Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Menjahit Ulang Sekolah

Sekolah kita masih terlalu sering dibangun sebagai mesin penyampaian, bukan ruang perkembangan berpikir. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA B PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Akademisi Kebijakan Publik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Ketika laporan tentang pendidikan Nusa Tenggara Timur ( NTT) kembali muncul, nadanya hampir selalu serupa: literasi rendah, mutu sekolah timpang, dan daya tahan anak di jenjang menengah yang rapuh. 

Pada tahun 2025, BPS mencatat rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di NTT baru 8,88 tahun. Pada 2024, angka partisipasi sekolah usia 16–18 tahun di NTT juga baru 75,75 persen. 

Itu berarti, pada usia ketika nalar semestinya mulai matang, seperempat anak justru sudah berada di luar pagar sekolah. 

Baca juga: Opini: 64 Tahun GAMKI- Turun ke Tanah atau Tenggelam di Seremoni?

Ini bukan sekadar soal statistik pendidikan. Ini adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam cara sekolah membuat anak belajar. 

Kita terlalu sering membaca persoalan ini sebagai daftar kekurangan yaitu kurang guru, kurang buku, kurang ruang kelas, kurang fasilitas. 

Dari diagnosis seperti itu, lahirlah resep yang juga lazim: tambah program, tambah bantuan, tambah intervensi. Semua itu penting, tetapi belum tentu menyentuh akar masalah. 

Sebab, dalam kebijakan publik, masalah terbesar kerap bukan pada niat, melainkan pada asumsi. Dan asumsi paling lama yang kita pelihara adalah ini: anak akan belajar cukup dengan dimasukkan ke dalam sistem yang sudah jadi.

Di sinilah sesungguhnya soal pendidikan NTT menjadi lebih dalam daripada isu anggaran atau administrasi. 

Sekolah kita masih terlalu sering dibangun sebagai mesin penyampaian, bukan ruang perkembangan berpikir. 

Ia berjalan dengan logika seragam: kurikulum seragam, target seragam, ukuran keberhasilan seragam. 

Anak-anak yang lahir dari konteks geografis, bahasa, pengalaman rumah tangga, dan modal kognitif yang sangat berbeda diminta masuk ke cetakan yang sama. 

Jika mereka tertinggal, yang dianggap bermasalah adalah muridnya. Padahal bisa jadi yang keliru justru bentuk cetakannya.

Belajar bukan menerima

Jean Piaget dalam Theory of Cognitive Development memberi pelajaran penting yang sering dilupakan sekolah, yakni anak bukan penerima pasif pengetahuan, melainkan pembangun aktif pengetahuan. 

Mereka belajar melalui skema, yakni kerangka mental untuk memahami dunia. Ketika pengalaman baru masih bisa dimasukkan ke dalam skema lama, terjadilah asimilasi. 

Tetapi ketika pengalaman baru tidak lagi cocok, anak membutuhkan akomodasi, yakni perubahan skema agar realitas yang baru itu sungguh dapat dipahami. 

Di antara keduanya, terdapat keadaan ketidakseimbangan kognitif yang justru mendorong pertumbuhan berpikir. 

Masalahnya, sekolah kita terlalu lama berhenti pada tahap pertama. Ia rajin menuntut asimilasi, tetapi miskin ruang akomodasi. Murid diminta menerima materi baru dengan kerangka lama yang telah ditentukan sekolah

Mereka didorong menghafal, meniru, dan menyesuaikan diri. Namun mereka terlalu jarang diajak mengguncang skema berpikirnya sendiri, mempertanyakan, membandingkan, menguji, lalu membangun pengertian baru. Padahal justru di sanalah perkembangan kognitif bekerja.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, sekolah kita terlalu sibuk membuat anak menjawab, tetapi belum cukup sungguh membuat anak berpikir.

Mengapa ketertinggalan itu bertahan

Ketertinggalan pendidikan NTT karena itu tidak sepenuhnya lahir dari luar sekolah. Ia juga diproduksi dari dalam ruang kelas. 

Ketika pembelajaran hanya menuntut penyesuaian pada pola lama, anak mungkin bisa menyelesaikan soal yang familier, tetapi goyah ketika berhadapan dengan situasi baru. 

Penelitian tentang proses asimilasi-akomodasi dalam pemecahan masalah menunjukkan bahwa asimilasi membantu siswa memakai pengetahuan yang telah dimiliki, tetapi akomodasi dibutuhkan ketika mereka harus memodifikasi pendekatan untuk menyelesaikan persoalan baru; kombinasi keduanya membuat pemecahan masalah lebih lentur dan lebih cepat. 

Itulah yang hilang dari banyak sekolah kita. Anak dilatih untuk tepat, tetapi tidak cukup dilatih untuk berubah. 

Anak diminta patuh pada langkah, tetapi tidak cukup didorong mengoreksi kerangka berpikirnya sendiri. 

Akibatnya, sekolah memang berlangsung, tetapi perkembangan kognitif tidak tumbuh secepat yang dibutuhkan zaman.

Di NTT, masalah ini terasa lebih tajam karena konteks hidup murid jauh lebih beragam daripada asumsi sekolah

Ada anak yang tumbuh dalam keluarga petani, nelayan, buruh informal, atau rumah tangga yang miskin akses bacaan. 

Ada yang hidup di wilayah kering, kepulauan, atau desa dengan modal belajar yang sangat terbatas. 

Jika sekolah datang dengan satu ritme, satu bahasa pedagogik, dan satu ukuran keberhasilan, maka yang terjadi bukan pendidikan, melainkan penyeragaman.

Akomodasi sebagai koreksi

Karena itu, solusi bagi pendidikan NTT tidak cukup dengan memperbesar intervensi. Yang lebih mendesak ialah mengoreksi logika pembelajarannya. Sekolah harus memberi ruang akomodasi.

Pertama, pembelajaran perlu lebih berangkat dari dunia hidup murid. Bukan sekadar agar materi terasa dekat, melainkan agar skema berpikir anak punya jembatan untuk berkembang. 

Pengalaman lokal bukan gangguan bagi belajar; ia justru fondasi awal bagi perkembangan kognitif.

Kedua, guru harus dipulihkan sebagai arsitek perkembangan berpikir, bukan sekadar pelaksana target kurikulum. 

Tugas guru bukan hanya menyampaikan isi pelajaran, tetapi merancang benturan kognitif yang sehat: pertanyaan yang membuat anak ragu, contoh yang menggoyang pengertian lama, dan bimbingan yang menolong anak membangun pemahaman baru.

Ketiga, kesalahan harus direhabilitasi. Dalam banyak sekolah, salah identik dengan kegagalan. Padahal dalam perkembangan kognitif, kesalahan sering kali adalah tanda bahwa skema lama sedang diuji. 

Tanpa salah, tidak ada kegelisahan berpikir. Tanpa kegelisahan, tidak ada akomodasi.

Keempat, ukuran keberhasilan perlu digeser. Jangan hanya bertanya apakah materi selesai, target tercapai, dan dokumen lengkap. 

Tanyakan yang lebih mendasar: apakah anak sungguh lebih mampu memahami, menjelaskan, membandingkan, dan memecahkan persoalan baru. 

Jika APS usia 16–18 tahun masih 75,75 persen, maka pertanyaan utamanya bukan seberapa sibuk sekolah bekerja, tetapi seberapa banyak anak benar-benar bertahan dan berkembang di dalamnya. 

Pada akhirnya, pendidikan NTT tidak memerlukan sekolah yang sekadar lebih ramai program. Ia memerlukan sekolah yang dijahit ulang dari asumsi dasarnya. 

Bukan sekolah yang terus-menerus meminta anak menyesuaikan diri, melainkan sekolah yang cukup rendah hati untuk menyesuaikan cara belajarnya dengan pertumbuhan pikiran anak.

Sebab ketertinggalan pendidikan sering kali lahir bukan karena anak tidak mampu belajar, tetapi karena sekolah terlalu lama gagal memahami bagaimana anak berkembang.

NTT tidak butuh sekolah yang hanya mengajar. NTT membutuhkan sekolah yang membuat pikiran bertumbuh. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved