Opini
Opini: Menulis
Dua buku tersebut diganjal sejumlah nominasi dan penghargaan. Memoria jadi salah satu Buku Puisi Rekomendasi Majalah Temp
Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Sebagian puisi dalam dua buku puisi pertama saya, Memoria dan Ekaristi lahir dari buku-buku catatan dan latihan di SMP dan SMA.
Puisi-puisi tersebut pun kemudian saya pindahkan ke dalam ketikan komputer, sebelum disalin beberapa kali dengan flashdisk sebelum akhirnya terbit menjadi buku.
Dua buku tersebut diganjal sejumlah nominasi dan penghargaan. Memoria jadi salah satu Buku Puisi Rekomendasi Majalah Tempo 2013.
Ekaristi jadi Buku Puisi Pilihan Majalah Tempo 2014, serta masuk daftar panjang Khatulistiwa Literary Award 2014.
Baca juga: Cerpen: El Samoa
Puisi-puisi yang terbit di buku-buku selanjutnya seperti Lelaki Bukan Malaikat, Mendengarkan Coldplay dan Homo Narrans justru lebih dahulu disimpan dalam ketikan-ketikan laptop, yang saya salin beberapa kali setiap laptop berganti.
Proses produksi semacam itu mengikuti kebiasaan saya dalam mencatat: di bangku sekolah, sejak SD sampai SMA, saya hanya bisa mencatat dengan pena dan pensil, karena cara lain tidak mungkin dipakai.
Saat kuliah, baik sarjana maupun magister, saya lebih sering mencatat dengan langsung mengetik di laptop.
Alasannya praktis: kemampuan mengetik sepuluh jari yang saya miliki, yang diajarkan secara formal kepada kami ketika masih belajar di SMP Katolik St. Theresia, lebih cepat dari kemampuan mencatat manual, dan dokumen catatannya bisa saya simpan secara digital untuk saya baca di mana saja bermodalkan gawai.
Perkembangan teknologi memberikan dimensi baru bagi proses kepenulisan saya: saya tidak lagi terlalu takut pada ancaman kerusakan fisik kertas, dan ruang revisi menjadi lebih luas karena prosesnya bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja.
Tipografi puisi-puisi saya, yang sering dimulai dengan huruf kapital di setiap awal larik, juga dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi ini.
Di luar urusan penulisan kreatif tersebut, saya masih mencatat dengan kedua jenis benda tersebut tergantung konteks: dalam liputan yang mengutamakan kecepatan dan akurasi, dengan mobilitas yang tinggi, mengetik dengan gawai akan jauh lebih memudahkan segala prosesnya, dari drafting, editing sampai finishing.
Dalam pertemuan-pertemuan yang spontan dan tidak memungkinkan penggunaan gawai, saya tetap mengandalkan pena dan kertas.
Pensil, pena, kertas, laptop maupun telepon pintar sama-sama merupakan teknologi yang memang bertujuan memudahkan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan kita.
Marshall McLuhan mengingatkan kita dalam Understanding Media: the Extensions of Man bahwa teknologi memang merupakan perpanjangan fungsi-fungsi tubuh manusia.
Teknologi memperluas jangkauan dan kapasitas tubuh kita untuk menyiasati ruang dan waktu.
Itulah yang dimaksud McLuhan sebagai “medium is the message”, ungkapannya sangat kita kenali: “Konsekuensi pribadi dan sosial dari media apa pun—yaitu, dari setiap perluasan diri kita—berasal dari skala baru yang diperkenalkan ke dalam urusan kita oleh setiap perluasan diri kita, atau oleh teknologi baru apa pun.”
Kalau kita mau menengok ke belakang, buku yang kita kenal hari ini, sebagai sebuah kodeks yang dijilid dan memiliki halaman, sebenarnya adalah inovasi teknologi yang revolusioner pada zamannya.
Sebuah buku cetak atau buku tulis jauh lebih praktis, ringan, dan mudah dibawa ke mana-mana jika dibandingkan dengan segulung besar perkamen kulit domba atau lempengan tanah liat, meskipun teks yang termuat di dalamnya sama persis.
Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa substansi dari sebuah catatan tidak pernah melekat pada bahannya, melainkan pada nilai informasi, estetika, dan gagasan yang dikandungnya.
Laptop dan telepon pintar, dalam hal ini, hanyalah kelanjutan logis dari pencarian efisiensi tersebut.
Ketika sebuah gawai mampu memuat ribuan buku, ratusan draf puisi, dan catatan kuliah dalam satu perangkat seberat ratusan gram, benda tersebut sedang menjalankan fungsi dasarnya sebagai alat pembebas keterbatasan fisik manusia.
Untuk memahami bagaimana teknologi mengubah sesuatu yang alamiah menjadi sesuatu yang kultural dan terstruktur, kita dapat meminjam analisis antropologis Massimo Montanari.
Baca juga: Puisi-puisi Oswal Amnunuh
Dalam bukunya Il Cibo come cultura (Makanan sebagai Kebudayaan), Montanari menegaskan bahwa penemuan dan penguasaan atas api merupakan titik balik krusial yang mengubah status manusia di alam semesta.
Cara membuat api adalah salah satu teknologi paling sederhana tetapi juga paling berpengaruh dalam peradaban manusia.
Bahkan, dalam mitologi Yunani, disebutkan bahwa api hanyalah milik para dewa, sebelum Prometheus memperkenalkan rahasianya kepada manusia.
Prometheus mencuri api dari dapur kerja Hefaestus, dan menghadiahkannya bagi manusia. Perbuatan tersebut membuat Prometheus dihukum.
Penguasaan atas api menjadikan manusia tuan atas proses-proses alamiah; makanan tidak lagi sekadar dikonsumsi apa adanya dari alam, melainkan dikendalikan, dimodifikasi, dan ditransformasikan melalui proses memasak.
Yang dimasak dan yang mentah merepresentasikan dua kutub berseberangan dialektika antara nature dan culture.
Memasak dengan api adalah tindakan kebudayaan pertama yang membedakan manusia dari binatang.
“Perubahan simbolis yang paling jelas dari peristiwa besar ini, yang dipopulerkan dan diwakili oleh mitos, tercermin dalam citra dapur, yang, terkait dengan penggunaan api, menjadi unsur fundamental identitas manusia."
"Sejak saat itu, tidak mungkin lagi menyebut diri sebagai ‘manusia’ tanpa memasak makanan sendiri. Penolakan terhadap memasak (seperti yang akan kita lihat) mengambil makna sebagai tantangan nyata terhadap peradaban, setara dengan penolakan terhadap pertanian domestik dalam praktik produksi pangan,” tegas Montanari.
Substansi “Medium is the message” dan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Seamus Heaney, salah satu penyair favorit saya, dalam puisinya berjudul “Digging”.
Tokoh aku dalam puisi tersebut adalah seorang penulis, yang membandingkan kerja menulisnya dengan kerja bertani yang dilakukan oleh kakek dan ayahnya.
Between my finger and my thumb
The squat pen rests; snug as a gun.
Under my window, a clean rasping sound
When the spade sinks into gravelly ground:
My father, digging. I look down
Till his straining rump among the flowerbeds
Bends low, comes up twenty years away
Stooping in rhythm through potato drills
Where he was digging.
Heaney membandingkan pena dengan pistol dan sekop hanya dalam tiga bait tersebut.
Pena tersebut pas terasa di jari si aku, seperti pistol. Di bawah jendela kamar si aku, ayahnya sedang menggali tanah untuk menanam, bunga kemudian kentang.
Kemudian muncul tokoh kakek di bait selanjutnya, yang juga melakukan kerja bertani dengan sekop.
Namun, si tokoh aku sadar, yang ia bisa gali bukan lagi kentang seperti sang kakek dan sang ayah. Yang ia miliki hanyalah pena.
Sejumlah contoh di atas kiranya membantu kita melihat pentingnya teknologi dalam peradaban manusia, dan bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Karena itu, pandangan yang memosisikan catatan kertas lebih unggul secara etis daripada catatan digital mengabaikan satu hal penting: efisiensi adalah tujuan utama mengapa teknologi dikembangkan, dan keberhasilan manusia dalam menciptakan efisiensi justru menunjukkan perkembangan cara berpikirnya.
Bagi seorang penulis atau siapa pun yang berurusan dengan menulis, kecepatan dan ketepatan menangkap gagasan adalah kunci.
Ketika kemampuan mengetik sepuluh jari mampu mendekati kecepatan otak dalam melahirkan ide, atau kecepatan rekan diskusi dan narasumber menyampaikan gagasan, gawai justru menjadi perpanjangan tangan yang lebih baik daripada pena dan kertas.
Menuntut seseorang untuk tetap menulis manual di atas kertas atas nama etika mencatat justru mengingkari hakikat teknologi yang terus berkembang.
Yang paling penting dari kerja menulis tentu saja adalah apa yang bisa digali, bukan lagi dengan apa kita menggali, sebagaimana digambarkan Heaney di akhir puisinya.
Between my finger and my thumb
The squat pen rests.
I’ll dig with it. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Ensiklik Magnifica Humanitas- Cara Paus Leo Melawan Kebangkitan Menara Babel |
|
|---|
| Opini: Mewujudkan Kemandirian dan Martabat Lansia NTT Melalui Sekolah Ramah Lansia |
|
|---|
| Opini: Jangan Biarkan Proyek Mangkrak Membunuh Manfaat Publik di NTT |
|
|---|
| Opini: Menghormati Bunda Maria |
|
|---|
| Opini: Ketika Sebuah Gestur Menjadi Vonis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-03.jpg)