Opini
Opini: Pesta Babi dan Sikap Kristen di Tengah Krisis Sosial Politik
Fokus pada isu-isu sensasional yang viral sering kali membuat kita buta terhadap penderitaan sesama yang nyata di depan mata.
Melawan Pembungkaman dalam Terang Costly Discipleship
Oleh: Armando Labetubun, SVD
Alumnus Program Magister Teologi IFTK Ledalero. Guru pada SMAK Santo Arnoldus Janssen Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Hari-hari belakangan ini, ruang digital kita sedang diramaikan oleh viralitas film dokumenter bertajuk Pesta Babi.
Secara sosiologis, konten semacam ini kerap kali memicu ketegangan identitas di tengah masyarakat majemuk.
Namun, jika kita menyoroti lebih dalam dengan pengamatan kritis, viralitas isu-isu identitas sering kali mencuat ke permukaan sebagai ‘tabir asap’ atau distraksi kolektif, yakni pengalihan perhatian publik dari satu fenomena penting.
Baca juga: Opini: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi NTT
Di balik riuh rendah debat terkait hal-hal yang bersifat permukaan, terdapat fakta yang jauh lebih pekat: pembungkaman suara kritis, pembabatan hutan yang ugal-ugalan, penghancuran sistem ekologi demi akumulasi kapital, serta korupsi yang telah menyebar begitu masif dan bersarang dalam rupa-rupa kebijakan publik yang berdaya rusak sangat hebat.
Bagi komunitas Kristen, fenomena ini memunculkan pertanyaan eksistensial: Di manakah posisi Gereja?
Apakah Gereja hanya akan terjebak dalam perdebatan moralitas individual, ataukah ia berani melangkah ke wilayah etika sosial yang lebih luas?
Di sinilah pemikiran Dietrich Bonhoeffer, teolog dan martir Jerman, memberikan gema yang kuat.
Melalui konsepnya tentang Costly Discipleship (Pemuridan yang Menuntut Harga), Bonhoeffer menantang Gereja menanggalkan jubah kenyamanan dan membenamkan diri ke dalam lumpur penderitaan dunia sebagai satu bentuk pertanggungjawaban iman kongkret.
Cheap Grace: Anugerah Murahan
Bonhoeffer, dalam adikaryanya The Cost of Discipleship, memperkenalkan term “Anugerah Murahan” (Cheap Grace). Ia mendefinisikannya sebagai anugerah yang kita sematkan kepada diri kita sendiri.
Anugerah murahan adalah pengampunan tanpa penyesalan, baptisan tanpa disiplin gerejawi, dan persekutuan hidup tanpa pengakuan dosa sosial.
Dalam konteks krisis sosial politik hari ini, anugerah murahan menjelma dalam sikap Gereja yang memilih “diam demi stabilitas”.
Dari perspektif Pesta Babi, kita menyaksikan secara kasat mata eksploitasi lingkungan alam Papua dan upaya penyingkiran sistemik peradaban serta budaya.
Di saat yang sama, upaya pembungkaman suara kritis masif terjadi termasuk intimidasi serius selama pemutaran film Pesta Babi di sejumlah daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Armando-Labetubun-SVD.jpg)