Opini
Opini - Di Era Self-Love, Masih Perlukah Pengakuan Dosa?
Sakramen Tobat mengingatkan satu hal yang tak kalah penting: "jadilah dirimu sebagaimana Allah menghendakimu.
Opini - Di Era Self-Love, Masih Perlukah Pengakuan Dosa?
Oleh: Kristoforus Alfaris
Mahasiswa Fakultas Filsafat, Tinggal di Seminari Tinggi Interdiosesan St Micael Kupang
POS-KUPANG.COM - Ketika semua orang ingin diterima apa adanya, masih adakah ruang untuk mengakui bahwa kita telah berbuat salah? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah maraknya budaya self-love yang berkembang dalam kehidupan masyarakat modern.
Melalui media sosial, seminar motivasi, hingga berbagai konten digital, orang diajak untuk mencintai diri sendiri, menerima kekurangan, dan berdamai dengan masa lalu.
Pesan ini pada dasarnya baik karena membantu banyak orang keluar dari rasa rendah diri dan tekanan hidup. Namun, tanpa disadari, budaya self-love juga dapat menimbulkan kecenderungan baru: hilangnya keberanian untuk mengakui kesalahan dan bertobat.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang lebih nyaman membicarakan luka batin daripada dosa. Kita lebih mudah menyalahkan keadaan, lingkungan, atau masa lalu daripada mengakui tanggung jawab pribadi atas tindakan yang dilakukan.
Akibatnya, kata "dosa" semakin jarang terdengar, bahkan di kalangan orang beriman. Yang tersisa hanyalah narasi tentang penerimaan diri, seolah-olah semua pilihan hidup selalu benar selama membuat seseorang merasa nyaman.
Dalam pandangan iman Katolik, kecenderungan ini patut dicermati. Gereja mengajarkan bahwa manusia memang memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Karena itu, setiap orang layak menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Namun, iman Katolik juga mengakui kenyataan dosa. Manusia bukan hanya makhluk yang bermartabat, tetapi juga makhluk yang rapuh dan sering jatuh dalam kesalahan.
Kesadaran akan dosa bukanlah bentuk kebencian terhadap diri sendiri. Sebaliknya, kesadaran akan dosa merupakan tanda kejujuran dan kedewasaan rohani.
Orang yang mampu mengakui kesalahannya adalah orang yang berani melihat dirinya apa adanya. Ia tidak hidup dalam penyangkalan, tetapi membuka diri terhadap perubahan dan pembaruan.
Di sinilah Sakramen Tobat memiliki makna yang sangat penting. Sakramen ini bukan sekadar kewajiban religius atau tradisi yang diwariskan Gereja selama berabad-abad.
Sakramen Tobat adalah perjumpaan dengan Allah yang penuh belas kasih. Ketika seseorang mengakui dosanya, ia tidak sedang datang kepada hakim yang siap menghukum, melainkan kepada Bapa yang siap mengampuni.
Sayangnya, di tengah budaya modern yang menekankan citra diri dan pencapaian pribadi, Sakramen Tobat sering dianggap tidak lagi relevan.
Sebagian orang merasa cukup meminta maaf langsung kepada Tuhan tanpa perlu mengaku dosa kepada imam. Sebagian lainnya bahkan merasa tidak memiliki dosa yang perlu diakui.
Padahal, sikap semacam ini justru menunjukkan semakin menipisnya kesadaran moral dalam kehidupan beriman. Padahal, kehidupan manusia modern tidak lepas dari berbagai bentuk dosa.
Ketidakjujuran, korupsi, kekerasan verbal di media sosial, perpecahan dalam keluarga, sikap acuh terhadap penderitaan sesama, hingga eksploitasi alam yang merusak lingkungan merupakan kenyataan yang masih kita temui setiap hari.
Semua itu menunjukkan bahwa persoalan dosa tetap hadir dalam kehidupan manusia, meskipun istilahnya semakin jarang digunakan.
Dalam konteks masyarakat Nusa Tenggara Timur, nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap sesama masih menjadi bagian penting dari kehidupan bersama. Namun nilai-nilai tersebut juga menghadapi tantangan besar akibat individualisme, konsumerisme, dan pengaruh budaya digital.
Di tengah perubahan tersebut, Sakramen Tobat menjadi sarana penting untuk membangun kembali relasi yang rusak, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Lebih dari itu, Sakramen Tobat mengingatkan bahwa kasih Allah tidak pernah berhenti pada pengampunan. Allah mengampuni agar manusia berubah. Pertobatan sejati bukan hanya menyesali dosa, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk hidup lebih baik.
Pengampunan tanpa perubahan hanya akan menjadi rutinitas kosong, sedangkan perubahan tanpa pengampunan sering kali berakhir pada keputusasaan.
Karena itu, self-love dan pertobatan tidak perlu dipertentangkan. Mencintai diri sendiri secara kristiani berarti menerima diri sebagai pribadi yang dicintai Allah sekaligus menyadari bahwa kita selalu membutuhkan pembaruan.
Kasih terhadap diri sendiri bukanlah alasan untuk menolak koreksi, melainkan dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Pada akhirnya, di era self-love ini, pengakuan dosa tetap memiliki tempat yang penting. Bahkan, ketika dunia semakin sulit membedakan antara benar dan salah, keberanian untuk mengakui dosa menjadi kesaksian iman yang semakin berharga.
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan penerimaan diri, tetapi juga pengampunan. Dan dalam Sakramen Tobat, Gereja terus menghadirkan kabar sukacita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada belas kasih Allah.
Di tengah budaya yang mengajarkan "terimalah dirimu apa adanya", Sakramen Tobat mengingatkan satu hal yang tak kalah penting: "jadilah dirimu sebagaimana Allah menghendakimu. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
| Opini: Refleksi Etika Ekologi- Mengapa Manusia Harus Bertanggungjawab pada Alam? |
|
|---|
| Opini - Tuhan Dalam Layar |
|
|---|
| Opini - Teologi Dalit di Tengah Revolusi AI: Martabat Kaum Tersisi dalam Perkembagan Era Digital |
|
|---|
| Opini - Membangun Generasi, Merawat Ibu dan Alam: Kajian Eko-feminisme Rosemary Ruether |
|
|---|
| Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kristoforus-Alfaris-foto-baru.jpg)