Opini
Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa
Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.
Modernitas sering membanggakan kemajuan teknologi, tetapi gagal membangun kebijaksanaan. Kita memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa, tetapi kehilangan Roh kehidupan.
Akibatnya terlihat di mana-mana:
hutan habis,
laut tercemar,
manusia saling menyingkirkan,
dan bumi diperlakukan seperti barang sekali pakai.
Ketika Tradisi Kehilangan Jiwa
Bahaya terbesar sebuah kebudayaan bukanlah kepunahan fisik, melainkan kehilangan makna.
Lamalera bisa saja tetap memiliki perahu, ritual, dan festival. Tetapi jika semangat berbagi hilang, jika solidaritas digantikan persaingan, jika adat dipakai hanya sebagai tontonan wisata tanpa roh kehidupan, maka yang tersisa hanyalah folklor tanpa jiwa.
Di masa lalu, hasil tangkapan tidak berhenti di rumah pemilik perahu. Ia mengalir ke seluruh kampung:
kepada janda,
anak yatim,
keluarga miskin,
dan mereka yang menunggu di pesisir.
Di situ, ekonomi tidak berdiri di atas kerakusan, melainkan solidaritas.
Hari ini dunia modern justru bergerak sebaliknya: makanan melimpah, tetapi banyak orang lapar; kekayaan meningkat, tetapi kesenjangan makin tajam;
teknologi berkembang, tetapi kesepian sosial makin luas.
Lamalera mengingatkan bahwa peradaban tidak diukur dari seberapa tinggi gedung dibangun, tetapi dari apakah yang lemah masih mendapat tempat.
Lamalera sebagai Miniatur Dunia yang Diimpikan Tuhan
Di dalam Kitab Yesaya terdapat gambaran tentang dunia damai: “Serigala akan tinggal bersama domba.”
Itu bukan dongeng utopis. Itu visi tentang tatanan dunia baru:
dunia tanpa penyingkiran,
tanpa kerakusan,
tanpa penghancuran kehidupan.
Dan secara sederhana, nilai-nilai itu masih hidup di Lamalera.
Di sana, hidup dipahami sebagai sesuatu yang dibagi bersama.
Satu pantai.
Satu laut.
Satu kampung.
Satu nasib.
Tidak ada manusia yang boleh dibiarkan lapar sendirian.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, Lamalera sebenarnya sedang mempertahankan sesuatu yang mulai hilang dari peradaban modern: rasa “kita”.
Karena itu Lamalera tidak boleh hanya dipandang sebagai eksotisme budaya atau destinasi wisata. Lamalera adalah kritik sosial terhadap dunia modern yang semakin kehilangan solidaritas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mike-Keraf-01.jpg)