Breaking News
Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial

Di media sosial, setiap komentar yang diberikan ibarat panggung improvisasi bagi setiap orang menyesuaikan maksud yang hendak dicapai. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KRISOGONUS KUSMAN
Krisogonus Kusman 

Ketika identifikasi ini mampu mempengaruhi pengguna media sosial, batasan untuk mengendalikan diri mulai mundur. 

Orang rela menyebarkan berita hoaks bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena loyalitas emosional terhadap kelompoknya. 

Lebih jauh, motivasi komunikasi seringkali didorong oleh rasa ingin tahu untuk menikmati sesuatu yang lebih menarik. 

Hal ini dapat menimbulkan kecemasan dalam diri setiap pengguna apabila konten yang ditampilkan tidak sesuai dengan algoritma yang telah dibangun melalui pergaulan daring.

Menanggapi hal semacam ini, diperlukan penguatan refleksi kritis melalui pemikiran Jean Baudrillard tentang hiperrealitas. 

Bagi Baudrillard, pengguna media sosial dewasa ini telah mengalami pergeseran radikal terhadap tanda atau simulasi realitas itu sendiri. Media sosial adalah tempat lahirnya hiperrealitas. 

Pengguna tidak lagi sekadar berkomunikasi, melainkan cenderung memproduksi citra diri yang direkayasa secara ketat oleh algoritma. 

Foto yang diedit sedemikian rupa indahnya serta kehidupan yang diviralkan secara berlebihan merupakan contoh nyata pergeseran realitas oleh tiruan yang tampak lebih menarik daripada aslinya. 

Masalah utamanya terletak pada ambiguitas ekspresi. Banyak pengguna lupa membedakan antara performative acting (tindakan performatif) dan authentic being (keberadaan otentik). 

Mereka berkomunikasi bukan untuk membangun hubungan substantif, melainkan untuk mempertahankan citra digital. 

Akibatnya, terjadi alienasi di mana jati diri yang sejati tenggelam di bawah beban eksistensi dunia maya. 

Komunikasi sebagai jembatan kemanusiaan pun mengalami kehilangan esensinya dan berubah menjadi komoditas kenikmatan semata.

Atas dasar pandangan tersebut, berbagai teori dapat memberikan arah yang tepat, namun implementasinya terkadang masih belum sepenuhnya stabil. 

Produksi pesan di media sosial memang sarat dengan lapisan makna, namun tanpa kesadaran etik dan literasi digital yang memadai, potensi manipulasi dan distorsi realitas akan terus berlanjut. 

Langkah yang ditempuh adalah mengubah cara pandang agar manusia sebagai subjek utama kembali utuh. 

Dengan menyadari tanggung jawab etis terhadap setiap bentuk ekspresi, media sosial dapat kembali menjadi ruang publik yang sehat, konstruktif, dan memanusiakan. 

Karena itu, kita perlu menyadari bahwa apakah kita ingin menjadi tuan atas teknologi, atau menjadi budak dari jejak digital yang kita ciptakan sendiri. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved