Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Ketika Gembala Tidak Lagi Membalut Luka

Ketertinggalan tidak hanya lahir dari keterbatasan geografis atau jarak dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari cara kekuasaan bekerja.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YORIM YOSAVAT KAUSE
Yorim Yosavat Kause 

Di banyak wilayah NTT, pembiaran ini bukan cerita yang jauh. Ia hadir dalam jalan yang rusak terlalu lama, dalam sekolah yang berjalan tanpa guru tetap, dalam layanan kesehatan yang sulit dijangkau dan dalam ekonomi rakyat yang tidak pernah benar-benar terhubung dengan pasar yang adil. 

Ketimpangan pembangunan antarpulau juga menunjukkan bahwa wilayah timur Indonesia masih menghadapi tekanan kemiskinan dan keterbatasan akses yang signifikan (GoodStats, 2025). 

Semua ini bukan sekadar kekurangan teknis, tetapi pola yang terus berulang. Dalam bahasa iman, ini bukan hanya kelemahan sistem, tetapi kegagalan etis. 

Karena setiap keterlambatan adalah perpanjangan luka dan setiap ketidakseriusan adalah bentuk pembiaran yang bekerja diam-diam, tanpa suara, tetapi merusak kehidupan dari hari ke hari.

Di sinilah pentingnya memulihkan kembali makna kepemimpinan sebagai tindakan menggembalakan. Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada pengaturan, tetapi harus bergerak menuju pemulihan. 

Ia harus hadir di titik luka, menjangkau yang terpinggirkan, mengorganisasi potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, menata birokrasi sebagai jembatan dan bekerja dengan integritas. 

Tanpa itu, semua strategi pembangunan hanya akan menjadi rencana yang tidak pernah benar-benar tiba. Kita mungkin memiliki kebijakan yang benar, tetapi tanpa keberpihakan yang nyata, kebenaran itu tidak pernah menyentuh kehidupan.

Puncak dari Yehezkiel 34 justru datang dalam bentuk yang mengejutkan. Ketika para gembala gagal menjalankan tanggung jawabnya, Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ia akan turun menjadi gembala bagi umat-Nya. 

Pernyataan ini bukan hanya penghiburan, tetapi juga penghakiman. Ia menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak pernah bersumber dari jabatan, tetapi dari kesediaan untuk memulihkan kehidupan. 

Ketika pemimpin tidak lagi hadir, maka kehadirannya kehilangan makna. Ketika kuasa tidak lagi menyembuhkan, maka kuasa itu kehilangan alasan untuk dipertahankan.

Di NTT hari ini, orang tidak sedang menunggu teori kepemimpinan yang lebih canggih. Mereka tidak membutuhkan bahasa yang semakin kompleks. Mereka hanya menunggu siapa yang benar-benar datang. Mereka tidak menuntut banyak. 

Mereka hanya ingin air yang bisa dijangkau, layanan yang bisa diakses dan kebijakan yang benar-benar terasa sebagai pertolongan, bukan sekadar janji yang diulang.

Dan selama lansia di Kobekaka-Enoneten masih harus bertahan di tengah sulitnya akses kesehatan, rusaknya jalan, dan terbatasnya air bersih, semua teori kepemimpinan kita sebenarnya belum selesai. 

Selama hujan masih menjadi satu-satunya alasan utama untuk bersukacita karena kebutuhan air tercukupi, kita sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa kebijakan belum sungguh-sungguh menjangkau kehidupan. 

Selama jarak antara kebijakan dan pengalaman warga masih sejauh itu, maka kita belum benar-benar memahami apa arti memimpin.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved