Opini
Opini: Ketika Sebuah Gestur Menjadi Vonis
Kita sedang membangun budaya di mana simbol lebih menentukan daripada substansi. Dan itu berbahaya.
Karena seorang pemimpin yang bekerja keras tetapi gagal mengelola visual bisa dihukum lebih keras daripada pemimpin yang pandai menjaga pencitraan tetapi minim hasil. Itulah paradoks politik digital.
Tentu, ini bukan berarti kepala daerah tidak boleh diingatkan. Sebaliknya, justru kritik publik adalah alarm yang penting.
Karena seorang pemimpin perlu terus diingatkan bahwa setiap gerak tubuh di ruang publik membawa makna.
Dalam politik, hal-hal kecil sering menjadi besar bukan karena substansinya, tetapi karena simbolismenya.
Namun kritik yang sehat seharusnya tidak kehilangan rasa adil. Dan kalua kita berbicara khusus tentang Gubernur NTT hari ini, publik juga semestinya melihat lanskap yang lebih utuh.
Kepemimpinan daerah tidak pernah bekerja dalam ruang yang sederhana. NTT bukan provinsi tanpa tantangan.
Infrastruktur, konektivitas, investasi, kemiskinan, air bersih, energi, hingga pelayanan dasar adalah pekerjaan rumah yang nyata dan kompleks.
Terlebih semua itu dihadapi dalam situasi ruang fiskal daerah yang terbatas, sementara di saat yang sama daerah juga harus beradaptasi dengan berbagai penyesuaian dan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang ikut mempersempit ruang gerak.
Dalam kondisi seperti itu, kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dipahami publik. Ada kerja-kerja sunyi yang tidak selalu tampak di
permukaan.
Dalam beberapa bulan terakhir, energi pemerintahan daerah terlihat diarahkan untuk menjawab berbagai agenda strategis tersebut.
Ada kerja diplomasi investasi, ada upaya membangun jejaring strategis, ada ikhtiar membuka peluang kolaborasi dan pembiayaan alternatif, serta ada kerja pembangunan yang tidak selalu tampil dalam bentuk konten media sosial yang rapi.
Apakah semua itu sempurna? Tentu tidak. Apakah ada ruang kritik? Selalu ada.
Tetapi tidak adil jika keseluruhan kerja kepemimpinan direduksi hanya menjadi satu frame visual. Karena satu gambar tidak pernah cukup untuk menjelaskan keseluruhan manusia.
Seorang pemimpin bisa saja keliru dalam satu gestur. Bisa saja kurang sensitif dalam satu momen. Itu manusiawi.
Tetapi menjadikan satu momen sebagai bukti final tentang siapa dia, adalah simplifikasi yang tidak sehat. Negeri ini sudah terlalu sering terjebak dalam politik persepsi yang dangkal.
Kita cepat marah pada simbol, tetapi sering lambat mengawal kebijakan. Kita cepat menghakimi bahasa tubuh, tetapi kadang kurang tekun membaca keputusan anggaran. Kita gaduh pada gestur, tetapi diam pada substansi yang jauh lebih menentukan hidup rakyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tasogare-Suus-Nenobais.jpg)