Opini
Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran
Kita hidup dalam zaman di mana semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua orang terbiasa memeriksa.
Dalam kondisi demikian belief tidak lagi menjadi tahap awal menuju kebenaran, tetapi sering berhenti hanya sebgai tujuan akhir itu sendiri.
Krisis Kebenaran: Ketika Realitas Kehilangan Stabilitasnya
Jika keyakinan mengalami inflasi, maka kebenaran mengalami defelasi. Kebenaran tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang objektif dan stabil, tetapi semakin dipahami sebagai sesuatu yang relatif, bahkan personal.
Ungkapan seperti “menurut saya ini benar” atau “setiap orang memiliki versi-nya masing-masing” menjadi sangat umum. Sekilas, ini tampak sebagai bentuk toleransi terhadap keberagamaan perspektif.
Namun dalam konteks epistemologi, ini menimbulkan masalah serius; ketika semua hal dianggap benar secara relatif, maka tidak ada lagi standar bersama untuk menilai kebenaran.
Padahal, dalam pengertian klasik, kebenaran tidak bergantung pada opini, melainkan pada kesesuaiannya dengan realitas.
Namun dalam ruang digital yang dipenuhi dengan algoritma, batas antara fakta dan opini menjadi kabur.
Informasi yang salah dapat tampil sama meyakinkannya dengan informasi yang benar, selama ia dikemas secara menarik dan emosional.
Akibatnya, masyarakat tidak lagi berdebat untuk menemukan suatu kebenaran dari informasi yang mereka peroleh, tetapi untuk memertahankan keyakinan masing-masing.
Kemarau Pembuktian: Hilangnya Justifikasi dalam Proses Berpikir
Bagian paling sunyi dari krisis epistemologi ini adalah kemarau pembuktian.
Dalam epistemologi, justification atau pembuktian merupakan elemen yang memastikan bahwa sebuah keyakinan tidak hanya dipercaya tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Namun dalam praktik sehari-hari di ruang digital, proses ini kerap kali dilewati. Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan; “apa buktinya?” semakin jarang muncul di ruang publik.
Sebaliknya, yang lebih sering ditanyakan adalah “siapa yang mengatakan?” atau bahkan “berapa banyak yang membagikan?”
Di sini terjadi pergeseran penting: dari validitas ke popularitas. Otoritas epistemik tidak lagi ditentukan oleh argumen dan bukti, tetapi oleh jangkauan dan pengaruh. Budaya digital yang serba cepat memperkuat situasi ini.
Informasi dikonsumsi dalam potongan pendek, kerap kali tanpa konteks, tanpa verifikasi, dan tanpa adanya sebuah refleksi. Akibatnya, kemampuan untuk menilai bukti secara kritis melemah.
Kemarau pembuktian ini berbahaya karena ia memutus hubungan antara keyakinan dan kebenaran.
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fidel-Darso.jpg)