Breaking News
Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial

Di media sosial, setiap komentar yang diberikan ibarat panggung improvisasi bagi setiap orang menyesuaikan maksud yang hendak dicapai. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KRISOGONUS KUSMAN
Krisogonus Kusman 

Lapisan terakhir adalah perlocutionary act, yaitu dampak psikologis atau perilaku yang timbul pada penerima pesan. 

Apakah komentar "Saya sangat lelah" akan memicu tanggapan empati atau justru sekadar sebuah ungkapan biasa? 

Berhasil atau tidak akan hal tersebut bergantung pada felicity condition atau kelayakan ujaran, yaitu sejauh mana maksud penulis dimengerti dan diterima oleh pembaca. Jika hal tersebut gagal, terjadilah miskomunikasi antara pengirim dan penerima pesan.

Selanjutnya, jika ditinjau melalui kaca mata Coordination of Message Management (CMM) yang dikembangkan oleh Pearce dan Cronen, komunikasi sesungguhnya merupakan sebuah upaya koordinatif dalam menyusun narasi bersama. 

Manusia bukan hanya mentransfer informasi, tetapi terus-menerus menegosiasikan makna melalui aturan konstitutif dalam menafsirkan situasi dan regulatif tentang bagaimana seharusnya merespons pesan. 

Di media sosial, setiap komentar yang diberikan ibarat panggung improvisasi bagi setiap orang untuk menyesuaikan maksud yang hendak dicapai. 

Koordinasi akan berhasil ketika balasan antara pengunggah konten dan pemberi komentar berjalan lancar, sehingga terbentuk irama percakapan yang dapat dipahami bersama. 

Ironisnya, CMM menegaskan bahwa koordinasi bukanlah jaminan kesepahaman yang mutlak. 

Baca juga: Opini: Mewujudkan Kemandirian dan Martabat Lansia NTT Melalui Sekolah Ramah Lansia

Dua pihak dapat saja berdiskusi hangat namun tetap merasa dihargai karena masing-masing saling memahami satu sama lain sebagai lawan bicara, meskipun tujuan moral mereka bertolak belakang. 

Namun, risiko terbesar dalam platform digital adalah terjebaknya pengguna dalam siklus interaksi negatif yang koheren lalu mengalami kehancuran, seperti penyebaran hoaks dalam bingkai konten yang viral. 

Hal semacam ini sulit diperbaiki karena setiap pengguna media sosial masing-masing berpegang teguh pada kepentingan sendiri-sendiri.

Di sisi lain, Kenneth Burke menawarkan perspektif menarik melalui teori Identifikasi. 

Ia menyatakan bahwa persuasi tertinggi tercipta saat individu merasakan adanya kesatuan dengan kelompoknya. 

Kita cenderung percaya dan terbuka kepada mereka yang kita anggap sama. Di media sosial, identitas ini dibentuk melalui validasi kolektif berupa like, comment, dan subscribe. 

Identifikasi tersebut terlihat jelas pada gaya hidup konsumtif yang dipamerkan dalam konten-konten yang disajikan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved