Opini
Opini: Efisiensi yang Berpindah Tempat
Ketika pemerintah berupaya menekan konsumsi BBM melalui kebijakan WFH, yang terjadi justru peningkatan konsumsi energi di sektor lain.
Belum lagi mobilitas tambahan dari distribusi bahan makanan dan logistik untuk memenuhi permintaan yang meningkat.
Di sisi pendidikan, distribusi makan bergizi gratis juga memerlukan rantai logistik yang tidak sederhana. Dari produksi, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah, semua membutuhkan energi dan transportasi.
Artinya, meskipun ada penghematan di satu sisi, biaya energi tetap muncul di sisi lain dalam bentuk yang berbeda.
Dengan kata lain, efisiensi yang diharapkan tidak sepenuhnya hilang, tetapi juga tidak sepenuhnya tercapai. Ia hanya berpindah dan berubah bentuk.
Kondisi ini bukanlah kesalahan satu pihak semata. Pembuat kebijakan telah merancang program dengan tujuan yang baik dan berbasis data.
Masyarakat pun bertindak berdasarkan kebutuhan dan kenyamanan mereka. Namun, yang terlihat jelas adalah adanya ketidaksinkronan dalam sistem.
Ibarat sebuah kendaraan, satu kaki menekan rem untuk mengurangi laju, sementara kaki lainnya tetap menginjak gas.
Hasilnya bukan berhenti, melainkan gerakan yang tidak stabil, boros energi, dan bahkan bisa hilang kendali.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan publik tidak bisa dilihat secara parsial. Setiap kebijakan memiliki efek turunan yang kompleks dan saling terkait.
Mengurangi mobilitas pekerja tanpa mempertimbangkan perilaku adaptif mereka dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak diharapkan.
Begitu pula dengan program sosial yang baik, seperti makan bergizi gratis, jika tidak diselaraskan dengan sistem mobilitas dan energi, dapat menimbulkan beban tambahan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Saya menawarkan beberapa hal yang perlu mendapat atensi serius, yaitu,
Pertama, diperlukan pendekatan kebijakan yang lebih holistik. WFH tidak cukup hanya diatur sebagai kewajiban administratif, tetapi perlu didukung dengan ekosistem yang memadai di rumah, seperti akses internet yang stabil dan lingkungan kerja yang layak.
Jika tidak, maka perpindahan ke kafe atau ke tempat lain (bukan rumah sendiri) akan terus terjadi, mobilitas tetap akan ada.
Kedua, integrasi program lintas sektor menjadi kunci. Program pendidikan, kesehatan, dan energi harus dirancang dalam satu kerangka besar.
Misalnya, distribusi makan bergizi dapat dikombinasikan dengan sistem pengantaran yang lebih efisien atau berbasis komunitas, sehingga tidak selalu memerlukan mobilitas tambahan dari siswa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Eduardus-Johanes-Sahagun-MA.jpg)