Opini
Opini: Sensus Ekonomi 2026- Memetakan Lanskap Ekonomi Digital NTT
Sensus Ekonomi bukan sekadar kegiatan statistik, tetapi upaya sistematis untuk menangkap realitas ekonomi yang selama ini tersembunyi.
Bandingkan dengan NTB yang sudah mencapai 29,83 persen, atau Bali 51,37 persen.
Pertanyaannya kemudian bergeser, apakah ini semata soal infrastruktur?
Di atas kertas, 4G sudah menjangkau 98,59 persen permukiman NTT pada 2025. Base Transceiver Station (BTS) berdiri, ribuan titik akses tersedia.
Ini menunjukkan bahwa peluang untuk memanfaatkan teknologi digital semakin terbuka.
Tantangannya kini bergeser pada pemanfaatan. Bagaimana akses yang sudah ada dapat diubah menjadi aktivitas ekonomi yang nyata. Di sinilah peran keterampilan, logistik, dan akses pasar menjadi penentu.
Sementara itu, di ruang-ruang yang kerap luput dari perhatian, ekonomi tetap bergerak.
Dari dalam rumah, dari balik ponsel, pelaku usaha kecil bertransaksi setiap hari melalui WhatsApp, Facebook, dan Instagram.
Mereka ada, mereka menghasilkan. Namun banyak dari aktivitas ini belum tercatat.
Sebagian besar berlangsung secara informal, tanpa jejak administratif yang jelas.
Pendekatan berbasis survei mampu menangkap gambaran umum, tetapi belum sepenuhnya menjangkau detail di tingkat pelaku, sektor, dan wilayah.
Akibatnya, kita melihat pertumbuhan, tetapi belum sepenuhnya memahaminya. Potensi ada, transaksi terjadi, tetapi peta besarnya belum terbaca utuh.
Di titik inilah kebutuhan akan data yang lebih menyeluruh menjadi semakin penting.
Sensus Ekonomi 2026
Di titik ketika potensi belum sepenuhnya terbaca, Sensus Ekonomi 2026 menjadi relevan.
Ia bukan sekadar kegiatan statistik, tetapi upaya sistematis untuk menangkap realitas ekonomi yang selama ini tersembunyi.
Menjangkau pelaku usaha yang berjualan dari rumah, dari layar ponsel, tanpa etalase, tetapi nyata menggerakkan ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Sensus-Ekonomi.jpg)