Opini
Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia
Pelemahan rupiah yang terus terjadi sering dipahami sekadar sebagai fluktuasi ekonomi biasa atau persoalan pasar valuta asing.
Oleh: Johanes De Brito Siga Nono, S.H., MIR., MIL.
Dosen pada Fakultas Hukum, Universitas Nusa Cendana ( Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa bulan terakhir, penguatan dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia.
Pelemahan rupiah yang terus terjadi sering dipahami sekadar sebagai fluktuasi ekonomi biasa atau persoalan pasar valuta asing.
Padahal, di balik menguatnya dolar terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks: ketimpangan sistem ekonomi global, kerentanan struktur ekonomi nasional, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan politik dalam negeri.
Dominasi dolar memperlihatkan bagaimana kekuatan ekonomi global tidak hanya bekerja melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui kontrol terhadap sistem finansial internasional yang mampu memengaruhi arah kebijakan negara berkembang.
Dalam konteks Indonesia, penguatan dolar sesungguhnya menjadi cermin rapuhnya ketahanan nasional dalam menghadapi tekanan global yang terus berubah.
Dominasi Dolar dan Ketimpangan Sistem Global
Penguatan dolar menunjukkan bahwa sistem ekonomi global hingga hari ini masih sangat dipengaruhi oleh dominasi Amerika Serikat.
Dolar bukan sekadar mata uang, melainkan instrumen kekuasaan global yang mengendalikan perdagangan internasional, cadangan devisa, hingga arus investasi dunia.
Dalam perspektif hubungan internasional, kondisi ini mencerminkan bagaimana hegemonic stability bekerja melalui kekuatan finansial.
Baca juga: Di Tengah Koreksi Rupiah, Pemerintah Jelaskan Perbedaan Kekuatan Ekonomi RI 2026 dengan 1998
Kebijakan ekonomi Amerika Serikat, terutama kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, memicu perpindahan modal global menuju Amerika Serikat yang dianggap lebih aman.
Dampaknya langsung dirasakan negara berkembang seperti Indonesia melalui pelemahan nilai tukar, tekanan terhadap pasar keuangan, serta meningkatnya biaya impor.
Situasi ini menunjukkan bahwa negara berkembang masih berada dalam posisi rentan terhadap sistem ekonomi global yang tidak sepenuhnya setara.
Dalam perspektif Third World Approaches to International Law, dominasi dolar juga memperlihatkan bagaimana hukum ekonomi internasional kerap mempertahankan relasi ketergantungan antara negara maju dan negara berkembang.
Secara formal prinsip sovereign equality memang diakui, tetapi dalam praktiknya kekuatan ekonomi global tetap didominasi oleh negara-negara besar yang memiliki kontrol terhadap sistem finansial internasional.
Rapuhnya Struktur Ketahanan Ekonomi Indonesia
Penguatan dolar pada akhirnya memperlihatkan kelemahan mendasar dalam struktur ekonomi Indonesia.
Ketergantungan terhadap impor energi, teknologi, bahan baku industri, dan kebutuhan pangan strategis membuat pelemahan rupiah cepat berdampak pada sektor domestik.
Ketika dolar menguat, biaya produksi meningkat, harga barang naik, dan daya beli masyarakat perlahan menurun.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga memengaruhi ruang fiskal negara.
Pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk pembayaran utang luar negeri, subsidi energi, dan stabilisasi ekonomi jangka pendek.
Akibatnya, ruang pembangunan di sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan infrastruktur menjadi semakin terbatas.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih belum cukup kuat menghadapi tekanan global.
Industrialisasi belum sepenuhnya matang, hilirisasi belum merata, dan ketergantungan terhadap impor strategis masih tinggi.
Karena itu, penguatan dolar seharusnya menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penguatan industri nasional, ketahanan pangan dan energi, serta diversifikasi perdagangan internasional.
Krisis Ekonomi dan Ancaman Stabilitas Nasional
Krisis ekonomi pada dasarnya tidak pernah berhenti pada persoalan angka statistik.
Ketika tekanan ekonomi mulai dirasakan masyarakat secara langsung, dampaknya dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan institusi negara.
Ancaman terbesar dari penguatan dolar bukan hanya inflasi, tetapi potensi lahirnya instabilitas sosial dan politik akibat meningkatnya tekanan ekonomi masyarakat.
Indonesia pernah mengalami situasi serupa pada Krisis Moneter Asia 1997–1998.
Runtuhnya rupiah terhadap dolar pada saat itu bukan hanya menghancurkan stabilitas ekonomi, tetapi juga mengguncang legitimasi politik nasional.
Dalam kondisi penuh tekanan, masyarakat cenderung menerima berbagai narasi sederhana tentang penyebab krisis, mulai dari isu konspirasi asing hingga permainan pasar internasional.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep diversionary tactics dalam politik internasional, ketika elite politik menggunakan isu eksternal untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan domestik.
Retorika nasionalisme ekonomi, sentimen anti-asing, dan narasi ancaman geopolitik biasanya menguat ketika kondisi ekonomi dalam negeri sedang rapuh.
Karena itu, penguatan dolar harus dibaca bukan hanya sebagai tantangan ekonomi, tetapi juga sebagai ancaman terhadap stabilitas nasional apabila negara gagal membangun ketahanan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Alarm bagi Masa Depan Ketahanan Indonesia
Pada akhirnya, penguatan dolar seharusnya menjadi alarm serius bagi Indonesia untuk membangun ketahanan nasional yang lebih kuat.
Intervensi pasar dan kebijakan moneter jangka pendek memang penting, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan akar persoalan.
Tanpa perubahan struktural yang mendasar, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan setiap kali terjadi gejolak ekonomi global.
Dalam dunia yang semakin saling terhubung, krisis ekonomi dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis legitimasi, polarisasi sosial, bahkan ancaman terhadap stabilitas negara.
Karena itu, memperkuat ketahanan ekonomi nasional bukan lagi sekadar agenda pembangunan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas Indonesia di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Johanes De Brito Siga Nono
pelemahan rupiah
Dolar Amerika Serikat
dolar amerika
kurs rupiah
Opini Pos Kupang
Meaningful
| Opini: Pesta Babi- Bising bagi Mereka, Hidup bagi Kami |
|
|---|
| Opini: Membangun Komunikasi Kasih di Tengah Dunia yang Ramai Bicara |
|
|---|
| Opini: Pesta Babi- Tamparan Bagi Negara yang Gagal Berpesta Secara Manusiawi |
|
|---|
| Opini: Bangkit dari Penyeragaman-Jalan Baru NTT Keluar dari Kemiskinan |
|
|---|
| Opini: Hantavirus dan Kepanikan Publik-Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Virus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dolar-Amerika-Ilustrasi.jpg)