Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama

Gagasan utama Kartini tentang kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan menjadi dasar dari gerakan emansipasi perempuan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERLINA HADIA
Sr. Herlina Hadia,SSpS 

Perempuan memainkan peran penting dalam dialog antaragama, khususnya pada level akar rumput, di mana relasi antarumat beragama lebih banyak diwujudkan dalam praktik hidup sehari-hari daripada dalam forum-forum formal. 

Dalam konteks ini, semangat R.A. Kartini menjadi relevan, terutama dalam kritiknya terhadap ketidaksetaraan sosial pada zamannya serta perjuangannya untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan. 

Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam dialog antaragama dapat dipahami sebagai kelanjutan dari semangat Kartini: sebuah dorongan untuk menghadirkan kesetaraan, memperluas ruang partisipasi, serta menegaskan bahwa pengalaman perempuan merupakan bagian penting dalam membangun relasi lintas iman yang lebih manusiawi, dialogis, dan inklusif.

Dalam konteks Indonesia dewasa ini, pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah perempuan sungguh dilibatkan dalam dialog antaragama, dan sejauh mana suara mereka didengar dalam proses tersebut? 

Pertanyaan ini tidak cukup dijawab dengan sekadar meningkatkan kehadiran perempuan dalam forum-forum dialog. 

Yang lebih mendasar adalah bagaimana membuka ruang bagi partisipasi yang substantif, di mana perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga terlibat dalam merumuskan agenda, menyuarakan pengalaman, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan demikian, dialog antaragama di Indonesia ditantang untuk bergerak melampaui pendekatan yang bersifat formal dan representatif menuju dialog yang lebih inklusif dan transformatif. 

Dalam kerangka ini, pengalaman dan perspektif perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber penting bagi pembentukan relasi lintas iman yang lebih adil, manusiawi, dan berakar dalam realitas kehidupan bersama. 

Tanpa kehadiran dan suara perempuan, dialog antaragama berisiko tetap menjadi ruang yang berbicara tentang perdamaian, tetapi tidak sungguh-sungguh mewujudkannya dalam kehidupan nyata. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved