Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Komedi Emak-Emak Untuk Para Lelaki yang Belum Bosan Berperang

Para wanita berkumpul di sebuah kantor perbendaharaan negara dan memaksa agar anggaran perang dipotong. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI SOPHAN AJIE
Sophan Ajie 

Oleh: Sophan Ajie
Sedang studi doktoral bidang Kajian Seni dan Masyarakat, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sophan juga berkegiatan di sanggar seni Langit Inspirasi, Bandung.

POS-KUPANG.COM - Di abad ke-21, segala keputusan diambil dalam keputusan detik dengan menggunakan teknologi mukhtahir, tetapi pertimbangan keputusan tentang perang masih ditentukan oleh logika purba, yaitu maskulinitas, hegemoni dan ego kekuasaan. 

Dalam konteks perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada krisis energi dunia, pertimbangan perang masih sama dengan keputusan purba, yaitu dengan menggunakan bahasa ‘kehormatan’, ‘kekuatan’ atau ‘balasan’ yang dilakukan oleh para aktor laki-laki dibalik perang itu sendiri.

Dalam drama komedi Lysistrata, karya Aristophanes, seorang dramawan abad ke-5 dari Athena, menyindir absurditas perang melalui sesuatu yang sangat privat yaitu tubuh perempuan. 

Cerita pada masa perang Peloponnesia dipicu oleh kecurigaan terhadap ancaman keamanan Sparta terhadap hegemoni kekuasaan Athena pasca perang Persia. 

Baca juga: Iran Bantah Klaim Amerika Soal Negosiasi Akhiri Perang: Tidak Sekarang, TIdak Selamanya 

Setelah kemenangan Athena terhadap Persia, Athena bangkit dengan membentuk kekuatan maritim dengan membentuk Liga Delian, sebuah aliansi militer maritim beranggotakan lebih dari 150 negara-kota Yunani yang kemudian menjadi cikal bakal kekaisaran Athena. 

Bahkan beberapa anggotanya hingga ke sebagian Asia. Konflik memuncak ketika Athena melarang salah satu sekutu Sparta berdagang di pelabuhan  para anggota Liga Delian. Bagi Sparta, larangan tersebut adalah agresi Athena terhadap Sparta. 

Kelelahan perang yang berlangsung cukup lama dan merenggut nyawa, memisahkan keluarga, seorang perempuan bernama Lysistrata bersumpah untuk tidak berhubungan intim dengan pasangan mereka (suami atau kekasih) sampai perdamaian terwujud. 

Lysistrata kemudian membujuk seluruh perempuan dari kedua belah pihak yang bertikai untuk melakukan boikot terhadap perang. 

Para wanita berkumpul di sebuah kantor perbendaharaan negara dan memaksa agar anggaran perang dipotong. 

Konflik dalam drama Aristophanes ini memuncak saat para pria yang tidak menduga sikap para perempuan yang tidak mau keluar dari tempat itu, sebelum ada perjanjian damai dilakukan oleh kedua belah pihak. 

Para lelaki dari kedua belah pihak yang sedang beristirahat dari perang di musim dingin semakin terdesak oleh hasrat seksual, tetapi tidak mampu menggapai hasrat itu. 

Mereka frustrasi karena gagal merayu para pasangan mereka untuk pulang ke rumah masing-masing. 

Akhir drama Lysistrata adalah keberhasilan mutlak para perempuan untuk membawa perdamaian antara Athena dan Sparta yang diikuti dengan perayaan damai bersama yang meriah. 

Lysistrata telah berhasil menengahi negosisasi antara utusan Sparta dan Athena dan kedua belah pihak sepakat menandatangani perjanjian damai.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved