Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Taruhan Sikap Ilmiah dalam Nasi Kotak

Siapa pun yang berani berbicara atau bertindak terbalik dari tradisi ini layak disebut subjek. Taruhannya kesetaraan dan sikap ilmiah

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI OTTO GUSTI MADUNG
Otto Gusti Madung 

Pertama, cerita sebelum ujian.  Jam dinding di kantin kampus menunjukan hampir pukul 10.00. Kami-sejumlah mahasiswa telah ambil posisi masing-masing. 

Ada semacam aura menakutkan terpancar dari masing-masing kami, meski itu bukan malam Jumat. 

Pasalnya, dalam kesepakatan bersama Pater Otto (demikian kami biasa menyapa Prof. Otto Gusti Madung), semua mahasiswa yang menulis skripsi di bawah bimbingan beliau harus mempertanggungjawabkan alasan mengapa memilih tema skripsi tertentu di hadapan pembimbing dan kelompok. 

Beberapa menit kemudian Pater Otto tiba. Beliau meletakkan setumpuk lembaran kertas yang disisip ke dalam satu buku di atas meja lalu mengangkat muka dan memandang semua kami dengan raut datar,”Kamu sudah pesan kopi?” 

Kami menggeleng tentu saja. Beliau melanjutkan, “Untuk apa kita buat pertemuan di sini (bukannya di kelas) kalau tak ada kopi dan kue?!! Silakan pesan. Saya yang bayar.” 

Suasana kaku-kejang segera sirna. Bahwa kemudian proses mempertanggungjawabkan tema skripsi filsafat pagi itu sungguh mengeryitkan dahi, setidaknya masih ada kopi dan kue yang bisa dirayakan.

Kedua, cerita saat ujian. Sore itu, Bukit Sandaran Matahari (Leda-lero) terlalu tenang. Dengan tiga botol aqua ukuran sedang dan tiga eksemplar abstrak, saya bergerak dari kos menuju pendopo timur unit Paulus. 

Saya hanya mengatur meja dan tiga kursi dari anyaman bambu yang memang sudah tersedia. Kedua penguji (P. Dr. Otto Gusti Madung dan P. Dr. Frans Ceunfin, Lic) tiba dan ujian dimulai. 

Tak ada nasi kotak. Tak ada snack. Setelah ujian mempertahankan gagasan Politik Demokratis Jacques Rancière itu, saya diajak ngopi oleh kedua doktor. 

Tentu saja, tulisan ini bukan tentang snack atau nasi kotak. Bagian paling penting dari persiapan menghadapi ujian proposal maupun skripsi adalah kuasai bahan. 

Tak lebih. Yang jadi masalah adalah ketika permintaan tak langsung karena tradisi tak bisa dibedakan dari perintah karena relasi timpang dosen-mahasiswa. 

Di titik itu, kita tak lagi bicara tentang tradisi atau penghormatan, kita bicara tentang ekstraksi—penarikan sumber daya dari pihak yang tidak punya pilihan nyata untuk menolak. 

Akhirnya, dengan mengikuti Rancière, mungkin sudah waktunya kita (tidak hanya para dosen) mulai menghitung siapa yang selama ini tidak terhitung. 

Siapa pun yang berani berbicara atau bertindak terbalik dari tradisi ini layak disebut subjek. Taruhannya kesetaraan dan sikap ilmiah. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved