Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Opini: Orang Desa Tidak Pakai Dolar? 

Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YORIM YOSAVAT KAUSE
Yorim Yosavat Kause 

Retorika yang Menenangkan, Realitas yang Menekan

Membaca: Mikha 6:8.

Oleh: Yorim Yosavat Kause
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) di Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT.

“Ketika penguasa berbicara seolah gejolak dolar hanya urusan layar pasar dan elite kota, rakyat kecil justru sedang menghitung  beras, minyak, pupuk, dan ongkos hidup dengan napas yang makin sesak”.

POS-KUPANG.COM - Pernyataan Presiden Prabowo, “Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” terdengar sederhana bahkan menenangkan. 

Namun dalam situasi ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, kalimat itu justru berbahaya bila diterima tanpa kritik, karena warga desa memang tidak bertransaksi dengan dolar secara langsung, tetapi mereka menanggung akibatnya lewat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, dan menurunnya daya beli.

Data terbaru menunjukkan bahwa kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 berada di Rp17.685 per dolar AS, sedangkan Kurs Transaksi BI per pembaruan terakhir 20 Mei 2026 menempatkan kurs jual USD di Rp17.807,60 dan kurs beli di Rp17.630,40. 

Baca juga: Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia

Pada saat yang sama, laporan pasar pada Kamis, 21 Mei 2026, menunjukkan rupiah masih berada dalam tekanan, dengan pembukaan di sekitar Rp17.652 per dolar AS dan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.600–Rp17.750. 

Ini berarti persoalan nilai tukar bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan tekanan nyata yang cepat atau lambat menjalar ke dapur rakyat kecil.

Secara teknis, benar bahwa sebagian besar warga desa tidak memegang dolar AS dalam transaksi sehari-hari. Mereka membeli beras, minyak goreng, pupuk, solar, dan kebutuhan rumah tangga dengan rupiah. 

Tetapi logika itu berhenti pada permukaan, karena harga banyak barang yang dikonsumsi masyarakat desa sangat dipengaruhi oleh komponen impor, biaya energi, biaya distribusi, dan sentimen pasar yang semuanya terkait dengan pergerakan dolar. 

Artinya, rakyat kecil tidak perlu memiliki dolar untuk terkena dampak dolar. Ketika rupiah melemah, barang impor menjadi lebih mahal, biaya logistik meningkat, harga bahan baku naik, dan pada akhirnya pedagang eceran, petani, nelayan, buruh, dan keluarga miskin di desa harus membayar lebih mahal untuk hidup yang sama. 

Dalam titik ini, pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” berubah dari retorika populis menjadi penyederhanaan yang tidak bijaksana.

Dampaknya bagi Warga Miskin

Kelompok miskin selalu menjadi pihak yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah karena penghasilan mereka tidak naik secepat harga-harga. 

Rumah tangga miskin di desa mengalokasikan porsi besar pendapatannya untuk pangan, transportasi, energi, dan biaya kerja produktif seperti pupuk atau pakan ternak, sehingga sedikit saja gejolak kurs dapat langsung menggerus daya beli mereka.

Bagi petani kecil, pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga pupuk, pestisida, benih tertentu, suku cadang mesin, dan ongkos distribusi hasil panen. 

Bagi nelayan dan buruh harian, pelemahan kurs bisa terasa lewat kenaikan harga solar, kebutuhan rumah tangga, dan bahan konsumsi pokok; sementara upah mereka tetap atau naik sangat lambat. 

Karena itu, mengatakan desa tidak terdampak dolar sama saja dengan menutup mata terhadap mekanisme ekonomi yang justru paling keras memukul orang miskin.

Lebih jauh lagi, ucapan semacam itu bisa menciptakan masalah etis dalam komunikasi publik. 

Ketika pemimpin memakai kalimat yang terdengar akrab tetapi mengabaikan penderitaan struktural, yang dibangun bukan keberpihakan, melainkan citra tenang di tengah kenyataan yang berat. 

Rakyat kecil tidak membutuhkan hiburan retoris; mereka membutuhkan kejujuran, perlindungan, dan kebijakan yang berpihak.

Kritik yang Perlu Disampaikan

Klarifikasi dari pihak pemerintah menyebut bahwa ucapan Presiden dimaksudkan untuk menghibur warga desa dan menenangkan publik. 

Namun persoalannya bukan hanya niat, melainkan dampak dari pesan tersebut dalam ruang publik. 

Retorika yang meremehkan hubungan antara kurs dolar dan kesejahteraan desa berisiko melahirkan sikap abai terhadap penderitaan rakyat kecil, seolah-olah krisis nilai tukar hanyalah urusan elite kota.

Padahal kepemimpinan yang sehat tidak mengaburkan persoalan ekonomi dengan kalimat simplistis. Pemimpin boleh menenangkan, tetapi tidak boleh meninabobokan. 

Pemimpin boleh optimistis, tetapi tidak boleh memutus hubungan antara data makro dan jeritan rumah tangga miskin.

Dalam demokrasi, kritik terhadap ucapan semacam ini bukan bentuk kebencian kepada negara, melainkan usaha menjaga agar kebijakan publik tetap berpijak pada kenyataan. 

Pemerintah harus diingatkan bahwa ketahanan desa bukan alasan untuk meremehkan dampak kurs, melainkan alasan untuk lebih serius melindungi desa dari dampak kurs.

Mikha 6:8 dan Ujian Moral bagi Retorika Publik

Nabi Mikha menegaskan: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” 

Ayat ini memberi ukuran moral yang tajam untuk menilai pidato politik dan kebijakan negara. 

Sebuah pernyataan publik layak disebut baik bukan karena terdengar menenangkan, tetapi karena adil terhadap kenyataan, setia pada penderitaan rakyat, dan rendah hati di hadapan fakta.

Prinsip berlaku adil menuntut agar negara mengakui siapa yang paling menderita akibat pelemahan rupiah. 

Prinsip mencintai kesetiaan menuntut keberpihakan yang konsisten, bukan sekadar slogan populis. 

Prinsip rendah hati menuntut pemimpin untuk tidak merasa cukup dengan retorika yang lucu atau akrab, melainkan bersedia mendengar suara rakyat yang dompetnya semakin tipis.

Dengan terang Mikha 6:8, retorika “orang desa tidak pakai dolar” harus diuji secara moral. 

Bila kalimat itu membuat pemerintah lupa bahwa warga miskin tetap menanggung dampak kurs lewat harga pangan, transportasi, energi, dan biaya produksi, maka retorika itu gagal menjadi ungkapan keadilan.

Solusi yang Lebih Bertanggung Jawab

Pertama, pemerintah perlu jujur dalam komunikasi ekonomi. Masyarakat tidak perlu dipanaskan dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh ditenangkan dengan penyederhanaan yang menyesatkan. 

Komunikasi publik harus menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memang berdampak pada rakyat kecil, sambil menunjukkan langkah-langkah konkret untuk menahan dampaknya.

Kedua, perlindungan bagi warga miskin harus diperkuat melalui stabilisasi harga pangan, pengawasan distribusi, subsidi yang tepat sasaran, serta perlindungan biaya produksi petani dan nelayan. 

Ketika rupiah melemah, yang harus segera dijaga adalah meja makan rakyat dan keberlanjutan kerja produktif desa.

Ketiga, negara perlu memperkuat ekonomi desa secara substantif, bukan hanya simbolik. 

Kemandirian desa tidak cukup dipidatokan; ia harus dibangun lewat akses pupuk terjangkau, infrastruktur distribusi yang efisien, energi yang stabil, dukungan pasar bagi hasil tani dan nelayan, serta penguatan koperasi yang benar-benar menolong produsen kecil.

Keempat, para pemimpin publik harus belajar bahwa kerendahan hati adalah bagian dari kompetensi politik. 

Dalam situasi ekonomi yang sulit, rakyat lebih menghormati pemimpin yang jujur atas masalah dan serius menghadirkan solusi daripada pemimpin yang terdengar tenang tetapi gagal membaca luka sosial.

Harapan Rakyat Kecil di Tengah Guncangan Rupiah

Kalimat “orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok” mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi ia menyisakan masalah serius ketika dipertentangkan dengan realitas ekonomi rakyat kecil. 

Warga desa memang tidak membayar dengan dolar, tetapi mereka sangat mungkin membayar mahal akibat dolar yang menguat dan rupiah yang melemah.

Karena itu, yang dibutuhkan rakyat bukan retorika yang menghibur, melainkan keberanian moral untuk berkata benar, keberpihakan nyata pada yang lemah, dan kebijakan yang adil. 

Dalam terang Mikha 6:8, ukuran kepemimpinan bukan seberapa pandai merangkai kalimat populer, melainkan seberapa sungguh membela mereka yang paling mudah dikorbankan oleh guncangan ekonomi.

Pada akhirnya, harapan bagi rakyat kecil harus tumbuh dari kejujuran, keadilan, dan kesediaan negara untuk sungguh hadir menjaga yang lemah; sebab di tengah ekonomi yang keras, rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berbicara, tetapi pemimpin yang mau mendengar, mengerti, dan bertindak dengan hati. (*)

Daftar Referensi

  1. CNBC Indonesia. “Prabowo Tanggapi Rupiah Melemah: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar.” 15 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260516185140-4-735228/prabowo-tanggapi-rupiah-melemah-rakyat-desa-tak-pakai-dolar 
  2. Tempo. “Benarkah Pernyataan Prabowo soal Rakyat Desa Tak Pakai Dolar.” 17 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.tempo.co/ekonomi/benarkah-pernyataan-prabowo-soal-rakyat-desa-tak-pakai-dolar-2136326 
  3. Infobanknews. “Kata Presiden, Rakyat Desa Tak Pakai Dolar AS, Tapi Diam-diam Inflasi Mencopet Dompet Orang Desa.” 16 Mei 2026. Tersedia pada: https://infobanknews.com/kata-presiden-rakyat-desa-tak-pakai-dolar-as-tapi-diam-diam-inflasi-mencopet-dompet-orang-desa
  4. CNN Indonesia. “PDIP Ingatkan Prabowo Sebut Desa Tak Pakai Dolar: Harga Barang Naik.” 18 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260518152432-32-1359640/pdip-ingatkan-prabowo-sebut-desa-tak-pakai-dolar-harga-barang-naik
  5. BBC News Indonesia. “Masalah di Balik Pernyataan Presiden Prabowo ‘Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar’.” 17 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cze268ng743o 
  6. Bank Indonesia. “Kurs Transaksi BI.” Pembaruan terakhir 20 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/transaksi-bi/default.aspx 
  7. Bank Indonesia. “JISDOR.” Pembaruan 19 Mei 2026, data digunakan per 20 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/jisdor/default.aspx 
  8. Bisnis.com. “Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Kamis 21 Mei 2026.” 21 Mei 2026. Tersedia pada: https://market.bisnis.com/read/20260521/93/1975332/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-kamis-21-mei-2026 
  9. Alkitab SABDA. “Mikha 6:8 (Versi Paralel).” Tersedia pada: https://alkitab.sabda.org/?Mik+6 persen3A8 
  10. Disway. “Cek Kurs Dolar AS Hari Ini Kamis 21 Mei 2026, Rupiah Masih Loyo.” 21 Mei 2026. Tersedia pada: https://disway.id/read/947951/cek-kurs-dolar-as-hari-ini-kamis-21-mei-2026-rupiah-masih-loyo 
  11. Suara.com. “Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.652 per Dolar  AS.” 21 Mei 2026. Tersedia pada: https://www.suara.com/bisnis/2026/05/21/092141/rupiah-dibuka-menguat-tipis-ke-level-rp17652-per-dolar-as 
  12. YouTube. “Purbaya Klarifikasi Pernyataan Prabowo soal ‘Warga Desa Tak Pakai Dolar’.” Diakses dari hasil penelusuran pada Mei 2026. Tersedia pada: https://www.youtube.com/watch?v=BnWpzhHVjEY 
  13. JW.org. “Mikha 6:8—‘Hidup dengan Rendah Hati di Hadapan Allah’.” Tersedia pada: https://www.jw.org/id/ajaran-alkitab/ayat-alkitab/mikha-6-8/ 

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved