Opini
Opini: Doa Syafaat untuk Status PPPK
Di NTT hari ini, sebagian rakyat kecil hidup bukan dari kepastian regulasi, tetapi dari kemampuan menafsir pidato pejabat.
Ada guru di pulau terpencil yang tetap mengajar sambil menyimpan kecemasan apakah tahun depan namanya masih tercatat dalam sistem.
Ketika isu pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen APBD dalam Undang Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mulai ramai dibicarakan, ribuan PPPK di NTT langsung hidup dalam ketakutan kolektif (Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2022).
Pemerintah Provinsi NTT bahkan mengakui adanya keresahan itu. Diskominfo NTT mencatat bagaimana PPPK datang menyampaikan ketakutan mereka kepada gubernur dan meminta kepastian agar tidak dirumahkan (Diskominfo NTT, 2026).
Media nasional juga memberitakan sekitar 9.000 PPPK NTT sempat dibayangi ancaman ketidakjelasan status akibat persoalan fiskal daerah dan polemik regulasi belanja pegawai (Detik Bali, 2026).
Masalahnya bukan hanya soal kemampuan negara membayar pegawai. Masalah yang lebih dalam adalah ketika rakyat kecil dipaksa menggantungkan rasa aman hidupnya pada kalimat yang belum berubah menjadi keputusan hukum. Dan itu melelahkan secara batin.
Sebab di daerah kepulauan seperti NTT, hidup memang sejak awal sudah berat. Harga barang mahal. Kapal tidak selalu berjalan tepat waktu. Listrik di beberapa tempat masih sering padam.
Jaringan internet kadang hilang berhari hari. Tetapi di tengah semua keterbatasan itu, orang masih bertahan karena percaya negara setidaknya mampu memberi kepastian terhadap pekerjaan mereka.
Sayangnya, yang datang justru terlalu banyak pernyataan dan terlalu sedikit kepastian tertulis.
Iman yang Bergantung pada Mikrofon Kekuasaan
Di titik inilah Kisah Para Rasul 1:6–11 terasa sangat dekat dengan realitas kita hari ini.
Menjelang kenaikan Yesus, para murid datang dengan satu pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Mereka meminta kepastian. Mereka ingin mengetahui kapan keadaan berubah. Mereka berharap Yesus segera menghadirkan pemulihan politik yang konkret.
Sebab hidup terlalu lama dalam ketidakjelasan membuat manusia haus akan kepastian.
Dan bukankah pertanyaan yang sama sedang hidup di banyak rumah PPPK hari ini?
“Kapan status kami benar benar aman?”
“Kapan janji itu menjadi surat resmi?”
“Kapan hidup kami tidak lagi bergantung pada rumor birokrasi?”
Menariknya, Yesus tidak menjawab dengan retorika penghiburan politik. Ia tidak menjual optimisme murah demi menjaga emosi massa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru.jpg)