Opini
Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama
Gagasan utama Kartini tentang kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan menjadi dasar dari gerakan emansipasi perempuan.
Sebaliknya, tulisan ini berfokus pada pentingnya memperluas partisipasi perempuan dalam forum-forum dialog antaragama, sehingga perspektif, pengalaman, dan suara perempuan dapat hadir secara lebih bermakna dalam upaya membangun kerukunan dan perdamaian.
Hal ini disebabkan karena struktur agama dan budaya di Indonesia masih membatasi partisipasi perempuan.
Fenomena ini tidak hanya bersifat empiris, tetapi juga telah menjadi perhatian dalam kajian teoretis mengenai dialog antaragama.
Dalam konteks ini, Ursula King, dalam tulisannya “Feminism: The Missing Dimension in the Dialogue of Religions,” mengemukakan bahwa dimensi feminisme kerap kali absen dalam dialog antaragama.
Kritik ini, pertama-tama, merupakan sebuah upaya deskriptif yang mencari penyebab serta pola-pola diskursif dari pembungkaman suara perempuan dalam dialog antaragama.
Minimnya keterlibatan perempuan dari dialog antaragama sangat bergantung pada dan memperkuat konstruksi patriarkal dalam tradisi-tradisi agama.
Karena perempuan secara tradisional sering tidak diberi peran kepemimpinan dalam banyak tradisi agama, mereka juga cenderung terpinggirkan dari dialog antaragama yang bersifat resmi ini.
Akibat fokus pada ajaran yang bersifat otoritatif tersebut, dialog antaragama pada akhirnya lebih mengutamakan pengalaman dan pemahaman laki-laki atas tradisi keagamaan.
Meskipun perempuan aktif dan terlibat dalam berbagai bentuk perjumpaan lintas iman yang lebih informal, fokus dalam dialog antaragama justru menutupi kontribusi perempuan dan pengalaman mereka sebagai sumber yang sah untuk perjumpaan komunitas-komunitas agama.
Pandangan ini membantu menjelaskan mengapa keterlibatan perempuan dalam dialog antaragama sering kali bersifat marginal dan tidak substantif.
Di tengah kritik tersebut, penting untuk kembali merefleksikan makna dialog itu sendiri.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti mendefinisikan dialog sebagai “saling mendekati dan mengungkapkan diri, saling memandang dan mendengarkan, mencoba mengenal dan memahami satu sama lain, serta mencari titik-titik temu” (198).
Definisi ini, dalam kesederhanaannya, sangat menyentuh kehidupan nyata dan menghadirkan dimensi empati, kepedulian, serta relasi yang mendalam dalam proses dialog.
Dimensi-dimensi tersebut pada kenyataannya justru sangat kuat dalam pengalaman hidup perempuan, terutama dalam relasi sehari-hari di tingkat keluarga dan komunitas.
Pemahaman dialog yang demikian membuka ruang untuk melihat kembali kontribusi konkret perempuan dalam praktik dialog antaragama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sr-Herlina-HadiaSSpS-01.jpg)