Opini
Opini: Membaca Pesta Babi dari Pesan Paus Leo XIV
Film Pesta Babi adalah fakta kelam yang disuguhkan kepada kita sebagai sesama anak bangsa agar segera insaf
Sorotan lensa kamera hadir bukan sebagai predator tetapi fasilitator yang membiarkan realitas masyarakat dan budayanya berbicara gamblang, telanjang tanpa pembatsan.
Pesta Babi: Medium Menyuarakan Fenomena Papua
Di tengah kendala akses informasi dan aksi pelarangan di ruang publik, film Pesta Babi harus diakui telah memainkan peran sosial yang penting sebagai instrumen komunikasi.
Ketika media arus utama (mainstream media) seringkali terperangkap dalam jurnalisme konflik penuh sensasi, film dokumenter macam ini malahan memberi ruang bagi pengungkapan aspek-aspek kemanusiaan yang hilang.
Baca juga: PMKRI Ende Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi
Film Pesta Babi ini muncul sebagai alarm sosial dan bentuk solidaritas melihat krisis agraria, deforestasi serta perlindungan hak masyarakat adat di Papua Selatan.
Film ini menjadi corong menyuarakan fenomena Papua bukan dari sisi angka statistik peningkatan ekonomi di sana ataupun laporan keamanan, tetapi dari alam, budaya dan ritual adat yang selama ini dirawat dan dihidupi.
Penonton diajak melihat dari dekat bagaimana pergeseran tatanan sosial dan fungsi suatu ekosistem, serta desakan modernisasi yang ikut menentukan struktur hidup sosial masyarakat Papua.
Pendeknya, film ini dapat dikatakan berhasil mentransformasikan rasa sakit akibat ketidadilan struktural menjadi satu gugatan atas kesadaran kolektif kita sebagai bangsa.
Menjaga Wajah dan Suara Manusia (Papua)
Di atas semua polemik seputar film ini, kiranya jernih bagi kita, bahwa film Pesta Babi menemukan pijakan filosofis teologisnya dalam pesan Paus Leo XVI.
Paus menegaskan bahwa di zaman modern, ancaman terbesar kemanusiaan hari ini yaitu hilangnya “wajah”, yaitu identitas unik manusia, dan “suara”, otonomi diri manusia akibat terkikis sistem hidup yang gagal melihat eksistensi manusia sebagai pribadi utuh.
Dalam konteks ini, hemat penulis, Pesta Babi hadir bukan sebagai satu hiburan. Ia adalah instrumen penjaga wajah dan suara manusia umumnya, dan terkhusus manusia Papua.
Pertama. Menjaga “Wajah”. Mempertontonkan wajah manusia Papua dalam film ini sebenarnya tidak dimaksudkan menelanjangi atau membeberkan aib, tetapi suatu sikap pembaharuan identitas masyarakat Papua itu sendiri.
Menampilkan perjuangan para tetua adat dan para mama papua akan lingkungan hidup dan hak ulayatnya adalah upaya subversif melawan narasi pembangunan melalui Program Strategis Nasional (PSN) yang berdampak destruktif terhadap ekosistem lingkungan hidup.
Wajah-wajah ini menuntut pengakuan bahwa merekalah pelaku sejarah dan penjaga tanah yang sejak awal mula menjadi ibu mereka. Wajah-wajah itu menegaskan, bahwa mereka bukan sebatas hiasan bagi program pembangunan.
Kedua, Menjaga “Suara”. Suara yang terdengar dalam film ini adalah satu bentuk pernyataan eksistensial.
Melalui dialog, tuturan, nyanyian, ratapan maupun kesunyian di celah adegan, film ini sebetulnya mau mengembalikan hak bersuara (right to speak) bagi mereka yang selama ini dibungkam.
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Ketika Keberanian Bicara- Pelajaran Etika dari Sebuah Protes di Panggung LCC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Armando-Labetubun-SVD.jpg)