Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MIKE KERAF
Mike Keraf 

Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.

Ketika tradisi mulai dilihat terutama sebagai komoditas, ketika laut hanya dibaca sebagai angka produksi, ketika generasi muda perlahan tercerabut dari akar nilai komunitas, maka sebenarnya kita sedang menyaksikan erosi batin sebuah peradaban.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar kelangsungan tradisi Leva. Yang dipertaruhkan adalah cara manusia memahami hidup.

Jika Lamalera kehilangan semangat gotong royongnya, maka dunia kehilangan salah satu contoh nyata bahwa manusia masih bisa hidup dalam solidaritas.

Karena itu menjaga Lamalera bukan sekadar tugas masyarakat adat atau Gereja. Ini tugas bersama:
negara,
komunitas budaya,
kaum muda,
lembaga pendidikan,
dan semua orang yang masih percaya bahwa dunia tidak boleh dibangun di atas keserakahan.

Harapan yang Masih Mendayung

Di tengah segala krisis itu, masyarakat Lamalera tetap mendayung.

Mereka tahu ombak bisa besar.
Mereka tahu badai bisa datang.
Mereka tahu hasil tangkapan tidak selalu pasti.

Tetapi mereka tetap turun ke laut.

Di situlah harapan menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan optimisme kosong, melainkan keberanian untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian.

Mungkin dunia hari ini membutuhkan lebih banyak “Lamalera”: komunitas yang menjaga keseimbangan, yang menghormati alam, yang berbagi kehidupan,
dan yang percaya bahwa manusia tidak diciptakan untuk saling menelan.

Sebab ketika dunia semakin kehilangan arah, bisa jadi harapan justru datang dari sebuah kampung kecil di pesisir selatan Lembata — tempat orang-orang masih percaya bahwa hidup harus dijalani bersama. (*)

*) Mike Keraf, CSsR adalah seorang Rohaniawan Katolik atau pastor dan pejuang lingkungan asal Lembata, NTT, yang aktif berkarya di Sumba. Beliau dikenal sebagai Direktur Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders (Donders Foundation) di Sumba Barat Daya.

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved