Opini
Opini: Doa Syafaat untuk Status PPPK
Di NTT hari ini, sebagian rakyat kecil hidup bukan dari kepastian regulasi, tetapi dari kemampuan menafsir pidato pejabat.
Ia tidak memberikan janji instan hanya supaya murid murid tenang sementara waktu. Sebaliknya, Yesus berkata: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu.”
Kalimat itu sering dianggap sebagai ajakan untuk pasrah. Padahal sesungguhnya Yesus sedang menunjukkan bahwa iman tidak boleh dibangun di atas manipulasi harapan publik.
Yesus menolak menggunakan bahasa sebagai alat untuk mempermainkan kecemasan manusia.
Masalah kita hari ini justru sebaliknya. Politik modern terlalu sering bekerja dengan cara memproduksi harapan sebelum menghadirkan kepastian struktural. Bahasa publik kehilangan bobot moralnya.
Kata-kata dipakai untuk menjaga suasana tetap tenang, tetapi tidak segera diwujudkan dalam keberanian administratif.
Akibatnya masyarakat hidup dalam kondisi yang dalam ilmu sosial disebut sebagai job insecurity atau rasa tidak aman terhadap masa depan pekerjaan.
Penelitian Sihombing dan Sihombing (2024) menunjukkan bahwa sistem PPPK berbasis kontrak berpotensi menciptakan ketidakpastian psikologis karena keberlanjutan kerja sangat bergantung pada keputusan institusi dan arah kebijakan politik.
Penelitian Nugroho et al. (2025) bahkan menyebut situasi ini sebagai bentuk precarity, yaitu kondisi hidup yang rapuh akibat ketidakpastian kerja, lemahnya perlindungan sosial dan masa depan ekonomi yang tidak stabil.
Bahasa akademiknya mungkin terdengar rumit. Tetapi pengalaman rakyat kecil sebenarnya sangat sederhana: tidur dengan rasa takut bahwa hidup dapat berubah hanya karena satu surat belum ditandatangani. Dan ketakutan seperti itu tidak boleh terus dianggap normal.
Sebab ketika negara terlalu lama membiarkan rakyat hidup dalam ketidakjelasan, yang rusak bukan hanya ekonomi rumah tangga. Yang perlahan rusak adalah rasa percaya masyarakat terhadap makna kata kata itu sendiri.
Bahasa Negara yang Kehilangan Wibawa Moral
Di NTT, banyak PPPK bukan sedang mengejar kemewahan. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang. Mereka mengajar di sekolah terpencil yang murid muridnya berjalan kaki jauh setiap pagi.
Mereka melayani di puskesmas kecil yang kekurangan tenaga kesehatan. Mereka bekerja di kantor kecamatan dengan fasilitas yang bahkan sering tidak memadai.
Mereka membantu menopang ekonomi keluarga besar yang bergantung pada satu penghasilan.
Karena itu, ketika status mereka tidak jelas, yang terguncang bukan hanya individu, tetapi seluruh rantai kehidupan sosial di bawahnya.
Ironisnya, masyarakat kita terlalu sering diminta “bersabar” tanpa diberi kepastian yang jelas. Bahkan kadang kadang rakyat dibuat merasa tidak tahu berterima kasih ketika mulai mempertanyakan nasib mereka sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru.jpg)