Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Lulusan Vokasi Siap Kerja, Tapi Kerjanya di Mana?

Link and match tidak bisa berarti pendidikan bekerja keras menyesuaikan diri, sementara industri tinggal menunggu hasil. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LUTHFI RETRIANSYAH
Luthfi Retriansyah 

Siswa dikirim magang, tetapi tidak selalu dengan target pembelajaran yang jelas. 

Akibatnya, link and match tampak sibuk secara administratif, tetapi lemah sebagai sistem yang menyiapkan transisi lulusan ke dunia kerja.

Kesenjangan kompetensi juga masih menjadi masalah yang nyata. Dunia kerja bergerak cepat oleh digitalisasi, otomasi, dan perubahan model produksi, sedangkan banyak lembaga vokasi bergerak jauh lebih lambat dalam memperbarui materi, peralatan, dan budaya belajarnya. 

Laporan UNESCO, World Bank, dan ILO menegaskan bahwa sistem TVET di banyak negara masih belum cukup selaras dengan kebutuhan pasar kerja, dan pembenahannya tidak cukup hanya lewat hard skills, melainkan juga harus memperkuat keterampilan kognitif, digital, dan kewirausahaan. 

Dalam konteks Indonesia, ILO juga menekankan bahwa keterlibatan industri dalam kurikulum dan pembelajaran berbasis kerja harus dibarengi penguatan soft skills seperti komunikasi agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Itulah sebabnya persoalan serapan lulusan vokasi tidak bisa dibaca terlalu sederhana sebagai kelemahan siswa. 

Terlalu mudah menyebut lulusan “kurang siap”, padahal sering kali yang tertinggal justru sistem di belakangnya. 

Kita berharap lulusan menguasai teknologi terbaru, sementara alat praktik di sekolah belum mendekati standar industri. Kita menuntut adaptasi digital, tetapi ruang belajarnya masih tertinggal. 

Kita meminta mereka siap masuk dunia kerja, tetapi proses belajarnya belum sungguh-sungguh meniru ritme, tekanan, dan kualitas kerja nyata.

Magang adalah contoh paling jelas dari problem itu. Di atas kertas, magang hampir selalu disebut sebagai bukti bahwa link and match berjalan. 

Padahal magang yang bermutu bukan sekadar menempatkan siswa di perusahaan, melainkan memastikan ada target belajar, logbook, pembimbing sekolah, instruktur industri, serta evaluasi agar pengalaman itu tidak berubah menjadi kerja murah berkedok pembelajaran. 

Jika hal-hal dasar ini diabaikan, magang hanya menghasilkan dua hal: laporan administratif yang rapi dan lulusan yang tetap belum siap menghadapi tuntutan kerja yang sesungguhnya. 

Keterbatasan fasilitas praktik juga sering dibicarakan setengah hati, seolah-olah itu masalah kecil. 

Padahal bagi pendidikan vokasi, fasilitas bukan sekadar pelengkap; ia adalah jantung dari proses belajar. 

Jika peralatan praktik usang, bahan praktik terbatas, dan pembelajaran lebih banyak demonstrasi daripada praktik langsung, maka yang dibangun bukan kompetensi, melainkan ilusi kompetensi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved