Opini
Opini: Arsip
Pengarsipan membuat kita bisa mengevaluasi, bahkan memperbaiki hal-hal yang pernah kita kerjakan dan kita catat.
Puisi-puisi yang ditulisnya diterbitkan bersama karya kawan-kawan sekolahnya dalam satu antologi. Namun, sampai hari ini, ia sama sekali tidak memperoleh arsip bukti terbit atas hasil kerjanya.
Pengarsipan membuat kita bisa mengevaluasi, bahkan memperbaiki hal-hal yang pernah kita kerjakan dan kita catat.
Dalam nada Borgesian, semua yang kita tulis pada dasarnya adalah draft, yang perlu terus-menerus direvisi.
Dengan cara demikianlah perpustakaan-perpustakaan diperluas, karena kita senantiasa merevisi kerja-kerja kita berdasarkan hal-hal yang telah kita rekam dan catat.
Demikian pulalah, terjemahan dapat dipahami seperti kita memahami sebuah draft.
Menurut Borges, perbedaan antara terjemahan dan versi awal sebuah teks terjadi secara kronologis, bukan hierarkis.
Dalam proses penulisan, sebuah draft dikerjakan untuk menghasilkan sebuah teks original. Sedangkan, dalam proses penerjemahan, terjemahan dikerjakan berdasarkan teks original tersebut.
Kerja pengarsipan juga membantu para pembaca anonim dari mana pun suatu saat dapat menemukan hal-hal yang telah kita dokumentasikan.
Dalam skala yang lebih luas, Benedict Anderson (Imagined Communities, 2006:134) menegaskan, “Bahasa cetaklah yang menciptakan nasionalisme, bukan satu bahasa tertentu per se.”
Tanpa kerja seperti itu, tanpa mengarsipkan, lalu mempelajari dan mengevaluasi apa yang telah kita hasilkan, kita tidak akan mengetahui sejarah dan perkembangan kita sendiri, dan berhenti pada membanggakan tingginya angka survei minat baca yang kita peroleh, yang justru secara ironis bersanding dengan begitu rendahnya hasil tes kemampuan akademik anak-anak sekolah kita. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-penyair.jpg)