Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MIKE KERAF
Mike Keraf 

Dari Pesisir Lembata, Sebuah Seruan untuk Menyelamatkan Manusia dan Alam

Oleh: Mike Keraf, CSsR *

POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin bising oleh pasar, eksploitasi, dan perebutan sumber daya, sebuah kampung kecil di pesisir selatan Pulau Lembata masih menyimpan pertanyaan penting bagi peradaban modern: apakah manusia masih bisa hidup tanpa saling menyingkirkan?

Pertanyaan itu bernama Lamalera.

Setiap tahun, masyarakat Lamalera membuka musim Leva — musim melaut tradisional — bukan sekadar sebagai aktivitas ekonomi, melainkan ritus kehidupan. 

Perahu didorong ke laut bukan hanya untuk mencari hasil tangkapan, tetapi untuk merawat relasi antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan.

Namun hari ini, Lamalera sedang berdiri di persimpangan zaman.

Baca juga: BREAKING NEWS: Warga Lamalera Meninggal Tenggelam di Laut

Di satu sisi, ia dipuji sebagai warisan budaya dunia. Di sisi lain, ia mulai digerus perlahan oleh arus individualisme, tekanan ekonomi, krisis ekologis, migrasi generasi muda, perubahan iklim, hingga logika pasar yang menjadikan segala sesuatu layak dijual — termasuk tradisi dan laut itu sendiri.

Pertanyaannya: masihkah Lamalera mampu mempertahankan jiwanya?

Laut yang Tidak Lagi Sama

Para nelayan Lamalera tahu: laut sedang berubah. Musim semakin sulit dibaca. Angin bergeser. Gelombang membesar. Hasil tangkapan menurun. Ikan menjauh. Cuaca makin ekstrem. 

Krisis iklim global kini bukan lagi istilah akademik; ia telah menjadi kenyataan sehari-hari di tubuh para pendayung dan nelayan kecil.

Tetapi ancaman Lamalera bukan hanya datang dari alam.

Ancaman terbesar justru datang dari cara manusia modern memandang kehidupan:
bahwa laut hanyalah komoditas,
bahwa alam hanya sumber keuntungan,
bahwa keberhasilan diukur dari akumulasi,
dan bahwa manusia boleh mengambil sebanyak mungkin tanpa batas.

Di titik inilah Lamalera sebenarnya sedang memberi pelajaran besar kepada dunia.

Sebab dalam tradisi Lamalera, laut bukan objek penaklukan. Laut adalah ruang perjumpaan yang harus dihormati. Ada batas. Ada ritus. Ada etika. Ada kesadaran bahwa manusia tidak lebih besar dari alam.

Modernitas sering membanggakan kemajuan teknologi, tetapi gagal membangun kebijaksanaan. Kita memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa, tetapi kehilangan Roh kehidupan.

Akibatnya terlihat di mana-mana:
hutan habis,
laut tercemar,
manusia saling menyingkirkan,
dan bumi diperlakukan seperti barang sekali pakai.

Ketika Tradisi Kehilangan Jiwa

Bahaya terbesar sebuah kebudayaan bukanlah kepunahan fisik, melainkan kehilangan makna.

Lamalera bisa saja tetap memiliki perahu, ritual, dan festival. Tetapi jika semangat berbagi hilang, jika solidaritas digantikan persaingan, jika adat dipakai hanya sebagai tontonan wisata tanpa roh kehidupan, maka yang tersisa hanyalah folklor tanpa jiwa.

Di masa lalu, hasil tangkapan tidak berhenti di rumah pemilik perahu. Ia mengalir ke seluruh kampung:
kepada janda,
anak yatim,
keluarga miskin,
dan mereka yang menunggu di pesisir.

Di situ, ekonomi tidak berdiri di atas kerakusan, melainkan solidaritas.

Hari ini dunia modern justru bergerak sebaliknya: makanan melimpah, tetapi banyak orang lapar; kekayaan meningkat, tetapi kesenjangan makin tajam;
teknologi berkembang, tetapi kesepian sosial makin luas.

Lamalera mengingatkan bahwa peradaban tidak diukur dari seberapa tinggi gedung dibangun, tetapi dari apakah yang lemah masih mendapat tempat.

Lamalera sebagai Miniatur Dunia yang Diimpikan Tuhan

Di dalam Kitab Yesaya terdapat gambaran tentang dunia damai: “Serigala akan tinggal bersama domba.”

Itu bukan dongeng utopis. Itu visi tentang tatanan dunia baru:
dunia tanpa penyingkiran,
tanpa kerakusan,
tanpa penghancuran kehidupan.

Dan secara sederhana, nilai-nilai itu masih hidup di Lamalera.

Di sana, hidup dipahami sebagai sesuatu yang dibagi bersama.
Satu pantai.
Satu laut.
Satu kampung.
Satu nasib.

Tidak ada manusia yang boleh dibiarkan lapar sendirian.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, Lamalera sebenarnya sedang mempertahankan sesuatu yang mulai hilang dari peradaban modern: rasa “kita”.

Karena itu Lamalera tidak boleh hanya dipandang sebagai eksotisme budaya atau destinasi wisata. Lamalera adalah kritik sosial terhadap dunia modern yang semakin kehilangan solidaritas.

Jangan Menjual Masa Depan demi Keuntungan Sesaat

Kita perlu jujur mengatakan: Lamalera sedang menghadapi tekanan besar dari kapitalisasi budaya dan eksploitasi ekonomi.

Ketika tradisi mulai dilihat terutama sebagai komoditas, ketika laut hanya dibaca sebagai angka produksi, ketika generasi muda perlahan tercerabut dari akar nilai komunitas, maka sebenarnya kita sedang menyaksikan erosi batin sebuah peradaban.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar kelangsungan tradisi Leva. Yang dipertaruhkan adalah cara manusia memahami hidup.

Jika Lamalera kehilangan semangat gotong royongnya, maka dunia kehilangan salah satu contoh nyata bahwa manusia masih bisa hidup dalam solidaritas.

Karena itu menjaga Lamalera bukan sekadar tugas masyarakat adat atau Gereja. Ini tugas bersama:
negara,
komunitas budaya,
kaum muda,
lembaga pendidikan,
dan semua orang yang masih percaya bahwa dunia tidak boleh dibangun di atas keserakahan.

Harapan yang Masih Mendayung

Di tengah segala krisis itu, masyarakat Lamalera tetap mendayung.

Mereka tahu ombak bisa besar.
Mereka tahu badai bisa datang.
Mereka tahu hasil tangkapan tidak selalu pasti.

Tetapi mereka tetap turun ke laut.

Di situlah harapan menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan optimisme kosong, melainkan keberanian untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian.

Mungkin dunia hari ini membutuhkan lebih banyak “Lamalera”: komunitas yang menjaga keseimbangan, yang menghormati alam, yang berbagi kehidupan,
dan yang percaya bahwa manusia tidak diciptakan untuk saling menelan.

Sebab ketika dunia semakin kehilangan arah, bisa jadi harapan justru datang dari sebuah kampung kecil di pesisir selatan Lembata — tempat orang-orang masih percaya bahwa hidup harus dijalani bersama. (*)

*) Mike Keraf, CSsR adalah seorang Rohaniawan Katolik atau pastor dan pejuang lingkungan asal Lembata, NTT, yang aktif berkarya di Sumba. Beliau dikenal sebagai Direktur Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders (Donders Foundation) di Sumba Barat Daya.

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved