Breaking News
Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Opini: Menulis

Dua buku tersebut diganjal sejumlah nominasi dan penghargaan. Memoria jadi salah satu Buku Puisi Rekomendasi Majalah Temp

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO F. LAWI
Mario F. Lawi 

Teknologi memperluas jangkauan dan kapasitas tubuh kita untuk menyiasati ruang dan waktu. 

Itulah yang dimaksud McLuhan sebagai “medium is the message”, ungkapannya sangat kita kenali: “Konsekuensi pribadi dan sosial dari media apa pun—yaitu, dari setiap perluasan diri kita—berasal dari skala baru yang diperkenalkan ke dalam urusan kita oleh setiap perluasan diri kita, atau oleh teknologi baru apa pun.”

Kalau kita mau menengok ke belakang, buku yang kita kenal hari ini, sebagai sebuah kodeks yang dijilid dan memiliki halaman, sebenarnya adalah inovasi teknologi yang revolusioner pada zamannya. 

Sebuah buku cetak atau buku tulis jauh lebih praktis, ringan, dan mudah dibawa ke mana-mana jika dibandingkan dengan segulung besar perkamen kulit domba atau lempengan tanah liat, meskipun teks yang termuat di dalamnya sama persis. 

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa substansi dari sebuah catatan tidak pernah melekat pada bahannya, melainkan pada nilai informasi, estetika, dan gagasan yang dikandungnya. 

Laptop dan telepon pintar, dalam hal ini, hanyalah kelanjutan logis dari pencarian efisiensi tersebut. 

Ketika sebuah gawai mampu memuat ribuan buku, ratusan draf puisi, dan catatan kuliah dalam satu perangkat seberat ratusan gram, benda tersebut sedang menjalankan fungsi dasarnya sebagai alat pembebas keterbatasan fisik manusia. 

Untuk memahami bagaimana teknologi mengubah sesuatu yang alamiah menjadi sesuatu yang kultural dan terstruktur, kita dapat meminjam analisis antropologis Massimo Montanari. 

Baca juga: Puisi-puisi Oswal Amnunuh

Dalam bukunya Il Cibo come cultura (Makanan sebagai Kebudayaan), Montanari menegaskan bahwa penemuan dan penguasaan atas api merupakan titik balik krusial yang mengubah status manusia di alam semesta. 

Cara membuat api adalah salah satu teknologi paling sederhana tetapi juga paling berpengaruh dalam peradaban manusia. 

Bahkan, dalam mitologi Yunani, disebutkan bahwa api hanyalah milik para dewa, sebelum Prometheus memperkenalkan rahasianya kepada manusia. 

Prometheus mencuri api dari dapur kerja Hefaestus, dan menghadiahkannya bagi manusia. Perbuatan tersebut membuat Prometheus dihukum. 

Penguasaan atas api menjadikan manusia tuan atas proses-proses alamiah; makanan tidak lagi sekadar dikonsumsi apa adanya dari alam, melainkan dikendalikan, dimodifikasi, dan ditransformasikan melalui proses memasak. 

Yang dimasak dan yang mentah merepresentasikan dua kutub berseberangan dialektika antara nature dan culture. 

Memasak dengan api adalah tindakan kebudayaan pertama yang membedakan manusia dari binatang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved