Opini
Opini: Lulusan Vokasi Siap Kerja, Tapi Kerjanya di Mana?
Link and match tidak bisa berarti pendidikan bekerja keras menyesuaikan diri, sementara industri tinggal menunggu hasil.
Ketiga, magang harus diubah dari model “titip siswa” menjadi pembelajaran berbasis proyek nyata dengan target, mentor, dan evaluasi yang jelas agar nilai belajarnya tidak hilang.
Keempat, negara perlu memberi insentif yang lebih efektif bagi industri yang benar-benar ikut mendidik dan menyerap lulusan, bukan sekadar hadir dalam seremoni kerja sama.
Skema insentif bagi industri memang pernah dibuka, tetapi pemanfaatannya masih rendah karena sosialisasi terbatas dan prosedurnya dianggap rumit, sehingga tujuan mendorong partisipasi dunia usaha belum tercapai optimal.
Kelima, pendidikan vokasi harus berhenti mengandalkan hard skills semata dan mulai serius memperkuat soft skills, literasi digital, kemampuan problem solving, komunikasi, dan adaptasi karier, karena pasar kerja hari ini tidak mencari tenaga kerja yang hanya patuh, melainkan yang juga mampu belajar ulang ketika perubahan datang.indonesia.
Pada akhirnya, pertanyaan “lulusan vokasi siap kerja, tapi kerjanya di mana?” bukan sindiran kosong. Itu pertanyaan publik yang sah, bahkan mendesak.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan program pemerintah atau reputasi lembaga pendidikan, melainkan masa depan anak-anak muda yang masuk ke pendidikan vokasi dengan harapan sederhana: keterampilan mereka dihargai, kerja mereka dibutuhkan, dan hidup mereka bisa bergerak naik.
Jika itu belum juga terjawab, maka kita harus berani mengatakan bahwa link and match belum sepenuhnya menjadi jembatan; ia masih terlalu sering berhenti sebagai slogan.(*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Luthfi-Retriansyah-02.jpg)