Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Redupnya Warisan Pangan Lokal

Dengan demikian, pangan lokal bukan sekadar praktik tanpa ilmu, melainkan hasil pengalaman panjang yang sarat dengan nalar empiris. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELANIA PRISKA
Melania Priska 

Hal ini menjadi semakin penting karena pangan lokal menghadapi banyak tantangan mulai dari rumitnya proses pengolahan, pergeseran selera, hingga kekhawatiran terhadap keamanan pangan. 

Karena itu, perlu adanya pendekatan yang lebih serius agar generasi muda tidak hanya mengenal pangan lokal sebagai produk konsumsi, tetapi juga memahami makna, nilai, dan kearifan lokal yang melatarbelakangi lahirnya pangan tersebut. 

Upaya ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pelestarian pangan lokal tidak dapat dipisahkan dari penguatan tradisi melalui pendekatan yang lebih kontekstual, ilmiah, dan kolaboratif, sehingga warisan pangan tidak hanya bertahan sebagai memori budaya, tetapi juga berkembang sebagai sumber pengetahuan dan peluang yang relevan bagi masa sekarang.

Dalam konteks ini, dunia pendidikan dapat menjadi wadah penting untuk mengintegrasikan etnosains dalam pembelajaran, sehingga tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman, melainkan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang relevan. 

Sekolah dapat menjadi ruang pewarisan melalui pembelajaran berbasis etnosains, sementara kampus dapat menjadikannya objek riset lintas disiplin. 

Di saat yang sama, pemerintah daerah dapat mendorong konservasi bahan baku, pelatihan pengolahan, serta pengembangan produk turunan yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini. 

Dunia usaha dan UMKM pun dapat mengambil peran melalui kemasan yang lebih baik, standar mutu yang lebih jelas, dan cerita produk yang kuat. 

Dengan demikian, pangan lokal tidak lagi hanya diposisikan sebagai peninggalan, tetapi juga sebagai peluang.

Pada akhirnya mempertahankan pangan lokal berarti mempertahankan martabat pengetahuan lokal. 

Sebab, setiap makanan lokal menyimpan kisah tentang bagaimana suatu masyarakat mengenali alamnya, mengolah keterbatasan menjadi kecukupan, dan mewariskan identitas melalui rasa. 

Indonesia terlalu kaya untuk bergantung pada selera yang minim. Di balik semangkuk Wu’u, sepiring Uwi Kaju Ndota dan Alu Ndene, atau sajian Uwi Kaju Lamu, tersimpan pelajaran besar bahwa masa depan pangan tidak selalu harus datang dari yang baru, tetapi dapat lahir dari yang lama yang dirawat dengan ilmu pengetahuan dan kebanggaan. 

Jika tidak dijaga dari sekarang, mustahil pangan lokal akan ada di atas meja makan generasi muda yang akan datang. (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved