Opini
Opini: Menjahit Ulang Sekolah
Sekolah kita masih terlalu sering dibangun sebagai mesin penyampaian, bukan ruang perkembangan berpikir.
Tetapi ketika pengalaman baru tidak lagi cocok, anak membutuhkan akomodasi, yakni perubahan skema agar realitas yang baru itu sungguh dapat dipahami.
Di antara keduanya, terdapat keadaan ketidakseimbangan kognitif yang justru mendorong pertumbuhan berpikir.
Masalahnya, sekolah kita terlalu lama berhenti pada tahap pertama. Ia rajin menuntut asimilasi, tetapi miskin ruang akomodasi. Murid diminta menerima materi baru dengan kerangka lama yang telah ditentukan sekolah.
Mereka didorong menghafal, meniru, dan menyesuaikan diri. Namun mereka terlalu jarang diajak mengguncang skema berpikirnya sendiri, mempertanyakan, membandingkan, menguji, lalu membangun pengertian baru. Padahal justru di sanalah perkembangan kognitif bekerja.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, sekolah kita terlalu sibuk membuat anak menjawab, tetapi belum cukup sungguh membuat anak berpikir.
Mengapa ketertinggalan itu bertahan
Ketertinggalan pendidikan NTT karena itu tidak sepenuhnya lahir dari luar sekolah. Ia juga diproduksi dari dalam ruang kelas.
Ketika pembelajaran hanya menuntut penyesuaian pada pola lama, anak mungkin bisa menyelesaikan soal yang familier, tetapi goyah ketika berhadapan dengan situasi baru.
Penelitian tentang proses asimilasi-akomodasi dalam pemecahan masalah menunjukkan bahwa asimilasi membantu siswa memakai pengetahuan yang telah dimiliki, tetapi akomodasi dibutuhkan ketika mereka harus memodifikasi pendekatan untuk menyelesaikan persoalan baru; kombinasi keduanya membuat pemecahan masalah lebih lentur dan lebih cepat.
Itulah yang hilang dari banyak sekolah kita. Anak dilatih untuk tepat, tetapi tidak cukup dilatih untuk berubah.
Anak diminta patuh pada langkah, tetapi tidak cukup didorong mengoreksi kerangka berpikirnya sendiri.
Akibatnya, sekolah memang berlangsung, tetapi perkembangan kognitif tidak tumbuh secepat yang dibutuhkan zaman.
Di NTT, masalah ini terasa lebih tajam karena konteks hidup murid jauh lebih beragam daripada asumsi sekolah.
Ada anak yang tumbuh dalam keluarga petani, nelayan, buruh informal, atau rumah tangga yang miskin akses bacaan.
Ada yang hidup di wilayah kering, kepulauan, atau desa dengan modal belajar yang sangat terbatas.
Jika sekolah datang dengan satu ritme, satu bahasa pedagogik, dan satu ukuran keberhasilan, maka yang terjadi bukan pendidikan, melainkan penyeragaman.
Akomodasi sebagai koreksi
| Opini: Dilema Strategis Bank NTT di Tengah Tekanan Fiskal, KUB atau Perseroda? |
|
|---|
| Opini: Membaca Ulang Makna Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Fenomena Pendidikan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama |
|
|---|
| Opini: Taruhan Sikap Ilmiah dalam Nasi Kotak |
|
|---|
| Opini: Dari Kartini ke Ayah Masa Kini- Fondasi Keluarga Hebat Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoga-Bumi-Pradana.jpg)