selalu membutuhkan pembaruan.
Kasih terhadap diri sendiri bukanlah alasan untuk menolak koreksi, melainkan dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Pada akhirnya, di era self-love ini, pengakuan dosa tetap memiliki tempat yang penting. Bahkan, ketika dunia semakin sulit membedakan antara benar dan salah, keberanian untuk mengakui dosa menjadi kesaksian iman yang semakin berharga.
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan penerimaan diri, tetapi juga pengampunan. Dan dalam Sakramen Tobat, Gereja terus menghadirkan kabar sukacita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada belas kasih Allah.
Di tengah budaya yang mengajarkan "terimalah dirimu apa adanya", Sakramen Tobat mengingatkan satu hal yang tak kalah penting: "jadilah dirimu sebagaimana Allah menghendakimu. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| Opini: Refleksi Etika Ekologi- Mengapa Manusia Harus Bertanggungjawab pada Alam? |
|
|---|
| Opini - Tuhan Dalam Layar |
|
|---|
| Opini - Teologi Dalit di Tengah Revolusi AI: Martabat Kaum Tersisi dalam Perkembagan Era Digital |
|
|---|
| Opini - Membangun Generasi, Merawat Ibu dan Alam: Kajian Eko-feminisme Rosemary Ruether |
|
|---|
| Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kristoforus-Alfaris-foto-baru.jpg)