Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Menjahit Ulang Sekolah

Sekolah kita masih terlalu sering dibangun sebagai mesin penyampaian, bukan ruang perkembangan berpikir. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA B PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Tetapi ketika pengalaman baru tidak lagi cocok, anak membutuhkan akomodasi, yakni perubahan skema agar realitas yang baru itu sungguh dapat dipahami. 

Di antara keduanya, terdapat keadaan ketidakseimbangan kognitif yang justru mendorong pertumbuhan berpikir. 

Masalahnya, sekolah kita terlalu lama berhenti pada tahap pertama. Ia rajin menuntut asimilasi, tetapi miskin ruang akomodasi. Murid diminta menerima materi baru dengan kerangka lama yang telah ditentukan sekolah

Mereka didorong menghafal, meniru, dan menyesuaikan diri. Namun mereka terlalu jarang diajak mengguncang skema berpikirnya sendiri, mempertanyakan, membandingkan, menguji, lalu membangun pengertian baru. Padahal justru di sanalah perkembangan kognitif bekerja.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, sekolah kita terlalu sibuk membuat anak menjawab, tetapi belum cukup sungguh membuat anak berpikir.

Mengapa ketertinggalan itu bertahan

Ketertinggalan pendidikan NTT karena itu tidak sepenuhnya lahir dari luar sekolah. Ia juga diproduksi dari dalam ruang kelas. 

Ketika pembelajaran hanya menuntut penyesuaian pada pola lama, anak mungkin bisa menyelesaikan soal yang familier, tetapi goyah ketika berhadapan dengan situasi baru. 

Penelitian tentang proses asimilasi-akomodasi dalam pemecahan masalah menunjukkan bahwa asimilasi membantu siswa memakai pengetahuan yang telah dimiliki, tetapi akomodasi dibutuhkan ketika mereka harus memodifikasi pendekatan untuk menyelesaikan persoalan baru; kombinasi keduanya membuat pemecahan masalah lebih lentur dan lebih cepat. 

Itulah yang hilang dari banyak sekolah kita. Anak dilatih untuk tepat, tetapi tidak cukup dilatih untuk berubah. 

Anak diminta patuh pada langkah, tetapi tidak cukup didorong mengoreksi kerangka berpikirnya sendiri. 

Akibatnya, sekolah memang berlangsung, tetapi perkembangan kognitif tidak tumbuh secepat yang dibutuhkan zaman.

Di NTT, masalah ini terasa lebih tajam karena konteks hidup murid jauh lebih beragam daripada asumsi sekolah

Ada anak yang tumbuh dalam keluarga petani, nelayan, buruh informal, atau rumah tangga yang miskin akses bacaan. 

Ada yang hidup di wilayah kering, kepulauan, atau desa dengan modal belajar yang sangat terbatas. 

Jika sekolah datang dengan satu ritme, satu bahasa pedagogik, dan satu ukuran keberhasilan, maka yang terjadi bukan pendidikan, melainkan penyeragaman.

Akomodasi sebagai koreksi

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved