Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Cahaya dari Timur

Dream merujuk pada bayangan masa depan yang selaras dengan harapan-harapan terdalam dan aspirasi-aspirasi tertinggi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ADRIANUS NGONGO
Adrianus Ngongo 

Catatan Pasca Bedah Buku “Transformasi Dimulai Dari Ruang Kelas”

Oleh: Adrianus Ngongo
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tepat pada Perayaan hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Manggarai Timur dalam kolaborasi dengan Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI menyelenggarakan sebuah kegiatan ‘mewah’, Bedah Buku berjudul Transformasi Dimulai dari Ruang Kelas. 

Prolog buku ditulis oleh Gubernur NTT, E. Melkiades Lakalena. Epilog oleh Rektor Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng, RD. Agustinus Manfred Habur. Editor buku Marianus Mantovanny Tapung dan Adrianus Ngongo

Penulis Lukas Sumba, Frumensius Hemat, Eduardus Sateng Tanis, Ferdinandus Fifardin, dkk. 

Peserta bedah buku adalah para pengawas, kepala sekolah, guru dan siswa yang berasal dari 47 SMA di Manggarai Timur.

Baca juga: Opini: Mazmur Mazmur Nusantara

Bedah buku ini istimewa karena merepresentasikan semangat juang para guru untuk berbenah dengan fokus pada potensi yang dimiliki. Segala keterbatasan bukanlah penghalang untuk bertumbuh dan berkembang. 

Tantangan medan dan infrastruktur jalan untuk sampai di Watunggong, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, lokasi bedah buku, contohnya, tidak memadamkan api semangat guru dan siswa untuk tetap berkarya dan berpartisipasi dalam acara tersebut.

Appreciative inquiry

Dalam dunia akademis, ada sebuah pendekatan yang selaras dengan semangat para guru di Manggarai Timur. David Cooperrider dan Suresh Srivastva merupakan perintis lahirnya pendekatan ini. 

Pendejatan ini dikenal dengan nama appreciative inquiry. Banawiratma (2013) mendefinisikan appreciative inquiry sebagai suatu proses dan pendekatan pengembangan organisasi untuk mengubah tata kelola yang tumbuh dan berkembang dari pemikiran konstruksionis sosial dan aplikasinya pada tata kelola dan transformasi organisasional. 

Appreciative inquiry merupakan pencarian bersama untuk menemukan apa yang terbaik pada kelompok, organisasi, atau dunia sekitarnya. 

Usaha ini dijalankan secara sistematis agar ditemukan apa saja yang menghidupkan suatu sistem agar sistem itu berfungsi paling efektif dan kapabel.

Appreciative inquiry berpusat pada energy positif. Dengan bertolak dari sikap positif, perubahan-perubahan yang sering tidak disadari, tiba-tiba muncul. 

Tujuannya bukan mengeritik, menegasi atau mendiagnosis penyakit tetapi 4 D (Discovery, Dream, Design, Destiny). 

Discovery  mengacu pada identifikasi dan apresiasi potensi terbaik yang dimiliki komunitas atau individu.

Potensi terbaik dapat ditemukan melalui dialog dan apresiasi individu. Visi pribadi dapat berkembang menjadi visi kolektif karena diapresiasi sebagai tujuan bersama.

Dream merujuk pada bayangan masa depan yang selaras dengan harapan-harapan terdalam dan aspirasi-aspirasi tertinggi. 

Dari berbagai harapan yang ditemukan dapat ditentukan harapan-harapan kunci berdasarkan pengalaman-pengalaman terbaik yang dialami. 

Sementara design menunjuk konstruksi arsitektur organisasi. Design menghubungkan temuan positif dengan yang diimpikan. 

Melalui dialog, komitmen bersama menuju masa depan dibangun. Kuncinya adalah adanya konteks  yang inklusif dan suportif.

Destiny merujuk pada pencapaian bersama melalui inovasi dan aksi kolektif. Semua yang terlibat berusaha membangun masa depan, menciptakan apa yang menjadi keinginan bersama, memberdayakan, belajar, mengadaptasi, berimprovisasi, membangun kapasitas.

Dari keterpurukan bergerak bersama menuju transformasi dengan tindakan kolektif. 

Menggali Potensi

Buku Transformasi dimulai dari Ruang Kelas adalah karya yang lahir dari fokus rekan-rekan guru di Manggarai Timur yang melihat potensi terbaiknya untuk bertumbuh. 

Kapasitas literasi dari individu-individu yang tersebar di 47 SMA di wilayah ini merupakan potensi terbaik yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya terbaik. 

Karya tersebut berdampak pada perubahan yang terjadi secara internal di kalangan guru di Manggarai Timur dan secara eksternal bagi pihak lain di luar Manggarai Timur

Kesuksesan melahirkan buku ini telah menciptakan kegelisahan dan semangat guru lain untuk dapat pula berkontribusi dalam terbitan buku berikutnya. 

Pihak eksternal juga memandang pencapaian ini dapat direplikasi di wilayah mereka. Ujungnya tentu terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik bukan saja dalam hal literasi ptapi juga pada berabgai aspek kehidupan lain di masa depan. 

Sebab sejatinya, perubahan selalu diawali oleh literasi yang baik yang sangat berperan dalam membentuk pola pikir.

Manggarai Timur yang terletak di sebelah timur wilayah Manggarai masih berhadapan dengan beragam soal. Salah satu soal utamanya adalah infrastruktur jalan. 

Untungnya situasi minus ini tidak membuat guru-gurunya tenggelam dalam mengutuki dan mengeluhkan keadaan. Keterbatasan yang dihadapi diterima sebagai realitas yang butuh waktu untuk diperbaiki. 

Dan karena itu, isu tersebut tidak boleh menjadi penghambat untuk menunjukkan semangat untuk berprestasi.  

Guru-guru ini menunjukkan bahwa Manggarai Timur dapat berubah dengan mendorong potensi terbaiknya muncul sebagai lokomotif yang mengerek aspek-aspek kehidupan lainnya bergerak maju.

Potensi literasi yang bertebaran di hampir semua sekolah di Manggarai Timur adalah motor penggerak perubahan. Letupan-letupan api kecil dari sekelompok guru mampu menyalakan cahaya literasi bagi banyak pihak. Sebuah karya berisikan ide dan pandangan guru soal pendidikan yang lebih baik mampu diproduksi. 

Andai para guru tetap berkutat dengan kekurangan yang dimiliki tentu karya ini tak akan pernah hadir. Namun oleh karena mereka melihat potensi yang dimiliki dan yakin dengan potensi tersebut maka buku ini terbit dan layak dibaca oleh berbagai kalangan. 

Inilah cahaya dari Timur. Cahaya yang mampu membebaskan warganya dari kegelapan. Proficiat buat sahabat guru yang ogah mengeluh dan mengutuki gelap tetapi beraksi menyalakan lilin dari Timur. 

Sebab si bijak berkata, daripada mengutuki gelapnya malam lebih baik menyalakan sebatang lilin untuk menerangi jalan.  Semoga lilin literasi yang telah dinyalakan para guru juga menyalakan lilin-lilin kehidupan yang lain. 

Sebatang lilin membutuhkan sokongan lilin-lilin lain agar gelap dapat benar-benar disingkirkan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved