Opini
Opini: Menjahit Ulang Sekolah
Sekolah kita masih terlalu sering dibangun sebagai mesin penyampaian, bukan ruang perkembangan berpikir.
Karena itu, solusi bagi pendidikan NTT tidak cukup dengan memperbesar intervensi. Yang lebih mendesak ialah mengoreksi logika pembelajarannya. Sekolah harus memberi ruang akomodasi.
Pertama, pembelajaran perlu lebih berangkat dari dunia hidup murid. Bukan sekadar agar materi terasa dekat, melainkan agar skema berpikir anak punya jembatan untuk berkembang.
Pengalaman lokal bukan gangguan bagi belajar; ia justru fondasi awal bagi perkembangan kognitif.
Kedua, guru harus dipulihkan sebagai arsitek perkembangan berpikir, bukan sekadar pelaksana target kurikulum.
Tugas guru bukan hanya menyampaikan isi pelajaran, tetapi merancang benturan kognitif yang sehat: pertanyaan yang membuat anak ragu, contoh yang menggoyang pengertian lama, dan bimbingan yang menolong anak membangun pemahaman baru.
Ketiga, kesalahan harus direhabilitasi. Dalam banyak sekolah, salah identik dengan kegagalan. Padahal dalam perkembangan kognitif, kesalahan sering kali adalah tanda bahwa skema lama sedang diuji.
Tanpa salah, tidak ada kegelisahan berpikir. Tanpa kegelisahan, tidak ada akomodasi.
Keempat, ukuran keberhasilan perlu digeser. Jangan hanya bertanya apakah materi selesai, target tercapai, dan dokumen lengkap.
Tanyakan yang lebih mendasar: apakah anak sungguh lebih mampu memahami, menjelaskan, membandingkan, dan memecahkan persoalan baru.
Jika APS usia 16–18 tahun masih 75,75 persen, maka pertanyaan utamanya bukan seberapa sibuk sekolah bekerja, tetapi seberapa banyak anak benar-benar bertahan dan berkembang di dalamnya.
Pada akhirnya, pendidikan NTT tidak memerlukan sekolah yang sekadar lebih ramai program. Ia memerlukan sekolah yang dijahit ulang dari asumsi dasarnya.
Bukan sekolah yang terus-menerus meminta anak menyesuaikan diri, melainkan sekolah yang cukup rendah hati untuk menyesuaikan cara belajarnya dengan pertumbuhan pikiran anak.
Sebab ketertinggalan pendidikan sering kali lahir bukan karena anak tidak mampu belajar, tetapi karena sekolah terlalu lama gagal memahami bagaimana anak berkembang.
NTT tidak butuh sekolah yang hanya mengajar. NTT membutuhkan sekolah yang membuat pikiran bertumbuh. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Dilema Strategis Bank NTT di Tengah Tekanan Fiskal, KUB atau Perseroda? |
|
|---|
| Opini: Membaca Ulang Makna Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Fenomena Pendidikan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama |
|
|---|
| Opini: Taruhan Sikap Ilmiah dalam Nasi Kotak |
|
|---|
| Opini: Dari Kartini ke Ayah Masa Kini- Fondasi Keluarga Hebat Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoga-Bumi-Pradana.jpg)