Opini
Opini: Makna Pentahbisan Diakon dalam Perspektif Thomas Aquinas tentang Penggerak Pertama
Pentahbisan diakon tidak hanya memiliki makna pastoral, tetapi juga mengandung makna filosofis dan teologis yang mendalam.
Diakon dipanggil untuk mewartakan Injil, membantu pelayanan liturgi, dan melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.
Melalui tugas-tugas tersebut, diakon ikut ambil bagian dalam karya Allah yang menyelamatkan manusia. Pelayanan mereka menjadi perwujudan nyata dari kasih Allah yang bekerja dalam kehidupan Gereja.
Tahbisan diakon tidak hanya berkaitan dengan jabatan gerejawi, tetapi juga dengan partisipasi dalam karya Allah yang terus menggerakkan dunia menuju keselamatan.
Pentahbisan diakon di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang pada tanggal 30 Mei merupakan peristiwa penting dalam kehidupan Gereja dan para frater yang menerimanya.
Peristiwa tersebut menandai dimulainya tahap pelayanan yang lebih mendalam dalam perjalanan menuju imamat.
Melalui tahbisan ini, para diakon dipanggil untuk mengabdikan hidup mereka bagi pelayanan Sabda, liturgi, dan kasih.
Jika dilihat dari perspektif Thomas Aquinas, panggilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari karya Allah sebagai Penggerak Pertama.
Allah menjadi sumber yang menggerakkan hati manusia untuk menanggapi panggilan hidup yang diterimanya.
Dengan demikian, tahbisan diakon merupakan bentuk respons manusia terhadap gerak rahmat Allah yang bekerja dalam kehidupannya.
Pemahaman ini menunjukkan bahwa panggilan hidup kristiani selalu berakar pada inisiatif Allah yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan manusia.
Melalui teori Penggerak Pertama, Thomas Aquinas membantu menjelaskan hubungan antara Allah, manusia, dan panggilan pelayanan dalam Gereja.
Allah tidak hanya menjadi penyebab pertama dari keberadaan dunia, tetapi juga terus mengarahkan manusia menuju tujuan hidup yang sejati.
Dalam konteks pentahbisan diakon, karya Allah tampak dalam proses pembinaan, pertumbuhan iman, dan keputusan para frater untuk melayani Gereja.
Di sisi lain, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menerima dan menjalankan panggilan tersebut secara bertanggung jawab.
Hubungan antara rahmat Allah dan kebebasan manusia menjadi unsur penting dalam memahami makna tahbisan diakon.
Sehingga pemikiran Aquinas tetap relevan untuk menjelaskan realitas panggilan dan pelayanan dalam Gereja masa kini.
Pada akhirnya, pentahbisan diakon merupakan kesaksian bahwa Allah terus berkarya dan menggerakkan manusia untuk ambil bagian dalam misi keselamatan-Nya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-Suban-Bahy.jpg)