Opini
Opini: Redupnya Warisan Pangan Lokal
Dengan demikian, pangan lokal bukan sekadar praktik tanpa ilmu, melainkan hasil pengalaman panjang yang sarat dengan nalar empiris.
Oleh: Melania Priska
Mahasiswa Program Doktor Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Maraknya makanan instan dan pangan global telah membawa banyak perubahan di atas meja makan Indonesia hari ini.
Ironisnya, di negeri yang dikenal dengan warisan kekayaan kuliner yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat, pangan lokal justru kian terpinggirkan dan perlahan digantikan oleh pangan luar.
Keadaan ini bukan semata karena pangan lokal kalah gizi atau kalah makna, melainkan karena kalah hadir dalam ingatan generasi baru.
Ia semakin jarang ditemui dalam keseharian dan lebih sering hidup sebagai cerita orang tua, bagian dari upacara adat, atau kenangan masa paceklik.
Di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur misalnya, gejala itu tampak nyata.
Baca juga: Opini: Komedi Emak-Emak Untuk Para Lelaki yang Belum Bosan Berperang
Banyak pangan lokal seperti Wu’u yang berbahan dasar jagung, Uwi Kaju Ndota dan Alu Ndene berbahan dasar ubi kayu, serta Uwi Kaju Lamu sebagai pangan hasil fermentasi tradisional ubi kayu, mulai tersisih dari kehidupan sehari-hari.
Padahal pangan-pangan ini bukan hanya sekadar makanan, melainkan representasi pengetahuan lokal yang kompleks dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Namun realitas hari ini berbeda, pewarisan itu mulai tersendat. Penyebabnya bukan karena pangan lokal kehilangan relevansinya, justru sebaliknya.
Perubahan preferensi masyarakat, terutama generasi muda, terhadap makanan modern dengan rasa yang lebih bervariasi dan penyajian yang lebih praktis telah memicu terjadinya fenomena pergeseran budaya pangan.
Wu’u, misalnya, lahir dari pengetahuan masyarakat lokal dalam mengolah jagung menjadi bahan pangan yang dapat dijadikan persediaan untuk menghadapi masa sulit karena dapat disimpan dalam jangka waktu lama.
Kajian tentang Wu’u menegaskan bahwa dalam proses pembuatannya memuat beragam konsep ilmiah, mulai dari fisika, kimia, biologi, dan teknologi.
Dengan demikian, pangan lokal bukan sekadar praktik tanpa ilmu, melainkan hasil pengalaman panjang yang sarat dengan nalar empiris.
Proses tradisional yang sering kali dianggap kuno oleh masyarakat ternyata menyimpan pengetahuan sains yang terintegrasi alami dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hal serupa tampak juga pada Uwi Kaju Ndota dan Alu Ndene. Pengolahan pangan berbasis ubi kayu ini memperlihatkan keterampilan masyarakat lokal dalam mengurangi kadar air, mengolah tekstur, menghadirkan cita rasa, dan memanfaatkan bahan lokal seperti kelapa, garam, gura merah, dan daun pisang.
Melania Priska
Keragaman Pangan Lokal
ketahanan pangan lokal
ubi nuabosi
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Opini Pos Kupang
Meaningful
Kabupaten Ende
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
| Opini: Hemat Pangkal Miskin- Nasihat Moral Yang Membungkam Realitas Kemiskinan NTT |
|
|---|
| Opini: Tambal Jalan, Co-Production dan Civic Partnership |
|
|---|
| Opini - Kosmologi Herakleitos dan Krisis Ekologi NTT: Membaca Perubahan, Menemukan Keseimbangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melania-Priska-02.jpg)