Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Dimensi Spiritual Ekowisata

Usaha mencari makna terdalam berupa nilai transeden itu dapat ditempuh juga melalui wisata spiritual agama, wisata spiritual budaya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALBERT NOVENA
Albert Novena 

Oleh: Albert Novena
Tinggal di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero – Maumere, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Viktor E. Frankl, seorang ahli psikologi post-freudian, dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1959), mengatakan manusia dari kodratnya memiliki kecenderungan akan hal-hal spiritual atau religius.

Manusia dalam dirinya selalu mencari makna terdalam dari hidupnya dan bila tidak tersalurkan dengan baik bisa menimbulkan gejala neurosis. 

Karena itu manusia dinamakan homo spiritualis yang mencari makna spiritual dalam alam (naturalistic spirituality), dalam budaya (monistic spirituality) dan dalam agama (theisitc spirituality). 

Makna terdalam dari hidup itu berupa suatu nilai transenden yang tidak dapat kelihatan dengan mata kepala namun diyakini terkandung dalam alam, budaya dan agama (Collins Keneth, 2001, p.9-14). 

Baca juga: Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang

Usaha mencari makna terdalam berupa nilai transeden itu dapat ditempuh juga melalui wisata spiritual agama, wisata spiritual budaya dan wisata spiritual alam. 

Dalam wisata spiritual agama atau biasanya dinamakan juga wisata ziarah ialah wisata ke obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang berhubungan dengan keyakinan keagamaan tertentu.

Misalnya makam orang kudus atau pemimpin agama, pusat pelatihan dan pendidikan rohani seperti biara, vihara, pesantren, perayaan hari raya dan ritual keagamaan, tempat penyimpanan relikwi orang kudus, bangunan yang berhubungan dengan sejarah keagamaan tertentu.

Dalam agama Islam ada wisata syariah, di mana setiap pelayanan kepariwisataan berlabel halal dan bernilai syariah.

Wisata syariah ialah perjalanan wisata yang semua prosesnya sejalan dengan nilai-nilai syariah Islam, dengan niat semata-mata untuk ibadah dan mengagumi ciptaan Allah.

Selama dalam perjalanannya dapat melakukan ibadah dengan lancar dan setelah sampai tujuan wisata, tidak mengarah ke hal-hal yang bertentangan dengan syariah, makan dan minum yang halalan thayyibah, hingga kepulangannya pun dapat menambah rasa syukur kepada Allah ( Bawazir Tohir, 2013, p.22).

Wisata spiritual budaya ialah wisata ke ODTW budaya, misalnya even yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia seperti upacara kelahiran, sunatan dan potong gigi, perkawinan serta kematian.

Bisa juga perkampungan dan perumahan adat, pesta-pesta adat syukuran tahunan seperti reba di Ngada, gren mahe di Tana Ai Sikka, kesenian tradisional (seperti tarian, peralatan ritual) atau juga sentra produk kerajinan tangan penduduk setempat.

Seperti berbagai motif kain tenunan dan busana adat atau ritus pertanian tradisional termasuk simbol-simbol sajian makanan dan usaha kenelayanan seperti ritual penangkapan ikan paus di Lamalera dan teknik pertukangan bangunan rumah adat seperti di Bena, Ngada.

Wisata spiritual alam, misalnya mengunjungi ODTW alam yang dipandang keramat seperti gua-gua alam, sungai dan sumber mata air (panas), danau dan hutan-hutan dengan pepohonan besar, satwa hutan (termasuk varanus komodoensis) dan panorama alam lainnya yang menakjubkan seperti gunung dan pantai atau peristiwa alam seperti saat terbit dan terbenamnya matahari. 

Nilai spiritual ODTW budaya dan alam itu umumnya berdasarkan pada narasi-narasi mitos, legenda atau cerita tradisional yang dihayati rakyat setempat di banyak daerah di NTT.

Ini merupakan kekayaan rohani kearifan lokal yang mestinya tetap dijaga dan dilestarikan dalam tantangan dunia sekular dari kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi dewasa ini. 

Dalam narasi legenda seperti inilah terkandung kekuatan daya tarik wisata spiritual suatu destinasi.

Inilah tipe wisata storynomic tourism, yang mengedepankan kisah dan nilai lebih dari apa yang kasat mata pada satu obyek atau daya tarik wisata. 

“Dalam perspektif ini, narasi atau cerita memikatlah yang menjadi kekuatan pariwisata.  egenda, kearifan, dan nilai-nilai lokal dapat dipadu dengan sejarah atau informasi ilmiah lain yang memberikan cara pandang baru bagi wisatawan dalam melihat sebuah destinasi wisata” ( Nirwandar & Teguh, 2020. p,240-241).

Ketiga dimensi wisata spiritual tersebut di atas perlu mendapat perhatian sewajarnya dalam pengelolaan dan promosi pariwisata agar pariwisata tidak hanya mengenai hal lahiriah.

Ekowisata vs Wisata konvensional

Pembangunan ekowisata itu berhubungan dengan tindakan koservasi dan tindakan ini tidak hanya menyangkut konservasi unsur tangible yang tampak pada alam dan budaya dan agama tapi juga termasuk konservasi unsur intangible yang tidak kasat mata yakni nilai spiritual yang melekat padanya. 

Dua aspek konservasi itu mengandung nilai “care” yakni peduli dan kasih
terhadap nilai spiritual pada alam, budaya dan agama yang umumnya masih dihayati dalam kearifan lokal masyarakat desa(Aman Peter C,ed.2013. p.155-174).

Ekowisata dengan tujuan koservasi lebih mengutamakan pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism. 

Pariwisata konvensional lebih mengutamakan pertumbuhan yang berbasis pada kekuatan modal atau kapital untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dalam usaha bisnis kepariwisataan didukung kekuatan teknologi, komunikasi, informasi dan tranportasi dan sering bercorak masal.

Pengembangan pariwisata konvensional kapitalistik sering disertai dengan tindakan eksploitasi, komersialisasi, kontaminasi terhadap alam, budaya, kearifan lokal dan agama serta perebutan lahan tanah yang luas terutama di wilayah pedesaan termasuk lahan tanah situs sejarah dan situs situs sakral. 

Pariwisata konvensional dan masal cederung menjadi ancaman terhadap sustainable tourism yang mengutamakan tindakan konservsi alam, budaya, kearifan lokal baik pada aspek tangible maupun intangible.

Marketing dan promosi

Ketiga dimensi spiritual itu perlu disosialisasikan melalui daya-daya marketing dan promosi. 

Dalam dunia marketing industri pariwisata, kepercayaan para pelanggan atau wisatawan terhadap suatu destinasi dan pelayanannya dapat terbentuk dalam promosi melalui faktor 4 F yakni friends (teman), families (keluarga), fans (Facebook) dan follower (pengikut Twitter) lebih dari pada iklan dan pendapat pakar ( Kotler Philip cs, 2019,p.11).

Selain itu, para pemandu wisata perlu menyuarakan narasi spiritual alam, budaya dan agama itu tatkala mereka mendampingi para wisatawan. 

Selain memiliki kemampuan baik berbahasa asing dan komunikatif, pemandu wisata harus juga kompeten dalam pengetahuannya mengenai kebudayaan lintas budaya dan agama dan nilai-nilai spiritual kehidupan masyarakat setempat destinasi. 

Pendidikan kepemanduan pada sekolah-sekolah pariwisata haruslah menghasilkan lulusannya dengan kualitas kredibel demikian karena kepemanduan merupakan elemen penting dalam usaha promosi pariwisata. ( Yoety Oka, 2013, p.3-6-). (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved