Opini
Opini: Kolonialisme Modern
Film dapat menjadi medium memahami krisis kemanusiaan. Sinema bukan sekadar industri hiburan komersial.
Kolonialisme modern memahami logika tersebut dengan baik. Karena itu eksploitasi terus berlangsung dalam bentuk baru. Film berhasil membaca persoalan itu secara simbolik.
Bahasa Kuasa
Kolonialisme bergerak melalui penguasaan bahasa dan makna. Bahasa menentukan cara manusia memahami realitas.
Dalam masyarakat pascakolonial, bahasa asing dianggap lebih bergengsi. Identitas lokal perlahan kehilangan legitimasi sosialnya.
Film menyindir kecenderungan itu secara subtil dan emosional. Tokoh-tokohnya tampak asing terhadap akar budayanya sendiri. Mereka hidup dalam ruang sosial yang kehilangan orientasi.
Media digital memperkuat kolonialisme budaya secara masif. Informasi bergerak cepat, tetapi kehilangan kedalaman reflektif. Publik dibanjiri narasi sensasional setiap hari.
Kemampuan berpikir kritis semakin melemah. Masyarakat mudah diarahkan oleh opini populer. Ruang refleksi semakin sempit dalam kehidupan digital.
Film justru bergerak ke arah sebaliknya. Penonton diajak membaca simbol dan relasi sosial perlahan.
Karya budaya akhirnya memiliki fungsi pendidikan sosial. Film dapat menjadi medium memahami krisis kemanusiaan. Sinema bukan sekadar industri hiburan komersial.
Ia dapat menjadi arsip kegelisahan sebuah bangsa. Demokrasi membutuhkan ruang refleksi Tanpa kesadaran itu, masyarakat mudah dijajah kembali. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)