Jumat, 1 Mei 2026

Opini

Opini: Mengembalikan Sekolah sebagai Taman

Kita perlu membangun sekolah yang manusianya saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOEL UMBU RUNGA RITI
Yoel Umbu Runga Riti 

Di taman, tidak ada yang memaksa bunga matahari untuk tumbuh seperti pohon mangga. Semuanya tumbuh sesuai jenisnya.

Pun demikian, kalau kita perhatikan sekolah-sekolah yang ada, suasananya sering kali jauh dari kata taman. Banyak peserta didik yang merasa tertekan sejak pagi hari. 

Mereka harus membawa tas yang sangat berat dan memikirkan banyak sekali tugas. Belum lagi tekanan untuk mendapatkan nilai yang bagus di setiap mata pelajaran. 

Jika ada peserta didik yang tidak pintar matematika, dia sering dianggap tidak pintar, padahal mungkin dia sangat berbakat di bidang musik atau olahraga. 

Sekolah yang seperti ini lebih mirip seperti pabrik yang ingin menghasilkan barang yang semuanya sama persis.

Baca juga: Opini - Hardiknas dan Prodi “Tak Relevan”: Diagnosa Struktur atau Vonis untuk Kampus?

Sekolah yang terasa seperti penjara biasanya terlalu fokus pada aturan dan hukuman. Siswa harus memakai seragam yang sama, rambut yang sama, dan cara berpikir yang sama. 

Jika ada yang sedikit berbeda, mereka langsung dianggap melanggar aturan. Inilah yang membuat kreativitas peserta didik perlahan hilang. Mereka menjadi takut untuk mencoba hal baru karena takut salah atau takut dihukum. 

Padahal, inti dari belajar adalah sebuah proses mengalami. Seperti tanaman di taman yang butuh terpaan angin supaya akarnya kuat, peserta didik perlu berani mencoba dan belajar dari kesalahan untuk benar-benar tumbuh.

Mengembalikan sekolah menjadi sebuah taman artinya kita harus mengubah cara kita memperlakukan siswa. Ki Hadjar Dewantara mengenalkan sistem ‘Among’. 

Artinya, guru harus menjaga dan membimbing peserta didi dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. 

Guru tidak boleh bersikap seperti polisi yang kerjanya hanya mencari kesalahan peserta didik. 

Guru harus menjadi ‘Pamong’, yaitu orang yang menuntun peserta didik supaya mereka tidak salah jalan, tapi tetap membiarkan mereka berjalan dengan kakinya sendiri.

Pendidikan yang benar harusnya membuat peserta didik merasa merdeka. Bagi Ki Hadjar Dewantara, merdeka bukan berarti boleh berbuat sesuka hati tanpa aturan. Merdeka itu artinya cakap dan kuat untuk memerintah diri sendiri. 

Jika peserta didik belajar hanya karena takut dihukum atau sekadar ingin dipuji, berarti batin mereka belum merdeka. 

Sekolah sebagai taman harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan, sehingga mereka bisa mengatur hidupnya dengan tertib tanpa harus terus-menerus diperintah oleh orang lain.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved