Opini
Opini: Seorang Ratu dari Bumi Merapu
Logika pikir pembangunannya terbaca mudah. Kita mulai dari yang nyata dan menyentuh kebutuhan dasar.
Satu Apresiasi
Oleh: Wilfrid Babun, SVD
Pegiat Literasi TBM St. Josef Freinademetz Tambolaka Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Bagaimana kalau seorang Ratu turun ke bumi Merapu? Itulah yang terjadi.
Di tanah Sumba Barat Daya yang dijaga roh leluhur Marapu, ada seorang perempuan. Dia hebat. Namanya Ratu Ngadu Bonu Wulla. Dia memilih dengan sungguh sadar untuk turun gunung.
Turun ke akar rumput. Bukan dengan janji. Bukan hanya omon-omon. Baginya, omon-omon itu, cukup! Tidak up date!
Dia membawa terang. Mau tahu. Di tangannya ada meteran listrik gratis. Ada agenda rumah rakyat harus layak huni dan higienis. Pos bantuan hukum pun mesti menyentuh desa terjauh. Luar biasa.
Sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara, Ratu Wula mengemban amanah langit dan bumi. Bupati Sumba Barat Daya periode 2025–2030, punya tekad kuat.
Ini momentum, waktu berahmat untuk merakyat, tinggal di hati rakyat.Tidak heran, dua hari dalam sepekan, dia luangkan waktu untuk dengarkan aspirasi grass root. Apa kata rakyat.
Baca juga: Opini: Veronika - Dari Kamar Mandi ke Panggung Nasional
Lahir di Waikabubak, 12 Oktober 1979. Ia bukan wajah baru dalam pengabdian publik.Juga arena politik lokal dan nasional.
Pernah di Senayan sebagai Anggota DPR RI 2019–2024 dari Dapil NTT II Partai Nasional Demokrat, Nasdem.
Kiprah sosial politiknya juga unik. Seorang akademisi, Sarjana Teknik Sipil Universitas Mataram.
Logika pikir pembangunannya terbaca mudah. Kita mulai dari yang nyata dan menyentuh kebutuhan dasar.
Ada duet segar kepemimpinan: Ratu Ngadu Bonu Wulla dan Wakil Bupati Dominikus A.R Kaka, Sumba Barat Daya. Dan merenda visi luhur kemanusiaan pembangunan: “Terwujudnya Kabupaten Sumba Barat Daya hebat yang Berkarakter, Sehat, Cerdas, Berketahanan Pangan, dan Berbudaya Menyongsong Indonesia Emas 2045."
Masih terekam segar di memori kolektif tagline ini: "SBD Menyala". Visi ini dijabarkan dalam misi penguatan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas SDM, pengembangan ekonomi kerakyatan, tata kelola pemerintahan yang bersih, serta pelestarian budaya dan lingkungan.
Dari yang paling dasar
Program-program yang berjalan menjadi signal kuat, bahwa visi itu mulai beranjak dari hal-hal yang menyentuh langsung masyarakat.
Senin, 11 Mei 2026, di Ro’o Luwa Café n Resto, Tambolaka, Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla meluncurkan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS Tahun 2026.
Anggaran Rp 13,175 miliar disiapkan untuk membantu 455 rumah tidak layak huni.
"Rumah yang layak akan menentukan kesehatan, rasa aman, bahkan masa depan anak-anak. Karena itu, pemerintah harus hadir, memastikan masyarakat kecil memperoleh hunian yang manusiawi."
Ada pembangunan infrastruktur fasilitas kesehatan masyarakat. Pada Jumat 13 Februari 2026 Bupati meresmikan gedung baru Puskesmas Tanggaba di Desa Kadahang, Kecamatan Tambolaka Kota.
Pada Rabu, 19 Februari 2026, Kabupaten Sumba Barat Daya menerima penghargaan dari Kementerian Hukum atas keberhasilan dalam menyediakan akses bantuan hukum melalui Pos Pelayanan Hukum atau Posbankum.
Bagaimana daerah bisa menghadirkan akses keadilan yang merata sampai di tingkat desa.
"Penghargaan ini kami didekasikan untuk seluruh masyarakat Sumba Barat Daya. Dengan adanya Posbankum, kita ingin memastikan setiap warga, tanpa kecuali, mendapat hak-hak hukumnya dengan mudah dan tanpa biaya," demikian Ratu Wula seusai menerima penghargaan ini.
Tagline, "Menyala" bukan sekadar slogan ompong. Tapi bikin sejarah nyata menuju Sumba Barat Daya yang lebih baik mulai dari yang mendasar.
Di sektor energi, Pemkab SBD mendapat apresiasi nasional. Melalui Pos Kupang Award 2025 pada 16 Desember 2025 di Aston Hotel Kupang.
Penghargaan Kategori Pembangunan Infrastruktur Esensial, diberikan. Karena, dinilai berhasil dalam program meteran listrik gratis bagi warga yang sebelumnya tidak terjangkau.
Program ini dinilai sukses menekan ketimpangan energi dan mempercepat elektrifikasi di wilayah Bumi Marapu.
Ini sederet jejak digital yang bisa direkam. Ada bentuk pengakuan Nasional karena punya komitmen di tingkat lokal.
Perempuan, Insinyur, dan Tanah Marapu
Yang membuat gerak Ratu Wula unik adalah perpaduan latar belakangnya. Dia seorang insinyur sipil dan perempuan asli Sumba pertama yang menahkodai Sumba Barat Daya.
Ia paham betul karakter Sumba pada umumnya. Dan beliau punya credo bahwa pembangunan fisik tanpa racikan gurih penguatan sumber daya manusia,terasa akan pincang. Bangun jiwa, bangun raga, itu baru mantap.
Karena itu, setiap program yang ia kemas, selalu menyentuh tiga dimensi kunci: rumah, energi, dan keadilan.
Dan di tengah tantangan geografis dan keterbatasan, Ratu Wula memilih jalan elok: kolaboratif.
Beliau cerdas membangun jejaring sosial.Ia merangkul pemerintah pusat, provinsi, DPRD, hingga masyarakat adat untuk memastikan tidak ada warga SBD yang tertinggal dan ditinggalkan.
Sumba Barat Daya mungkin saja periferial, jauh dari pusat kekuasaan. Tapi di bawah kepemimpinannya, SBD bisa membuktikan. Bahwa kerja nyata bisa bergema hingga ke panggung nasional.
Dia, seorang Ratu dari Bumi Merapu Sumba Barat Daya, NTT (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)